Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Suatu Pagi di STT Tekstil


Jumat pagi, tanggal 19 itu, ada acara yang tidak biasa. Acara yang membuat rutinitas harian sukses dialihkan. Adalah hari pertama saya mengajar di STT Tekstil. Letaknya juga menyenangkan. Selain tak terlalu jauh dari rumah, jalurnya juga berbeda dari biasanya. Sekarang lebih ke arah Timur Bandung, setelah seringkali berkutat dengan wilayah Barat Utara Selatan. Jadinya, memang hari itu saya sangat bersemangat. Suatu momen yang berbeda dalam kubangan rutinitas yang menjemukan, bagaikan lembar berwarna dalam bundelan komik hitam putih.

Oh iya, di STT Tekstil tersebut, yang saya ajari bukan tetek bengek soal tekstil. Tapi kenyataan bahwa mereka punya unit kemahasiswaan yang mengurusi gitar klasik dan beranggotakan lebih dari tiga puluh orang, yang Alhamdulillah, mempercayai saya untuk melatihnya. Ini, bagi saya, cukup mencengangkan. Bayangkan, sekolah yang berbasiskan perindustrian, punya minat terhadap gitar klasik yang barangkali paling tinggi ketimbang sekolah manapun di Bandung, bahkan sekolah yang punya jurusan musik sekalipun. Ini jelas tantangan yang menggiurkan bagi saya pribadi. Selain mesti berbagi pada mahasiswa yang barangkali lebih akrab dengan bunyi mesin ketimbang musik, saya juga diberi kesempatan untuk mempertanggungjawabkan ilmu yang sudah saya dapat selama bergelut di dunia gitar klasik. Ilmu yang saya percayai, hanya berarti kala dibagi. Kala bermanfaat bagi orang lain.

Dan tibalah saya di pagi itu, pukul sembilan. Belum ada satupun orang yang datang, dan saya gunakan kesempatan itu untuk berkeliling melihat area kampus. Ternyata kampus yang cukup besar, dan fasilitasnya pun oke. Ia berada di bawah Departemen Perindustrian. Lalu tak lama kemudian, datanglah para pengurus unit gitar klasik, namanya Widya dan Iskan. Keduanya mengatakan bahwa kemungkinan orang-orang akan terlambat, karena ada miskomunikasi. Ada yang bilang jam sembilan, ada yang tahunya jam sepuluh.

Akhirnya, pelatihan pun dimulai. Dimulai, maksudnya, setelah cukup banyak orang yang datang. Banyak itu, sekitar dua puluh orang. Saya memperkenalkan diri, meminta para pengikut unit memperkenalkan dirinya juga sembari menceritakan motivasinya ikut unit ini, serta akhirnya saya memainkan dua buah lagu sebagai "perkenalan" lebih lanjut. Pagi itu, saya berbagi sedikit soal pengetahuan membaca not, membaca ketukan, serta tangga nada mayor. Memang, sebagian besar dari mereka belum terlalu fasih soal dasar-dasar gitar klasik. Tapi, sebetulnya, bukan itu yang jadi sorotan saya. Yang membuat saya bahagia, haru, dan mencintai kegiatan ini, adalah kenyataan bahwa saya berhadapan dengan puluhan manusia yang sedang sangat bersemangat. Saya tidak setuju dengan Trie Utami di AFI dulu, bahwa, "Penonton tak peduli dengan alasan apapun, yang penting nyanyi kamu bagus." Untuk dunia hiburan, bolehlah slogan itu diangkat. Tapi, saya berani bilang di hadapan mereka (oh ya, unit gitar itu bernama Silhouette), bahwa, "Yang penting, adalah alasan kamu disini, semangat serta kerja kerasnya. Permainan? Itu adalah poin tambahan."



Maka, ketahuilah, wahai anak-anak Silhouette, bahwa saya tidak melakukan ini semua dalam rangka menyebarkan virus musik klasik seolah-olah saya ini antek-antek Barat kafir seperti yang FPI dengungkan. Sederhana saja alasannya: Bahwa saya ini telah banyak dibukakan jalur-jalur tempat saya berpijak di bumi ini, oleh musik klasik. Dan ini salah satu cara untuk membalas budi atas segala kebaikan yang musik klasik sudah berikan bagi saya.

Comments

  1. Bung, dah keliling berbagi ilmu rupanya. hehe.. Oia, blog gw pindah rumah. SIlahkan mampir yak!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...