Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kekuasaan di Sekitar Kita



Tadi, setelah menonton ulang The Matrix, saya melakukan beberapa perawatan pra-nikah yang wajib dijalankan oleh sebab disuruh oleh otoritas bernama orangtua. Dalam The Matrix saya menemukan adanya konsep "kekuasaan di sekitar kita", yang sesungguhnya membuat konsep kehendak bebas manusia menjadi sia-sia. Tadinya saya tidak paham-paham amat, sebelum akhirnya terjawab langsung lewat perawatan pra-nikah tersebut.

Perawatan yang saya lakukan adalah membersihkan wajah atau kita sebut saja secara trendi dengan facial. Sebetulnya saya tidak suka, karena ternyata sakit bukan main. Saya anggap para facialist adalah orang masokis: mereka menikmati kesakitan. Namun sebagai budak lembaga bernama pernikahan, saya taat saja demi kelancaran bersama.

Setelah konsultasi dengan dokter, apa yang terjadi berikutnya adalah vonis yang menyebutkan bahwa wajah saya harus dilaser. Saya ditidurkan di suatu ruangan, diberi kacamata anti radiasi, ditutup kupingnya, dan sayup-sayup terdengar suara dokter pria yang lembut bagaikan Morpheus berkata pada Neo, "Kamu akan mengetahui kebenaran setelah ini." Yang terjadi kemudian adalah bunyi mesin aneh yang membuat saya seperti berada dalam kapal ruang angkasa. Laser ditembakkan ke wajah, rasanya seperti dicubit, dan bau hangus menyengat dimana-mana. Di sela-sela kegiatan absurd itu, dokter selalu berkata halus, "Tidak apa-apa, tidak apa-apa."

Setelah itu semua saya kembali ke jalanan untuk pulang dan merenungkan apa yang terjadi. Sungguh ini adalah bentuk konspirasi kekuasaan maha rapi yang membuat manusia seolah berkehendak bebas padahal tidak:

  • Media menciptakan citra wajah yang baik adalah yang mulus tanpa jerawat dan flek. Dengan demikian perusahaan perawatan wajah tentu saja jadi berkembang biak. Adapun jika media berpendapat bahwa, "Wajah yang bagus adalah yang berjerawat", maka kita tidak akan menemukan semisal Natasha Skincare bermunculan. Atau bisa saja slogan Natasha Skincare akan menjadi, "Menumbuhkan jerawat di wajahmu sebanyak mungkin".
  • Dokter adalah instrumen kekuasaan sains yang ampuh. Sebelum saya dirawat, ada dokter khusus dari pihak perusahaan yang mengecek wajah saya. Sebelumnya tentu saja ada asumsi bahwa dokter itu akan berkata yang benar. Kekuasaan sains menunjukkan bahwa, "Dokter selalu benar". Bahkan jika ia berkata, "Tenggelamkan wajahmu ke dalam cuka", maka saya yakin pasien-pasien akan percaya. Hanya saja ia berkata, "Wajahmu harus dilaser", dan saya sungguh percaya bahwa wajah saya harus dilaser meskipun terdengar tidak masuk akal.
  • Ketika saya dihadapkan pada kebingungan, saya kontak teman perempuan yang memang berpengalaman dalam facial. Katanya, "Jangan khawatir ya, memang begitu, beauty is pain!" Saya tahu beauty is pain bukanlah tagline ciptaan teman saya itu. Tapi ciptaan media juga.
  • Teman saya yang lain mengatakan, "Kamu betul-betul gambaran pasangan modern. Istri di kantor, suami perawatan wajah." Oh, God, saya yakin ia mendapatkan gambaran itu juga dari media!
  • Mengadu pada orangtua tidaklah mungkin, karena beliaulah yang menciptakan imej, "Orang nikah itu ya mesti bersih mukanya." Ini lain lagi, ini kekuasaan kultural, meski tidak kultural-kultural amat. Yang pasti yang satu ini ultimate power.
  • Saya mencari dalam agama, tidak ada sunnah nabi yang menyuruh facial menjelang pernikahan. Tapi saya sudah tahu jawaban orang-orang jika saya berdebat dengan ini, "Tentu saja nabi tidak mencontohkan, karena jaman nabi kan belum ada Natasha Skincare."

Nalar saya menyerah karena ketiadaan dukungan. Saya akhirnya terpaksa berpendapat bahwa, "This is the truth!" Bahwa kekuasaan di sekitar kita tidak memberi peluang bagi nalar untuk merdeka. Bahwa apa yang kita sebut sebagai kehendak bebas, sebetulnya sudah diatur sedemikian halus sehingga masih tetap dalam koridor kekuasaan tertentu. Hasrat kita yang merdeka dan berbahaya, dikelola menjadi jinak bagai merpati.

Saya bisa mengatakan bahwa kita berada pada suatu era yang "sulit untuk percaya apapun karena segala apapun bisa sangat dipercaya". Sulit untuk mempercayai apakah kacang kedelai baik untuk kesehatan atau tidak karena di rubrik kesehatan sendiri minggu ini bicara soal faedah kacang kedelai, minggu depannya bicara soal bahaya kacang kedelai. Kita terpaksa percaya semua hanya karena rubrik itu ada di dalam perusahaan media besar bernama Tempo misalnya. Dunia hari ini tidak punya tempat untuk alasan bernama "kekurangan informasi". Dengan informasi bak air bah, yang mungkin hari ini adalah "kekeliruan informasi".

Apa kemudian yang harus kita pegang? Saya tidak punya solusi, bahkan Foucault pun hanya bisa menghancurkan dan tidak membangun apa-apa. Solusi saya hanya memberikan kutipan Nietzsche yang makin hari makin harus kita amini, "Tidak ada kebenaran, yang ada kekuasaan."


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...