Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Pernahkah melihat, dalam sebuah konser musik klasik, pianis ditemani seseorang di sebelahnya? Orang tersebut bertugas membalikkan halaman pada partitur si pianis. Kenapa? Jawabannya mudah, karena si pianis tentu saja sibuk dengan kedua tangannya yang menari di atas tuts.
Orang tersebut dilabeli sebagai page turner. Sebuah pekerjaan yang pernah saya tertawa geli melihatnya, karena dalam benak saya kerap tersirat pertanyaan konyol, "Apa yang terjadi jika dua halaman sekaligus dibalik?" atau "Apa yang terjadi jika halamannya terlipat?" Pokoknya saya menuduh profesi page turner ini sebagai lelucon saja, dan menunjukkan eksklusivitas piano (karena hanya piano yang menggunakan page turner, instrumen lain tidak. Walaupun kita tahu di semua instrumen, membalikkan halaman adalah juga pekerjaan sulit).
Rupanya saya terkena apa yang disebut anekdot Sunda sebagai dipoyok dilebok, yang diejek ia makan sendiri. Tanggal 3 Desember di Surabaya, saya ditunjuk jadi page turner. Pianisnya, Ibu Ratna Sari Tjiptorahardjo yang memang kebetulan saya sedang mengurusi konsernya di tiga kota (Yogya, Bandung, Surabaya) bersama klarinetis Urs Bruegger. Memang hanya kami bertiga yang pergi ke Surabaya, sehingga tidak ada jalan lain untuk menunjuk saya menjadi page turner. Di dua konser sebelumnya di Yogya dan Bandung, ada Ibu Diah, dosen piano UPI yang menjadi pembalik halaman.
Dengan tegang saya duduk di samping Ibu Ratna. Pengetahuan saya membaca partitur yang sudah dipelajari sejak belasan tahun lalu dikerahkan. Perasaan saya? Tegang. Sangat tegang. Terutama oleh sebab saya sering menertawakan pekerjaan ini. Musik berjalan, konsentrasi ditajamkan. Saya ikut saran Urs, bahwa yang dibaca jangan part pianonya, tapi part klarinetnya, lebih mudah karena notasi tidak serumit piano. Mata saya ikut bergerak bersama toge-toge notasi klarinet yang saya amat kagum karena Urs selalu bisa memainkan not sepertigadua tanpa masalah. Empat bar sebelum halaman berakhir saya selalu berdiri dan memegangi ujung halaman menantikan Bu Ratna menganggukkan kepala tanda page mesti segera dibuka dalam waktu sepersekian detik. Hasilnya? Alhamdulillah, kata Bu Ratna saya cuma satu kali telat. Lainnya saya berhasil akurat.
Perasaan saya? Luar biasa! Saya punya kesimpulan baru yang bagi saya menarik: Dari dulu saya berusaha mencari-cari dimana posisi terbaik untuk mengapresiasi musik klasik, dan akhirnya saya temukan bahwa posisi terbaik adalah duduk sebagai page turner. Disitu saya membaca, mendengar, berinteraksi, dan menjadi bagian dari tensi pertunjukkan. Sungguh sebuah VIP, sungguh sebuah posisi yang sempurna. Saya menjadi sadar betul kedahsyatan musikalitas Schumann, Poulenc ataupun Verdi. Bagaimana mereka menuliskan, dan sekaligus bagaimana para pemain menginterpretasi karya-karyanya. Sebuah berkah nikmat yang luar biasa, menjadi seorang pembalik halaman!
Orang tersebut dilabeli sebagai page turner. Sebuah pekerjaan yang pernah saya tertawa geli melihatnya, karena dalam benak saya kerap tersirat pertanyaan konyol, "Apa yang terjadi jika dua halaman sekaligus dibalik?" atau "Apa yang terjadi jika halamannya terlipat?" Pokoknya saya menuduh profesi page turner ini sebagai lelucon saja, dan menunjukkan eksklusivitas piano (karena hanya piano yang menggunakan page turner, instrumen lain tidak. Walaupun kita tahu di semua instrumen, membalikkan halaman adalah juga pekerjaan sulit).
Rupanya saya terkena apa yang disebut anekdot Sunda sebagai dipoyok dilebok, yang diejek ia makan sendiri. Tanggal 3 Desember di Surabaya, saya ditunjuk jadi page turner. Pianisnya, Ibu Ratna Sari Tjiptorahardjo yang memang kebetulan saya sedang mengurusi konsernya di tiga kota (Yogya, Bandung, Surabaya) bersama klarinetis Urs Bruegger. Memang hanya kami bertiga yang pergi ke Surabaya, sehingga tidak ada jalan lain untuk menunjuk saya menjadi page turner. Di dua konser sebelumnya di Yogya dan Bandung, ada Ibu Diah, dosen piano UPI yang menjadi pembalik halaman.
Dengan tegang saya duduk di samping Ibu Ratna. Pengetahuan saya membaca partitur yang sudah dipelajari sejak belasan tahun lalu dikerahkan. Perasaan saya? Tegang. Sangat tegang. Terutama oleh sebab saya sering menertawakan pekerjaan ini. Musik berjalan, konsentrasi ditajamkan. Saya ikut saran Urs, bahwa yang dibaca jangan part pianonya, tapi part klarinetnya, lebih mudah karena notasi tidak serumit piano. Mata saya ikut bergerak bersama toge-toge notasi klarinet yang saya amat kagum karena Urs selalu bisa memainkan not sepertigadua tanpa masalah. Empat bar sebelum halaman berakhir saya selalu berdiri dan memegangi ujung halaman menantikan Bu Ratna menganggukkan kepala tanda page mesti segera dibuka dalam waktu sepersekian detik. Hasilnya? Alhamdulillah, kata Bu Ratna saya cuma satu kali telat. Lainnya saya berhasil akurat.
Perasaan saya? Luar biasa! Saya punya kesimpulan baru yang bagi saya menarik: Dari dulu saya berusaha mencari-cari dimana posisi terbaik untuk mengapresiasi musik klasik, dan akhirnya saya temukan bahwa posisi terbaik adalah duduk sebagai page turner. Disitu saya membaca, mendengar, berinteraksi, dan menjadi bagian dari tensi pertunjukkan. Sungguh sebuah VIP, sungguh sebuah posisi yang sempurna. Saya menjadi sadar betul kedahsyatan musikalitas Schumann, Poulenc ataupun Verdi. Bagaimana mereka menuliskan, dan sekaligus bagaimana para pemain menginterpretasi karya-karyanya. Sebuah berkah nikmat yang luar biasa, menjadi seorang pembalik halaman!
.png)
Keren. Gue malah baru liat kalau ada page turner. Terus udah gitu, kayaknya modalnya gak sekedar bisa balikin halaman doang. Keren.
ReplyDelete