Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Dwilogi Novel Padang Bulan: Sastra Motivasi dan Tampak Keren


Setelah tandas membaca Taiko yang tebalnya 1140 halaman, saya coba cari novel yang sekiranya tidak terlalu berat untuk diselesaikan. Akhirnya saya temukan novel ini: Dwilogi Padang Bulan karya penulis Andrea Hirata yang naik daun oleh sebab Laskar Pelangi-nya. Saya belum membaca novel dia yang manapun. Ini adalah yang perdana.

Hanya dua hari saya perlukan untuk menyelesaikan kedua buku yang terkemas dalam dwilogi Padang Bulan yaitu Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Tidak ada kerut kening atau membulak-balik halaman ke belakang untuk menyusun kepingan memori karena tertumpuk alur atau penokohan yang kompleks. Teknik bercerita Andrea sangat mengalir, ringan, dan tak jarang membuat saya menyunggingkan senyuman. Senyum ini bisa disebabkan oleh hal yang memang mengandung kejenakaan, bisa juga karena saya tak habis pikir: Mengapa bisa tulisan semacam ini jadi seperti apa yang dicapkan di sampul depannya: Mega Bestseller -Terjual 25.000 eksemplar dalam 2 minggu. Pertanyaan kemudian muncul: Orang banyak yang tidak paham sastra, atau malah saya?

Tentu saja saya punya sejumlah argumen mengapa novel Andrea Hirata ini tidak pantas disejajarkan dengan penulis Indonesia lain sekelas Ayu Utami atau Nukila Amal misalnya. Pertama, adalah bagaimana Andrea begitu gatal ingin memamerkan sejumlah referensi "tampak keren" agar dirinya terlihat mempunyai wawasan yang melimpah. Berikut contoh uraiannya:

1) Kini ia duduk di depanku, sesosok perempuan perkasa, dengan lengan lebih besar dari lenganku. Dua orang petinju kulihat telah menguasai perempuan itu: Sugar Ray Leonard di lehernya, Thomas Hearns di bahunya. Kakinya kukuh seperti rusa Thomson.

2) Tujuh pionnya yang tersisa menjelma menjadi tujuh samurai: Kambei Shimada, Katsushiro, Kyuzo, Gorobei, Shichiroji, Heihachi, dan Kikuchiyo. 
Ketujuh samurai berjibaku secara kesatria walau kekuatan tak berimbang. Shichiroji tewas. Sisa enam pasukan Maryamah menjelma menjadi The Braveheart -WilliamWalace- dan lima pembebas Skotlandia sampai William Wallace mangkat. 
Lima warrior Skotlandia yang tersisa langsung berubah menjadi Power Rangers. Mereka berperang tak kenal takut. Menteri Syamsuri Abidin yang keji menghabisi Ranger Pink. Penonton berulang kali mengejek Maryamah agar meletakkan pedangnya di tanah, namun perempuan itu bertekad untuk membela kehormatannya sampai titik darah penghabisan.
Empat pion terakhir Maryamah mengubah dirinya menjadi Kura-Kura Ninja. Pertempuran sengit meletus sampai kura-kura Donatello mengembuskan napas yang terakhir. Tiga prajurit tersisa dengan cepat menjelma menjadi The Three Musketeers. Dalam sebuah penyergapan, D'Artagnan, salah satu dari Musketeers menjadi almarhum lantaran dibunuh luncus Syamsuri Abidin.

Dari segelintir paragraf yang diuraikan di atas, simak bagaimana penulis begitu ingin memperlihatkan keluasan wawasannya akan budaya pop dan pengetahuan umum. Hal tersebut tidak berlangsung dalam sedikit halaman, melainkan mendominasi seisi buku. Mungkin bagi sebagian pembaca, hal ini amat terpuji. Namun bagi pembaca yang sudah biasa membaca novel-novel berbobot yang ditulis oleh penulis berwawasan betul-betul luas, mungkin akan merasa upayanya ini justru menunjukkan kekurangan wawasan -ketidakpercayadirian akut sehingga harus mencomot istilah-istilah yang "tampak keren"-.

