Skip to main content

Posts

Sørloth

Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya.  Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...

Terlalu Berduka Sehingga Sukar untuk Menuliskannya

Sebulan lalu, Papap wafat. Hanya tepat beberapa jam setelah saya menuliskan tulisan berjudul Selisih . Entah pertanda atau bukan, tapi saya menuliskan Selisih dalam keadaan galau, seperti membayangkan kematian dan imajinasi historis yang timbul daripadanya. Peran Papap bagi saya terlalu mendalam, sehingga menuliskan hal-hal seperti ini sangat saya hindari supaya tidak terlampau baper, membuat hari-hari menjadi gloomy . Namun rasanya perlu dituliskan juga, supaya berjarak, supaya renungan-renungan tentang Papap menjadi teks, menjadi suatu monumen yang bisa saya baca lagi, orang lain juga baca, dan menjadi perasaan yang mungkin relate bagi lebih banyak orang.  Supaya tidak terlalu sedih, untuk sementara ini saya hanya akan menuliskan bagian pengalaman saya bersama Papap saat awal-awal belajar filsafat. Waktu itu sekitar tahun 2006 atau 2007, saya mulai rajin mengikuti kelas Extension Course Filsafat UNPAR yang sering diisi oleh Prof. Bambang Sugiharto. Setiap pulang dari sesi kelas ...

Struktur - Kritik

Bersikap kritis tentu ada mudahnya. Kadang tinggal bersuara, mencari celah pada sisi mana suatu hal dianggap kurang memuaskan atau kurang adil, lalu serang terus menerus celah tersebut. Namun seringkali mengritik tidak hanya sekadar melakukan usaha pembongkaran, tetapi juga memahami dampak-dampak dari upaya tersebut. Dampak idealnya tentu respons berupa tindakan keadilan, entah itu muncul sebagai inisiatif dari pihak yang dikritik, atau bisa juga sebagai konsekuensi dari tekanan lebih banyak pihak yang teremansipasikan (oleh kritik tersebut). Sebagai contoh, jika saya mengritik pembangunan Starbucks karena dianggap akan menimbulkan kemacetan, maka bisa jadi pihak Starbucks tidak akan meneruskan pembangunan karena sadar bahwa memang keberadaannya akan menimbulkan kemacetan atau lewat jalur lain: kritik saya membangkitkan kesadaran dari lebih banyak orang sehingga banyak orang kemudian ikut berdemo menentang pembangunan Starbucks. Starbucks akhirnya mengurungkan pembangunan bukan karena ...

Nulis dan Kafe

Entah ini untuk keberapa kali saya menulis tentang kafe di blog. Yang pasti bukan pertama kalinya. Makin kemari saya merasa ada fetish tersendiri terhadap kafe. Melihat ada kafe yang menarik dari luar, langsung saya sempatkan mampir untuk sekadar memesan segelas kopi dan menulis sesuatu barang sejenak. Kafe seperti apa persisnya yang saya sukai, makin kemari makin random . Pernah saya begitu suka dengan kafe-kafe kekinian yang serba cozy, pernah juga saya suka kafe-kafe dengan gaya Pecinan semacam Kopi Purnama jika di Bandung atau pernah saya begitu menggilai nongkrong di Dunkin' Donuts.  Pada dasarnya saya bukan penikmat kopi. Saya bahkan tidak tahu beda antara Cappuccino dan Caffè latte. Saya pesan kopi ya pesan kopi. Hal yang saya sukai dari nongkrong lebih pada suasana dan "ritual"-nya. Menulis, ngopi, sambil merokok di kafe adalah bayangan saya bertahun-tahun silam jika kelak menjadi penulis.  Kalaupun ada hal yang dinamakan bahan pertimbangan dalam memilih kafe, say...

