Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam


 

Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat.

Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tipis pemikiran Agustinus, Johannes Scotus Eriugena, Thomas Aquinas hingga William of Ockham, mendadak saya merasa perlu kembali lagi menyusuri Sokrates, bahkan Pythagoras (padahal sudah sering sekali diceritakan pada orang-orang). 

Live Instagram tersebut awalnya direncanakan mulai pukul sepuluh pagi dan berakhir sepuluh malam dengan termasuk di dalamnya beberapa kali istirahat. Istirahat tersebut selain karena keterbatasan fisik, juga karena keterbatasan durasi dari live Instagram itu sendiri yang memang dibatasi hingga maksimal empat jam per sekali live. Maka itu dalam bayangan saya, akan dilakukan setidaknya tiga kali break dengan masing-masing durasi istirahat sekitar lima belas menit. Catatan-catatan sudah disiapkan, termasuk e-book yang dibuka di hadapan, supaya tidak kehabisan materi pembicaraan. Intinya, di hari H, saya merasa sudah sangat siap untuk melakukan “performance” ini – meski agak khawatir apakah bisa sampai finis atau tidak. 

Dua jam pertama, saya merasa sangat lancar dan bersemangat. Penonton lumayan, kira-kira stabil di angka lima puluh. Saya berhasil mengirit-irit pembahasan dengan mengulur periode Yunani Pra-Sokrates. Di atas dua jam, ternyata tenaga mulai berkurang drastis. Sesi pertama ditutup dengan pembahasan singkat tentang stoisisme dan stop di durasi dua jam empat puluh menit. Baru sesi pertama, saya terpikir untuk menyerah karena membayangkan akan ada sepuluh jam lagi di hadapan. Kemudian saya mengatur strategi, untuk tidak sepenuhnya bicara, melainkan sesekali berhenti, pergi ke toilet, merokok sambil bengong atau bahkan ngemil. Dengan bekal strategi tersebut, saya memulai sesi kedua. 

Sesi kedua, ternyata saya merasa lebih lemas dari sebelumnya. Tertatih-tatih membahas sejarah Abad Pertengahan mulai dari perdebatan doktrin Kristiani sampai Peter Abelard, saya stop di durasi dua jam dua belas menit. Artinya, kira-kira saya sudah menyelesaikan lima jam kurang sedikit. Masih tujuh jam lagi saya harus berbicara, akhirnya saya memutuskan tidur siang barang lima belas sampai dua puluh menit. Untuk menghibur diri sendiri, saya membangun sugesti: oh, mungkin saya kurang bersemangat karena membahas tema yang bukan favorit, yaitu Abad Pertengahan

Sesi ketiga, saya memutuskan untuk sekilas-kilas saja membahas Thomas Aquinas, Duns Scotus dan William of Ockham. Lagipula, setelah dipikir-pikir, mengapa harus dibahas secara lengkap? Toh, perjalanan masih jauh (selain itu, saya juga kurang menguasai bahasan tentang mereka). Akhirnya saya memutuskan untuk lebih berpanjang-panjang dalam memaparkan latar belakang masa Renaisans ketimbang berlama-lama di Abad Pertengahan. Pembahasan tentang masa Renaisans akhirnya berujung pada ulasan tentang pemikir kita semua: Rene Descartes. Stop di dua jam tiga puluh menit, sesi ketiga ditutup dengan pembahasan mengenai Descartes dan bagiku itu adalah pit stop yang melegakan. Alasannya, dari Descartes, saya sudah bisa berbicara tentang siapapun dengan agak bebas. Dengan berakhirnya sesi ketiga itu juga, artinya, tinggal empat jam setengah lagi durasi yang mesti diselesaikan. 

Sesi keempat, saya memulainya dengan membahas John Locke dan ditutup dengan pemaparan sekilas gagasan J.J. Rousseau tentang demokrasi. Total durasi sesi keempat ini hanyalah satu jam empat puluh dua menit. Alasannya? Saya sudah sangat kelelahan! Saya sudah sambil makan bubur kacang dan sering pura-pura ke toilet lama sekali padahal untuk menarik napas. Martin Suryajaya yang turut menonton sudah tampak khawatir dan memberi saran: baiknya sambil tiduran saja live-nya, hapenya dipegang. Istri mengecek tensi dan hasilnya membahayakan: 165 / 100. Dia sudah menyuruh stop tapi dia juga tahu suruhan semacam itu tidak akan mempan. 

Jadi, jika melihat waktu yang saat itu sekitar pukul sepuluh malam, mestinya saya sudah selesai melakukan live Instagram (karena sudah sesuai jadwal). Namun di sisi lain, saya masih merasa kurang puas karena dua belas jam ini artinya adalah waktu kotor. Jika dihitung durasi bersih, saya masih harus menyelesaikan dua jam setengah lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk membereskan durasi bersih dan melanjutkan live hingga sekitar pukul dua belas lewat dua puluh lima menit. Saya menyelesaikan pemaparan di Jean Paul Sartre dan merasa tidak perlu lagi untuk meneruskan hingga posmodern. Di sesi terakhir ini, suara saya sudah diperkecil untuk menghemat tenaga. Setelah dihitung, durasinya ternyata tidak sampai dua belas jam, melainkan sebelas jam empat puluh menit. Yah, sudahlah. 

Besoknya saya tidur seharian, tidak kuasa untuk mengerjakan apapun yang serius kecuali makan, sambil mengingat-ingat apa yang saya lakukan kemarin itu adalah hal yang kurang kerjaan. Apa yang memberi saya kekuatan adalah pertama, filsafat itu sendiri. Kecintaan yang terlalu melimpah, sampai-sampai saya tidak butuh semacam doping untuk bicara selama setengah hari. Kedua, adalah ibu. Ia terbiasa mengajar dari pagi sampai malam. Hal demikian tidak hanya memerlukan kekuatan, tapi juga dedikasi. Saya tidak selalu mengingatnya, karena ia sudah ada dalam kata-kata dan hela nafas saya.

Comments

  1. Those giant deviations on the right have an effect, the very fact fact} that|although} they're a really small proportion of the info. Download a Stopwatch and Countdown timer that stays on top of all open home windows. Nikita is a published writer and an experienced gambling writer with a passion for all things iGaming. Billboard's blistering article about hip-hop's "magic" slipping away is 바카라사이트 completely on point, in accordance with Eminem's artist Westside Boogie ... About 23,000 stores in all 58 counties promote state lottery games. Lottery sales—after prizes and operation costs—support education.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...