Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

(Komunitas Kebangsaan) Jalan Sunyi Para Penjual Buku (4 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Jika ada beberapa dari kita mempunyai ketertarikan untuk mengetahui lebih jauh hal-ikhwal pemikiran dari para Bapak Bangsa maupun pergerakan nasional Indonesia, tentu di zaman sekarang ini, internet menyediakan semuanya. Ketersediaan yang cukup lengkap di internet tersebut bisa jadi menyurutkan semangat sebagian orang untuk mencari sumber dari buku. Alasannya, tentu saja, selain lebih membutuhkan tempat untuk menyimpannya, buku-buku juga harus dibeli (bandingkan dengan informasi dari internet yang bisa didapat secara gratis). 

Maka itu, jika melihat ada sebagian kecil lapak yang masih mau berjualan buku-buku tua bertema kebangsaan, tentu kita bisa menyebut bahwa jalan yang mereka tempuh, adalah jalan yang sunyi. Salah satu penempuh jalan sunyi itu adalah Lawangbuku yang bertempat di Balubur Town Square. Lapak berukuran sekitar dua kali tiga meter milik Deni Rachman tersebut memang menitikberatkan penjualan buku-bukunya sebagian besar di wilayah sejarah Indonesia. Buku-buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi dan Sarinah karya Soekarno; Dari Penjara ke Penjara dan Madilog karya Tan Malaka, Kumpulan Karangan karya Moh. Hatta, buku seputar Konperensi Asia Afrika 1955, sejarah Bandung, dan lain-lain, tampak mendominasi, disamping buku-buku bertemakan lain seperti sastra dan filsafat (contohnya karya Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Hamka, dan Alan Paton). Sekali lagi muncul pertanyaan, di tengah-tengah kecenderungan masyarakat kontemporer yang lebih senang mencari informasi lewat internet, tidakkah menjual buku –terutama buku-buku tua seperti yang dijajakannya-, membuat LawangBuku menjadi terasing? 

Semangat Mendidik Masyarakat 

Menurut Deni, keputusannya menjual buku-buku bertema tidak populer tersebut, bukan hanya sekadar ingin terlihat unik atau berbeda. Ada alasan yang lebih bersifat edukatif. “Saya tidak yakin bahwa segala yang dicantumkan di internet, diambil dari sumber-sumber primer. Artinya, bisa saja hoax. Untuk mengimbangi informasi, saya mencoba untuk konsisten berjualan buku yang banyak diantaranya ditulis langsung oleh Bapak Bangsa itu sendiri,” ujar Deni. Harapannya, semakin banyak orang membaca dari sumber primer, semakin sedikit peredaran informasi yang bersifat palsu dan menyesatkan. 

Keberadaan toko buku yang menjual literatur bertema kebangsaan, lambat laun dapat membuat publik menjadi lebih dekat dengan tema-tema tersebut. Maklum, sebelumnya, buku-buku semacam itu mungkin hanya bisa ditemui di perpustakaan kota ataupun museum –yang secara umum lebih berjarak dengan publik, ketimbang toko buku umum-. Deni sendiri secara konkrit melakukan upaya “jemput bola” agar literatur kebangsaan ini semakin diminati. Misalnya, lewat aktivitasnya di Museum Konperensi Asia Afrika. Selain turut ambil bagian dalam pendirian kelompok diskusi Asian African Reading Club (AARC) di museum tersebut, Deni juga turut memasok buku-buku yang digunakan untuk diskusi. Misalnya, buku Renungan Indonesia (1946) karya Syahrazad (nama pena Sutan Syahrir) merupakan literatur yang pernah ambil bagian dalam komunitas AARC yang keanggotaannya terbuka untuk umum itu. Dengan berkontribusi secara maksimal sejak awal berdirinya AARC (tahun 2009) dan konsisten berjualan buku di lapak yang berlokasi cukup strategis di tengah Kota Bandung, Deni merasa optimis bahwa buku-buku bertema kebangsaan akan kian terjangkau oleh masyarakat secara luas. 

Populer lewat Jalur Online 

Mungkin tidak banyak juga diantara kita yang mengira, bahwa apa yang dilakukan Deni, di sisi lain, ternyata merupakan hal yang semakin hari, semakin digandrungi. Sebagai contoh, di media sosial seperti Facebook, bertebaran puluhan akun yang menjual buku-buku tua bertema kebangsaan secara online. Akun-akun tersebut menjanjikan proses transaksi yang cepat dan mudah. Setelah pembayaran melalui transfer ke nomor rekening tertentu, beberapa hari kemudian, buku yang kita pesan sudah sampai di rumah. Artinya, kita bisa mendapatkan buku tanpa mesti repot meluangkan waktu dan tenaga untuk pergi ke toko buku. 

Namun tidak semua hal harus berubah seiring waktu. Ada sikap-sikap dasariah, yang barangkali terlihat konvensional, tapi sebenarnya masih penting. Deni misalnya, meski ikut menjajakan buku via online, ia merasa tetap penting untuk berjualan buku-buku tua di lapak offline. Mengapa? “Mereka yang mencari buku-buku tua, biasanya merupakan pembaca kritis dan serius. Mereka bukan hanya mau mencari dan membeli, tapi ingin juga mendapatkan informasi tambahan mengenai buku yang akan dibaca,” kata Deni. Itu sebabnya, lapak offline tetap diperlukan. Pertama, untuk mereka yang ingin memastikan bahwa toko buku tersebut benar-benar ada –karena mungkin saja, penjajaan yang dilakukan oleh akun- di media sosial malah berujung pada penipuan akibat tidak adanya pertemuan tatap muka yang lebih membangun sisi trust-. Kedua, lapak offline memberikan kesempatan bagi pembeli, untuk berbincang langsung dengan penjual, demi memperoleh informasi tambahan mengenai buku yang dijajakan. 

Tentunya, pengalaman Deni dalam berkomunitas bersama AARC membuat ia punya pengetahuan tambahan mengenai buku-buku yang dijajakannya. Katanya, selalu ada poin plus bagi penjual buku yang juga merupakan seorang pembaca buku. Kenyataannya, untuk memaksa orang-orang agar membaca, kadang tidak bisa hanya dengan berjualan dan berpromosi saja. Harus ada semacam perjuangan untuk menyadarkan pentingnya literasi bagi masyarakat. Perjuangan tersebut, seperti yang dilakukan oleh Deni, bisa melalui pendirian komunitas baca yang secara rutin menjalankan agenda diskusi buku. Kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah kerja untuk keabadian. Tapi bagi para pejuang literasi, mungkin mereka berpikir, bahwa menyadarkan orang untuk tetap membaca, adalah juga kerja untuk keabadian.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...