Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Citayam Fashion Week


Belakangan ini kita sedang dihebohkan oleh fenomena Citayam Fashion Week. Tentang apa itu Citayam Fashion Week tentu tidak perlu dijelaskan kembali karena informasinya sudah berlimpah. Hal lebih menarik bagi saya justru respons-respons terhadapnya yang cukup terbelah: ada yang mendukung, melihatnya sebagai ekspresi biasa dari generasi muda; ada yang mengecam, menganggapnya sebagai hedonisme belaka di tengah negara yang tidak baik-baik saja; ada yang berteori dari sudut pandang perjuangan kelas atau ruang ketiga; ada yang menolak meneorikan, menganggapnya sebagai fenomena organik belaka; dan tentu saja, ada yang mengendarai ombak, entah itu via diskusi (termasuk yang pasti akan saya lakukan) atau bahkan yang terjun langsung ke lokasi mulai dari para pejabat, pembuat konten, hingga model profesional. 

Citayam Fashion Week mungkin fenomena lumayan kekinian, tetapi dalam konteks geliat kehidupan urban, fenomena semacam ini sudah sering terjadi. Di Bandung misalnya, fenomena perkembangan musik underground di Ujungberung, cosplay hantu-hantuan di Braga, atau belakangan ini, pengamen dengan alat band lengkap di perempatan, adalah beberapa contoh di antaranya. Meski melibatkan domain yang berbeda (yang satu fashion, lainnya lagi musik), tetapi ada satu kesamaan yang bisa ditarik: fenomena kemunculannya bukan hanya sekali dua kali, melainkan sudah menjadi regularitas, mereka tidak lagi menempati ruang, tetapi turut aktif mendefinisikan ruang. Dalam beberapa kasus, fenomena tersebut bahkan sudah menjadi budaya. Memang bukan budaya sebagaimana kita bayangkan dalam wujud yang tradisional, tetapi budaya urban, yang dalam banyak hal punya kesamaan: menandai suatu kelompok sehingga berbeda dengan kelompok lainnya, lewat sesuatu yang bukan sekadar objek fisik, melainkan perilaku yang menubuh. Nongkrong di kafe, misalnya, bukan lagi perkara kegiatan minum kopi, tetapi juga menjadi cara sebagian orang untuk memaknai waktu luang sambil hangout atau bekerja. Di situlah perilaku nongkrong menjadi budaya. Kafe tidak hanya tentang kopi, tetapi sepaket dengan kenyamanan, wi-fi, musik, interior, quotes yang dipampang di tembok, dan barista yang pandai membuka obrolan. Dalam kebudayaan, tidak ada aturan tertulis. Tidak ada aturan tertulis bahwa kita harus memesan kopi terlebih dahulu sebelum duduk-duduk di Starbucks. Tetapi kita tidak mungkin melakukan itu karena akan dianggap "tidak berbudaya" oleh kelompok yang berada di situ. 

Baiklah, jadi apa yang bisa dibaca dari Citayam Fashion Week dan fenomena-fenomena serupa di kota besar? Pertama, adalah perkara waktu luang. Mereka yang berkomentar bahwa anak-anak ini "kurang kerjaan" kemungkinan berasal dari orang-orang yang sudah tenggelam dalam rutinitas pekerjaan. Mereka agak kontra dengan penyaluran energi produktif yang tidak menghasilkan uang. Budaya urban muncul dari waktu luang, dari orang-orang yang "kurang kerjaan". Kreativitas memang mensyaratkan keterdesakan, tetapi di situlah poinnya: di tengah desakan rutinitas yang membuat masyarakat kota sekilas tampak begitu homogen, mesti ada usaha destruktif untuk mematahkannya, agar orang kembali memaknai arti waktu yang selama ini mungkin terlalu banyak digunakan untuk hal-hal yang transaksional, padahal cuma dalam rangka memenuhi kebutuhan mendasar. 

Kedua, perkara ruang, dan ini yang sudah banyak dibahas. Setiap ruang di kota seolah sudah mempunyai fungsi yang melekat sebagai identitas: jalan raya diperuntukkan bagi kendaraan, trotoar diperuntukkan bagi pejalan kaki, jembatan penyeberangan diperuntukkan bagi orang-orang untuk menyeberang, kolong jembatan adalah kolong jembatan, emperan toko adalah emperan toko. Namun imajinasi manusia terkadang tidak bisa dikotak-kotakkan semacam itu. Selama ia masih punya peluang untuk bergerak dan menempati ruang, ia akan menempatinya. Tidak hanya menempatinya, tetapi juga memaknainya. Itu sebabnya, bagi sebagian orang tidak masalah, kalaupun harus menjadikan zebra cross sebagai catwalk atau kolong jembatan sebagai panggung musik. Mengapa? Karena itu ruang. Kalaupun ada fungsi tertentu yang dilekatkan pada ruang tertentu, itu adalah tafsir sepihak dari otoritas kota. Sejatinya, setiap orang punya kapasitas untuk menafsir. Tapi kan, ada ruang publik yang sudah disediakan oleh pemerintah? Iya, tapi sebagaimana Habermas sudah memperingatkan: ruang publik seringkali sudah sepaket dengan pengawasannya. Tidak mudah untuk begitu saja berekspresi di ruang yang sudah disediakan oleh penguasa. Selain itu, pemanfaatan semacam itu tidak bisa benar-benar dikatakan sebagai kreativitas. Sehingga hal yang lebih menantang adalah bukan memanfaatkan ruang publik, melainkan quasi-public space atau seolah-olah ruang publik tetapi sebenarnya privat, misalnya: mal, museum. 

