Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

(Komunitas Kebangsaan) Mereka Berusaha Menumbuhkan Elan (2 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Tumbuhnya komunitas kebangsaan dapat diartikan sebagai respon terhadap konsep nasionalisme yang kian pudar, terutama di kalangan generasi muda. Asian African Reading Club (AARC), misalnya, menumbuhkan semangat nasionalisme lewat pengkajian pemikiran para Bapak Bangsa. Komunitas yang berkumpul setiap hari Rabu di Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) tersebut mempunyai program bernama tadarus buku. Apakah gerangan tadarus buku? Misalnya, karya Soekarno yang berjudul Di Bawah Bendera Revolusi, dibaca secara bergantian -dengan masing-masing orang membaca sebanyak dua hingga tiga halaman-. Kegiatan tersebut tentu tidak dilakukan dalam satu kali pertemuan saja. Kegiatan dilanjutkan di Rabu-Rabu berikutnya, hingga akhirnya buku Di Bawah Bendera Revolusi dengan tebal ribuan halaman tersebut, selesai hingga tanda titik yang terakhir. “Tadarus buku Di Bawah Bendera Revolusi,” kata Adew Habtsa yang menjabat sebagai sekjen AARC, “memakan waktu hingga delapan bulan.” Agar lebih variatif, dalam setiap pertemuannya, diundang narasumber untuk memberikan informasi-informasi yang bisa memantik diskusi. 

Asian African Reading Club 

AARC berdiri pada tanggal 23 Agustus 2009. Buku-buku yang pernah ditadaruskan oleh AARC –selain Di Bawah Bendera Revolusi-, antara lain, Demokrasi Kita karya Moh. Hatta, Islam dan Sosialisme karya H.O.S. Tjokroaminoto, dan Renungan Indonesia karya Sutan Sjahrir. Pemikiran yang dibicarakan di forum tersebut, sebenarnya tidak terbatas pada para pemikir dari Indonesia saja, melainkan juga dari negara-negara di Asia dan Afrika secara umum. Misalnya, AARC pernah mengadakan kegiatan berupa tadarus dari buku Nelson Mandela yang berjudul Langkah Menuju Kebebasan: Surat-Surat dari Bawah Tanah. Meski tidak membicarakan tentang Indonesia, namun prinsip-prinsip yang dipegang oleh tokoh Afrika Selatan tersebut bisa direlevansikan dengan kehidupan kita: Perjuangan untuk bebas dari segala penindasan. Selain Mandela, pernah dibahas juga novel berjudul Korupsi dari penulis Maroko bernama Tahar Ben Jelloun. 

Di AARC ini, seolah menjadi tradisi, sebelum dan sesudah kegiatan tadarus, seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Harapannya, kata Adew, nilai-nilai kebangsaan tidak masuk hanya ke dalam pikiran, tapi juga merasuk secara emosional. Konsistensi AARC dalam menjalankan programnya ini mendapat angin segar, terutama dalam setahun terakhir. “Setahun terakhir ini, AARC semakin didatangi oleh banyak orang dari beragam latar belakang, mulai dari psikologi, filsafat, hubungan internasional, hingga sastra,” ujar Adew. Selain tadarus dan diskusi, Adew juga berharap bahwa ke depannya, AARC bisa melakukan napak tilas ke tempat-tempat yang jauh. Misalnya, ke rumah pengasingan Soekarno di Ende, Flores, atau tempat pembuangan Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir di Banda Naira, Maluku. 

Api Bandung 

Lain AARC, lain pula Api Bandung. Meski berbeda, namun Api Bandung, yang didirikan pada tahun 2013 ini, diakui sendiri oleh Lely Mei, koordinator, sebagai komunitas yang terinspirasi oleh AARC. “AARC adalah ruang pertemuan, pembelajaran, dan diskusi nasionalisme serta nilai-nilai budaya, sedangkan yang bergerak untuk menyebarkan nilai-nilai itu, adalah Api Bandung,” ujar Lely. Maka itu, Api Bandung lebih banyak melakukan semacam aktivisme. Misalnya, pada tanggal 21 Mei 2015, bertepatan dengan hari ulang tahun Ali Sastroamidjojo –mantan Perdana Menteri dan Ketua Umum Konperensi Asia Afrika tahun 1955- yang ke-112, Api Bandung mengadakan kegiatan Malam Renungan untuk Ali Sastroamidjojo. Kegiatan tersebut diisi dengan penyalaan 112 lilin, pengumpulan tanda tangan dukungan agar Ali Sastroamidjojo diangkat sebagai pahlawan nasional, serta pembacaan catatan kenangan dari keluarga. 

Meski terhitung belia, geliat Api Bandung ternyata cepat menarik perhatian. Museum Sri Baduga, misalnya, mempercayakan Api Bandung untuk menghidupkan kembali museum tersebut lewat berbagai kegiatan. Misalnya, dengan menginisiasi terbentuknya komunitas Laskar Inggit yang bertujuan untuk mengenalkan siapa Inggit Garnasih –istri kedua Soekarno- pada generasi muda. Api Bandung pun tengah mengusahakan agar Inggit bisa diangkat posisinya menjadi pahlawan nasional. 

Lely berprinsip bahwa Api Bandung harus berpegang pada empat nilai inti Spirit Bandung, yaitu niat baik, egaliter, kerjasama, dan perdamaian. Dengan bermodalkan nilai-nilai tersebut, ia berjanji akan terus memerangi pengaruh dari hantaman globalisasi yang berdampak kuat pada lemahnya akar nasionalisme pada generasi muda. 

Pada anak muda seperti Adew dan Lely, kita bisa berharap banyak. Mereka tidak sedang mencari uang dan popularitas, atau bahkan tidak butuh setitikpun pujian. Semua orang pada dasarnya punya panggilan dalam hati tentang harus kemana ia berjalan dalam hidupnya. Hanya saja, ada yang mengikuti, ada juga yang memilih untuk tutup telinga dan hanya mengikuti arus zaman saja. AARC dan Api Bandung merupakan perwujudan suatu idealisme dari orang-orang yang mau mendengarkan panggilan hatinya yang terdalam. Pada mereka kita berharap semangat kebangsaan tertanam kuat dalam diri para pemuda.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...