Mengkreasi - Dikreasi

Pendapat bahwa yang membuat sesuatu adalah sekaligus pengendalinya adalah hal yang bagi saya sudah usang. Pembuat memang serba mengetahui seluk beluk tentang apa yang dibuatnya hingga sampai tahap menjadinya, tetapi ia bisa jadi tidak mampu mengantisipasi apa-apa yang terjadi sesudahnya atau katakanlah, pada tahap pasca-eksistensinya.  Bersama teman-teman pada sekitar tahun 2004, kami pernah menginisiasi komunitas musik klasik bernama KlabKlassik. Iya kami membuat rencana tentang mesti seperti apa KlabKlassik ke depannya, tetapi hal yang lebih sering terjadi adalah sebaliknya: rencana kami disetir oleh "makhluk" yang kami ciptakan sendiri. KlabKlassik mungkin pernah berkembang dalam arti tertentu, tetapi hal yang kerap terjadi adalah kami yang dibuat berkembang oleh KlabKlassik. Kami belajar dari apa yang kami inisiasi sendiri.  Belakangan hal yang sama terjadi saat kami membentuk Kelas Isolasi pada tahun 2020. Saya tidak tahu akan seperti apa Kelas Isolasi ke depannya dan wa...

Kepemilikan

Mungkin tidak ada orang yang menginginkan seluruh dunia bagi dirinya sendiri. Setiap orang rasa-rasanya memikirkan juga soal keadilan dan distribusi. Namun keadilan dan distribusi tersebut harus melalui sebuah syarat: kepemilikan. Orang mesti memiliki dulu, baru memikirkan keadilan dan distribusi. Supaya apa? Entah, karena mungkin masing-masing orang punya versinya sendiri tentang apa yang adil.  Contoh ekstremnya, pemerintah. Pemerintah pada prinsipnya adalah pihak yang (merasa) berhak menyimpan kekayaan negara dan mendistribusikannya. Saat kekayaan itu hendak didistribusikan, mereka tentu tidak langsung membagikannya pada rakyat, melainkan lewat beberapa tahapan administratif. Pada setiap tahapan-tahapan tersebut, perpindahan kepemilikan terjadi dari satu institusi ke institusi yang lain. Lalu pada masing-masing institusi yang katakanlah di Indonesia, hampir pasti terjadi korupsi atau semacamnya, supaya kepemilikan menjadi lebih spesifik ke tangan tertentu. Mereka yang korupsi it...

Selisih

Pada setiap kita berada di suatu peristiwa, kita ada di suatu peristiwa tersebut. Maksudnya, kita ada di sana, menjadi bagiannya, melebur dalam ruang dan waktunya. Namun saat ruang dan waktu itu sudah berbeda, kita kemudian punya kemampuan untuk menceritakannya ulang, dalam lisan maupun tulisan. Namun apapun itu yang direpresentasikan oleh lisan ataupun tulisan, bukanlah persisnya peristiwa "itu". Ia telah memiliki "selisih" antara yang berada di ruang dan waktu sejatinya, dan ruang dan waktu yang telah diceritakan ulang.  Misalnya, terdapat periode yang kelihatannya rumit pada kehidupan Lacan antara tahun 1953 hingga 1962 terkait posisinya dalam beberapa asosiasi psikoanalisis. Sembilan tahun bukanlah periode yang bisa dikatakan singkat dalam kehidupan manusia. Namun kita membacanya bisa jadi sangat ringan, bahwa 1953 Lacan mengalami hal ini, lalu mengalami hal itu, begitu seterusnya hingga tahun 1962. Apakah aslinya demikian "ringan"-nya? Saya membayangk...

Penuh Waktu di Kelas Isolasi

Mengelola Kelas Isolasi semestinya adalah semacam hobi, hal yang dikerjakan di waktu-waktu luang alias di luar jam kerja (meski saya tidak punya pemisahan yang tegas tentang mana jam kerja dan mana non jam kerja). Namun terutama sejak kehadiran para relawan mulai sebulan lalu, mengurusi Kelas Isolasi menjadi hal yang mesti dikerjakan penuh waktu. Mengapa demikian? Bukankah keberadaan 32 relawan yang membantu Kelas Isolasi membuat kami bisa lebih santai-santai? Ternyata sebaliknya, perhatian yang lebih besar justru dibutuhkan akibat lebih banyaknya konten yang diproduksi.  Konten-konten yang diproduksi tersebut tidak semuanya bisa langsung diposting, melainkan mesti dibaca kembali, direvisi tipis-tipis, bahkan dalam beberapa kasus, harus dirombak habis-habisan. Konten yang melimpah juga membuat kami mesti mengatur jadwal supaya frekuensi kemunculannya menjadi rapi sekaligus estetik. Hal-hal demikian, mau tidak mau, memerlukan semacam sistem, supaya segalanya agak-agak otomatis dan t...