Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Nulis dan Kafe



Entah ini untuk keberapa kali saya menulis tentang kafe di blog. Yang pasti bukan pertama kalinya. Makin kemari saya merasa ada fetish tersendiri terhadap kafe. Melihat ada kafe yang menarik dari luar, langsung saya sempatkan mampir untuk sekadar memesan segelas kopi dan menulis sesuatu barang sejenak. Kafe seperti apa persisnya yang saya sukai, makin kemari makin random. Pernah saya begitu suka dengan kafe-kafe kekinian yang serba cozy, pernah juga saya suka kafe-kafe dengan gaya Pecinan semacam Kopi Purnama jika di Bandung atau pernah saya begitu menggilai nongkrong di Dunkin' Donuts. 

Pada dasarnya saya bukan penikmat kopi. Saya bahkan tidak tahu beda antara Cappuccino dan Caffè latte. Saya pesan kopi ya pesan kopi. Hal yang saya sukai dari nongkrong lebih pada suasana dan "ritual"-nya. Menulis, ngopi, sambil merokok di kafe adalah bayangan saya bertahun-tahun silam jika kelak menjadi penulis. 

Kalaupun ada hal yang dinamakan bahan pertimbangan dalam memilih kafe, saya lebih memikirkan soal musiknya ketimbang kopi/ makanannya. Seperti pernah saya tuliskan di Pop Hari Ini, musik yang diputar di kafe sebaiknya musik yang tidak populer sehingga tidak mendistraksi orang yang sedang asyik menulis atau bekerja di depan laptop. Himbauan tersebut tentu tidak berlaku bagi kafe yang memang ditujukan untuk orang-orang mengobrol dengan suara keras seperti kafe tempat minum-minum. Pada kafe yang demikian, musik populer lebih berguna supaya para pengunjung tidak mati gaya. Namun pada kafe yang menjadikan "ketenangan" sebagai tema, rasa-rasanya musik diputar sebagai latar saja, jangan menarik perhatian, tetapi tetap penting untuk memberikan nuansa. 

Harus diakui bahwa kafe-kafe seperti Dunkin' atau Starbucks sudah sangat ahli dalam menyetel musik supaya pas. Sebatas pengetahuan saya, mereka hampir tidak pernah memutar lagu-lagu populer. Biasanya, gerai-gerai semacam itu menyetel musik jazz atau lo-fi dengan volume yang enak sehingga pengunjung dalam mengobrol tidak perlu sampai berteriak-teriak. Singkatnya, kafe-kafe tersebut sudah mempunyai standar dalam pemutaran musik dan tidak begitu saja diserahkan pada barista. Seperti kata Sakamoto, jika makanan punya chef yang mengaturnya, interior punya desainer interior, maka musik juga harusnya diserahkan pada ahli musik. Bunyi bukanlah perkara sederhana. Kita bisa terkesan atau malah trauma oleh bebunyian yang mengganggu dan kurang nyaman di telinga, dan biasanya hal demikian terjadi tanpa disadari. 

Sebenarnya saya bisa-bisa saja menulis di kamar apartemen. Sudah ada meja, kursi dan internet yang kencang. Selain itu, saya juga tidak perlu keluar uang untuk beli kopi di luar. Cukup seduh kopi yang ada saja, toh saya juga tidak tahu persis bedanya kopi yang enak dan yang tidak enak. Namun justru di situ pokoknya: karena saya sudah keluar uang, maka menulis menjadi perkara serius yang tidak boleh gagal. Jika saya hanya mendekam di apartemen, maka menulis menjadi kegiatan yang kurang menantang. Di apartemen, saya bisa tidur kapan saja kalau merasa lelah. Sementara di kafe, saya menjadikannya sebuah tekanan: tidak ada jalan keluar untuk tidur atau pulang, karena sudah bayar, karena sudah mengondisikan diri untuk duduk dalam sebuah "ritual". 

Tetapi lebih daripada itu, duduk di kafe juga adalah tentang mengamati orang-orang. Tidak jarang ketika saya khusyuk menulis, terdengar orang-orang di sebelah membicarakan semiotika, membicarakan Kant, atau membicarakan pasangannya yang berlaku buruk. Distraksi-distraksi itu terlalu berlebihan jika disebut sebagai sumber inspirasi. Namun distraksi-distraksi tersebut memberikan perasaan up-to-date bahwa beginilah kira-kira percakapan manusia hari ini. Meski terkesan menggeneralisasi, tetapi kadang menarik saat tanpa sengaja mendengarkan pemuda bicara pada pemudi tentang Kant, maka kira-kira bisa disimpulkan secara lucu-lucuan, "Oh, percakapan tentang Kant mulai biasa di kafe-kafe dalam suasana yang banal." 

Distraksi-distraksi itu yang tidak didapat saat mendekam di apartemen. Di apartemen, suara-suara seolah sudah dikondisikan oleh apa yang saya inginkan. Saya tidak membuka diri terhadap beraneka kemungkinan. Saya sudah terlalu siap untuk mengantisipasi segala yang datang. Namun duduk di kafe, meski tetap duduk sendiri mengisolasi, tetapi ada bunyi-bunyi yang tanpa diduga bisa saja masuk mengganggu fokus. Gangguan-gangguan tersebut tidak sama dengan gangguan musik populer yang sama-sama mengisolasikan dirinya. Gangguan tersebut datang dari "latar alamiah", percakapan yang mengingatkan bahwa saya masih hidup di dalam dunia manusia. Itulah menulis sebagai sebuah kegiatan, terlepas dari apapun luarannya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...