Pertanyaan berikutnya adalah: Mengapa harus dijadikan dwilogi? Jujur, saya baru mendengar istilah dwilogi. Yang lebih umum barangkali trilogi ataupun -belakangan- tetralogi. Jika mau dibagi berdasarkan tema ataupun penokohan, baik Padang Bulan maupun Cinta di Dalam Gelas bisa dibilang mirip-mirip. Keduanya masih berpusat pada dua orang tokoh utama yaitu Ikal dan Maryamah. Bahasa gampangnya: Buku ini tidak perlu diberi label dwilogi, atau malah tak perlu dibagi dalam dua buku. Satu buku saja sudah cukup. Kecurigaan saya, diberi istilah dwilogi, lagi-lagi, demi teknik pemasaran yang berbasiskan istilah-istilah "tampak keren".

Terakhir, soal makna. Novel ini -salah, dwilogi novel ini- barangkali bertemakan sesuatu yang sedang digandrungi oleh masyarakat kita. Temanya sangat memotivasi: Perjuangan Maryamah yang kehilangan ayah sejak kecil, untuk kemudian berjuang mencari pekerjaan, sampai akhirnya menjadi perempuan pendulang timah pertama di dunia. Belum habis sampai situ, Maryamah melanjutkan perjuangannya dengan mengalahkan mantan suaminya, Matarom, di pertandingan catur. Yang mengharukan tentu saja sisi dimana Maryamah yang tadinya tidak bisa bermain catur, menjadi bisa oleh suatu perjuangan yang keras dan menjadi pesan cukup jelas: "Kita semua bisa jika semangat dan bersungguh-sungguh!". 

Ikal pun tak kalah menunjukkan perjuangannya -saya curiga Ikal ini adalah Ikal yang sama dengan yang ada di Laskar Pelangi. Ikal adalah panggilan lain dari sang penulis, Andrea Hirata. Berarti, buku-buku Andrea adalah selalu menceritakan dirinya yang penuh motivasi-. Ia mengejar cintanya, A Ling, dengan tekad yang kuat meski dirinya serba berkekurangan dibanding sang rival, Zinar. Di buku Cinta di Dalam Gelas, Ikal menjadi penjaga warung kopi, dimana ia diam-diam mencatat segala gerak-gerik para peminum kopi sehingga karakternya dan mood-nya bisa ditelaah satu persatu. Bagian pembukuan gerak-gerik peminum kopi ini, bagi saya, cukup menyelamatkan buku ini dari tuduhan dangkal total. Meski ditulis dengan gaya ringan dan jenaka, namun Andrea sepertinya melakukan survey yang cukup untuk ini -nah, kita bisa tahu bahwa tulisan ringan pun bisa kelihatan pintar walaupun tidak ditonjol-tonjolkan-. 

Buku ini menegaskan satu mitos yang diungkap oleh kawan saya, Pirhot Nababan, "Penulis Indonesia rata-rata memforsir diri untuk buku pertama. Setelah itu ia kehabisan tenaga." Betul, dwilogi novel Padang Bulan adalah contoh betapa Andrea kehabisan inspirasi sehabis dimabuk kesuksesan tetralogi Laskar Pelangi. Ia berupaya membubuhkan disana-sini tambahan topik-topik kecil agar novelnya tampak tebal. Namun itu tidak membuat  novel tersebut menjadi punya bobot. 

Comments

  1. Tulisan yg berisi ulasan terburuk yang pernah saya baca; dangkal dan nyinyir. Silahkan terbitkan satu buku tulisan anda terlebih dahulu -tak usah "mega bestseller" pun tak apa- biar ada sedikit kepantasan yg bisa dilihat dari yg biasa melahap buku2 'berat' dan tebal "1140" halaman seperti anda, dan biar tak ada juga tuduhan menulis tulisan diatas sebagai yg hanya ingin "tampak keren" saja..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...