Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Renungan tentang sejarah kelihatannya adalah hal yang paling intens saya lakukan. Memang saya pernah memikirkan sesuatu yang kurang lebih mirip seperti Hegel (walaupun tentu tidak serumit beliau), bahwa sejarah mengarah pada sesuatu yang "lebih baik", "lebih cerah", "lebih maju", sehingga implikasi dari pemikiran semacam itu adalah bahwa sekarang lebih baik dari dulu, masa datang lebih baik dari sekarang. Namun di sisi lain, bahwa ada benarnya, bahwa sejarah tidak ke mana-mana. Apa yang pernah terjadi saat ini, mungkin pernah terjadi juga pada seribu tahun lalu, dengan situasi yang kurang lebih mirip, tetapi cuma "latar"-nya saja yang berbeda. Buktinya, dengan membaca literatur dari masa lampau, kita mendapat semacam panduan untuk menghadapi situasi di masa sekarang. Argumentasi semacam itu juga yang dipegang oleh kaum pendidik dari aliran perenialisme: cukup mempelajari buku-buku babon, maka nilai-nilai di dalamnya dapat digunakan untuk menghada...