Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Merenungkan Cyborg Manifesto

Cyborg Manifesto adalah esai karya Donna Haraway yang dirilis tahun 1985 dengan tebal sekitar delapan puluh halaman. Dalam tulisannya ini, Haraway, pemikir asal Amerika kelahiran tahun 1944, mengajak kita mempertanyakan ulang batas-batas antara konsep manusia, hewan, mesin, fisikal - non fisikal, hingga sampai pada renungan tentang persoalan identitas yang disematkan oleh pemikiran gender tradisional. Haraway melakukan itu semua lewat presentasinya mengenai cyborg sebagai fenomena pascahumanisme. Cyborg sendiri didefinisikan oleh Haraway sebagai organisme sibernetik, percangkokan antara mesin dan organisme, makhluk yang berasal dari realitas sosial sekaligus fiksi. Haraway memperhatikan dunia di sekelilingnya, bahwa pada masa itu, literatur fiksi ilmiah dipenuhi konsepsi tentang cyborg - makhluk yang sekaligus hewan dan mesin, yang membuat ambigu gagasan tentang natur dan kultur. Cyborg, lanjutnya, telah mengubah apa yang disebut dengan "pengalaman perempuan" pada akhir abad...

Perihal Kematian

Tahun 2021, saya mengalami dua kali sakit parah. Pertama, bulan Juli, saat terpapar COVID-19 edisi Delta dan kedua, bulan Oktober, saat dada saya tiba-tiba terasa sesak dan dilarikan ke rumah sakit. Awal tahun 2022, saya pindah ke Jakarta, menandai fase hidup yang baru. Namun baru saja beberapa hari beres-beres, saya mengalami masalah serius pada pencernaan hingga harus kembali menginap di rumah sakit. Kali ini sampai tiga atau empat hari (saya lupa persisnya dan malas mengingat-ingat). Sejak rentetan kejadian itu, saya mulai merenungkan tentang kematian. Meski saya kerap membicarakannya via gagasan para filsuf, tapi hal-hal demikian hanya ada dalam pikiran, hanya sebagai teori, bahwa kematian adalah begini begitu, sedangkan sejak kejadian itu, dan sesudah-sesudanya: kematian adalah sesuatu yang nyata, hal yang begitu dekat dan saya sama sekali tidak mampu mengantisipasinya. Nyaris setiap saat saya mengalkulasi: oke usiaku sekarang segini, mungkin masih ada umur sekitar dua puluh tahun...

Tentang Demotivasi III

Setelah menulis Demotivasi I (2020) dan Demotivasi II (2021), rasanya saya perlu menggenapkan (atau mengganjilkan) jumlahnya menjadi tiga dengan menulis Demotivasi III - supaya mungkin lebih bagus terdengar sebagai trilogi ketimbang dwilogi (yang mengingatkan saya pada Padang Bulan -nya Andrea Hirata). Namun itu bukan artinya bahwa Demotivasi III adalah penutup. Bisa jadi, saya menulis lagi sampai IV, V, VI, dan seterusnya. Entahlah. Menulis yang pertama saja awalnya cuma sekadar impulsif, mencari cara bertahan hidup di masa pandemi, dan ternyata penjualannya tidak buruk, sehingga saya memutuskan menulis yang kedua, sekalian mengerucutkan renungan tentang demotivasi itu sendiri. Jadi, menulis hingga jilid tiga tidak pernah saya rancang sejak awal dan begitu saja terjadi. Dengan demikian, saya juga tidak berani memprediksi apakah Demotivasi akan ditutup di edisi tiga atau masih akan ada edisi-edisi berikutnya. Untuk jilid ketiga ini, saya mencoba mengambil beberapa jalur yang berbe...

Obrolan Tiga Jam di Bandara bersama Banin Diar Sukmono

Pada hari Kamis, 28 Juli kemarin, saya bertemu dengan Banin Diar Sukmono di bandara Soekarno Hatta. Siapakah Banin ini? Dia adalah lulusan filsafat UGM dan cukup aktif mendirikan berbagai kelompok kajian filsafat di Yogyakarta seperti Ze-No Center for Logic and Metaphysics dan LSF Cogito. Meski awalnya muncul dari tradisi filsafat kontinental (memangnya siapa yang tidak dari kontinental di Indonesia?), pada perkembangannya, Banin dan teman-temannya memutuskan untuk fokus pada kajian filsafat analitik. Jujur, nuansa kelompok Banin ini agak-agak "menakutkan", tapi harus diakui, mereka ini memberikan angin segar bagi pemetaan filsafat di Indonesia yang sangat kental dengan tradisi kontinental. Tidak bisa dibantah bahwa popularitas filsafat analitik di Indonesia menjadi meningkat berkat mereka, selain juga oleh kiprah pemikiran Martin Suryajaya.  Lalu, mengapa saya menyebut mereka ini agak-agak "menakutkan"? Pada titik tertentu, bisa dipahami. Filsafat analitik berkutat...

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis...

Kiat Membaca Teks Filsafat untuk Keadaan Darurat

Sebagai orang yang pengetahuan filsafatnya banyak didapat dari diskusi ke diskusi di alam liar, saya baru intens menggeluti teks primer sejak belajar S3 di STF Driyarkara atau mulai dari dua tahun silam. Khususnya bagi mereka yang mengambil program doktor, bahkan jika yang digelutinya adalah teks primer dalam bahasa Jerman, misalnya, mereka harus benar-benar bisa berbahasa Jerman! Artinya, kami dilarang menggeluti teks primer terjemahan dalam bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. Dengan demikian, otomatis teks sekunder atau komentar tidak diperkenankan menjadi rujukan utama. Namun ketentuan demikian hanya diberlakukan bagi riset akhir atau disertasi. Memahami teks filsafat untuk "kebutuhan sehari-hari", bagi saya, tidak perlu seketat itu. Apalagi jika mesti berhadapan dengan kepadatan jadwal menulis dan mengajar yang membutuhkan tidak hanya kedalaman, melainkan juga kecepatan. Bagaimana dua hal tersebut bisa didamaikan?  Tentu saja saya tidak mendaku bahwa saya punya keda...

Tentang Citayam Fashion Week

Belakangan ini kita sedang dihebohkan oleh fenomena Citayam Fashion Week. Tentang apa itu Citayam Fashion Week tentu tidak perlu dijelaskan kembali karena informasinya sudah berlimpah. Hal lebih menarik bagi saya justru respons-respons terhadapnya yang cukup terbelah: ada yang mendukung, melihatnya sebagai ekspresi biasa dari generasi muda; ada yang mengecam, menganggapnya sebagai hedonisme belaka di tengah negara yang tidak baik-baik saja; ada yang berteori dari sudut pandang perjuangan kelas atau ruang ketiga; ada yang menolak meneorikan, menganggapnya sebagai fenomena organik belaka; dan tentu saja, ada yang mengendarai ombak, entah itu via diskusi (termasuk yang pasti akan saya lakukan) atau bahkan yang terjun langsung ke lokasi mulai dari para pejabat, pembuat konten, hingga model profesional.  Citayam Fashion Week mungkin fenomena lumayan kekinian, tetapi dalam konteks geliat kehidupan urban, fenomena semacam ini sudah sering terjadi. Di Bandung misalnya, fenomena perkembanga...