Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
Barangsiapa yang sudah pernah menonton film Life is Beautiful (La vita è bella) keluaran tahun 1997, maka katakanlah apakah itu film tragedi atau komedi?
Film karya Roberto Benigni berlatarbelakang holocaust tersebut berkisah tentang seorang pria Yahudi bernama Guido Orefice (diperankan oleh Benigni sendiri) yang menikah dengan wanita non-Yahudi bernama Dora (diperankan oleh istri Benigni, Nicoletta Braschi). Beberapa tahun kemudian setelah mereka mempunyai anak berumur empat bernama Giosuè, PD II dimulai dan orang-orang Yahudi digiring ke kamp konsentrasi. Guido dan Giosuè digiring sedangkan Dora tidak karena ia bukan Yahudi. Namun Dora memohon diri untuk diikutsertakan ke kamp konsentrasi.
Di kamp konsentrasi tersebut, Guido mencoba sekuat tenaga agar anaknya tidak tahu bahwa apa yang sedang dialaminya ini adalah sesuatu yang pedih. Holocaust sebagai salah satu lapang pembantaian massal terbesar dalam sejarah disulap Guido menjadi "game untuk mendapatkan seribu poin dengan hadiah tank" untuk Giosuè. Giosuè, dalam epilog film tersebut, baru menyadari di masa dewasanya bahwa holocaust bukanlah mainan seperti ayahnya bilang, tapi kehebatan Guido dalam berpura-puralah yang membuat Giosuè yakin bahwa kamp konsentrasi pada masa itu memang hanyalah permainan.
Kembali ke pertanyaan di atas, apakah film ini tragedi atau komedi? Karena unik, bagian mula-mula film Life is Beautiful seperti akan menggiring temanya ke arah komedi, meskipun tengah hingga belakang mulai menguras air mata.
Atau kita ubah pertanyaannya, apakah perbedaan tragedi dan komedi?
Seorang filsuf Yunani yang saya lupa namanya mengatakan, "Pada kedalaman tertentu maka akan ditemukan dua hal saja dalam kehidupan, yaitu tragedi dan komedi." Guido Orefice adalah orangnya, yang mampu melihat holocaust bukan semata-mata tragedi, tapi juga komedi. Ia memerankan keduanya, tokoh tragedi maupun tokoh komedi. Jangan-jangan tragedi dan komedi bukanlah suatu kontradiksi, bukan suatu prinsip identitas yang rumusnya "A adalah A maka itu bukan B". Tragedi adalah sekaligus komedi dan komedi adalah sekaligus tragedi. Seperti terkadang jika kita tertimpa sial yang amat pahit, pada titik tertentu kita tertawa dan berkata, "Ah, hidup itu lucu ya." Atau pada saat kita tertawa "ngakak hingga guling-guling", alangkah mudah ditemukan bahwa tertawa tersebut juga adalah bernapaskan kegetiran. Gibran bersabda dalam Sang Nabi, "Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu sendiri bertamu di meja makanmu, ingatlah selalu bahwa yang lain sedang ternyenyak di pembaringanmu."
Maka itu kita tidak pernah merasa bertentangan pada dua orang dimana yang satu bilang "Hidup itu pahit" sedang yang satu lagi "Hidup itu indah". Karena keduanya sama benar, hidup memang satu kesatuan harmoni antara tragedi dan komedi.
Film karya Roberto Benigni berlatarbelakang holocaust tersebut berkisah tentang seorang pria Yahudi bernama Guido Orefice (diperankan oleh Benigni sendiri) yang menikah dengan wanita non-Yahudi bernama Dora (diperankan oleh istri Benigni, Nicoletta Braschi). Beberapa tahun kemudian setelah mereka mempunyai anak berumur empat bernama Giosuè, PD II dimulai dan orang-orang Yahudi digiring ke kamp konsentrasi. Guido dan Giosuè digiring sedangkan Dora tidak karena ia bukan Yahudi. Namun Dora memohon diri untuk diikutsertakan ke kamp konsentrasi.
Di kamp konsentrasi tersebut, Guido mencoba sekuat tenaga agar anaknya tidak tahu bahwa apa yang sedang dialaminya ini adalah sesuatu yang pedih. Holocaust sebagai salah satu lapang pembantaian massal terbesar dalam sejarah disulap Guido menjadi "game untuk mendapatkan seribu poin dengan hadiah tank" untuk Giosuè. Giosuè, dalam epilog film tersebut, baru menyadari di masa dewasanya bahwa holocaust bukanlah mainan seperti ayahnya bilang, tapi kehebatan Guido dalam berpura-puralah yang membuat Giosuè yakin bahwa kamp konsentrasi pada masa itu memang hanyalah permainan.
Kembali ke pertanyaan di atas, apakah film ini tragedi atau komedi? Karena unik, bagian mula-mula film Life is Beautiful seperti akan menggiring temanya ke arah komedi, meskipun tengah hingga belakang mulai menguras air mata.
Atau kita ubah pertanyaannya, apakah perbedaan tragedi dan komedi?
Seorang filsuf Yunani yang saya lupa namanya mengatakan, "Pada kedalaman tertentu maka akan ditemukan dua hal saja dalam kehidupan, yaitu tragedi dan komedi." Guido Orefice adalah orangnya, yang mampu melihat holocaust bukan semata-mata tragedi, tapi juga komedi. Ia memerankan keduanya, tokoh tragedi maupun tokoh komedi. Jangan-jangan tragedi dan komedi bukanlah suatu kontradiksi, bukan suatu prinsip identitas yang rumusnya "A adalah A maka itu bukan B". Tragedi adalah sekaligus komedi dan komedi adalah sekaligus tragedi. Seperti terkadang jika kita tertimpa sial yang amat pahit, pada titik tertentu kita tertawa dan berkata, "Ah, hidup itu lucu ya." Atau pada saat kita tertawa "ngakak hingga guling-guling", alangkah mudah ditemukan bahwa tertawa tersebut juga adalah bernapaskan kegetiran. Gibran bersabda dalam Sang Nabi, "Bersama-sama keduanya datang, dan bila yang satu sendiri bertamu di meja makanmu, ingatlah selalu bahwa yang lain sedang ternyenyak di pembaringanmu."
Maka itu kita tidak pernah merasa bertentangan pada dua orang dimana yang satu bilang "Hidup itu pahit" sedang yang satu lagi "Hidup itu indah". Karena keduanya sama benar, hidup memang satu kesatuan harmoni antara tragedi dan komedi.
.png)
Comments
Post a Comment