Pertanyaan yang lebih mendasarnya, jika memang quasi-public space adalah seolah-olah ruang publik tetapi sebenarnya privat, privatnya itu mengacu ke mana? Di sinilah baru kita bisa memasukkan teori kelas. Orang bisa datang ke kafe dan duduk-duduk saja, tetapi hanya yang membeli yang dilayani. Orang bisa datang ke mal dan hanya tidur-tiduran di atrium, tetapi hebat jika tidak diusir oleh satpam. Hanya mereka yang mempunyai uang yang sanggup menempati ruang. Jika demikian, maka banyak orang menuntut keadilan. Demokrasi memungkinkan siapapun untuk bertanya-tanya: mengapa saya, yang juga sama-sama manusia, warga negara, tidak boleh menempati ruang tertentu? Apakah karena orang-orang dari kelas tertentu ingin steril dari kelas lainnya yang katakanlah, lebih bawah? Tetapi tidak selalu tindakan menuntut keadilan ini berupa pengrusakan, vandalisme, tetapi bisa juga: pemaknaan dengan cara lain, salah satunya, kreativitas. Itulah mengapa Citayam Fashion Week bisa begitu sukar diidentifikasi: mereka punya usaha untuk merebut ruang publik dari kelas tertentu, tetapi tidak dengan cara kekerasan. Namun cara-cara tanpa kekerasan ini tetap dianggap kekerasan bagi sebagian orang yang kaku dalam mengartikan fungsi tertentu dalam ruang publik: Citayam Fashion Week mengganggu kenyamanan berkendara dan menciptakan tontonan tertentu yang menimbulkan kemacetan. Tentu orang-orang yang terlibat dalam Citayam Fashion Week tidak akan peduli dengan keluhan semacam itu: itu urusan kalian, kami hanya bergerak di antara peraturan, dan tidak melanggar satupun secara signifikan. 

Pada titik tertentu memang wajar bahwa "disharmoni" adalah sesuatu yang menyebalkan. Saat ada anomali dalam fungsi ruang, kelihatannya memang ada hal yang "tidak pas" dan bagi mereka yang fetish akan kerapihan, keberadaan Citayam Fashion Week adalah gangguan yang serius. Dalam arti luas, pasar yang tumpah ruah hingga ke jalan, pedagang kaki lima yang berjejer panjang di pinggir jalan, seolah membuyarkan impian tentang kota yang "instagrammable" dan indah sebagaimana ditunjukkan lewat iklan-iklan pariwisata. Wajah kota haruslah wajah yang "tanpa noda". Kalaupun harus terdapat "noda", mesti disembunyikan di balik gedung-gedung besar. Citayam Fashion Week adalah sekaligus watak dari perjuangan akan ruang: mengganggu mereka yang fasis terhadap kerapihan, bahkan hingga ke dalam tidurnya. 

Untuk memperluas pembahasan tentang kelas, memang sudah lumrah untuk mereplikasi apapun yang dianggap menjadi milik kelas atas, sehingga dapat dikonsumsi oleh kelas di bawahnya. Hal ini biasa terjadi dalam produk-produk KW yang membuat orang-orang bisa terlihat trendi dengan harga terjangkau. Karena bagi sebagian orang, tidak ada yang terlalu bisa membedakan antara tas LV asli dengan yang KW, kecuali orang-orang tertentu yang dianugerahi kepekaan. Kemunculan Starbucks yang memberi harga lebih dari lima puluh ribu per gelas kopi, pasti direspons juga oleh produk lain yang harganya setengahnya dengan tampilan mirip Starbucks (hal sama juga terjadi pada sushi dan fried chicken, misalnya). Begitupun dengan fenomena fashion week yang begitu glamor di New York ataupun Paris, mengapa tidak juga mereplikasinya untuk kelas yang lebih bawah? Toh, sama-sama berbicara tentang gaya, toh, pada akhirnya menarik perhatian publik dan media. Namun selain pergerakan dari "atas ke bawah", ternyata arus sebaliknya juga terjadi: apa yang dikonsumsi oleh kelas bawah, sering dikomodifikasi oleh kelas atas dengan dalih "merakyat" atau bahkan "natural". 

Hal ini yang patut "diwaspadai" oleh Citayam Fashion Week yang mungkin saja suatu saat dikolonialisasi oleh pemerintah dan konglomerat, menjadi eksklusif, berbayar, menghadirkan model top dan lepas dari mata publik yang sekadar lalu lalang. Jika sudah terjadi demikian, usaha merebut kembali menjadi diperlukan. Begitulah budaya urban, tentang saling rebut merebut ruang dan waktu dari lubang yang ditinggalkan kapital. Dan begitulah kapital, tentang selalu mengisi lubang dalam ruang dan waktu manapun, kapanpun, sampai tidak ada lagi celah sekecil apapun.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...