Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Hegel (Lagi)

Di blog ini, saya pernah menulis tentang Hegel. Sudah lama sekali, yang dalam pemahaman sekarang, entah yang dulu itu benar atau keliru. Sekarang pun saya kurang yakin, tapi, siapa sih yang bisa memahami Hegel dengan benar? Hegel sendiri mengakuinya, tidak ada yang memahami gagasannya. Karena mesti membawakan materi tentang "Idealisme Hegel" di kelas Filsafat Angkot-nya Kelas Isolasi, saya membaca Hegel dengan lebih tekun, terutama perkara logikanya, yang sebagian besar ia tulis di buku Science of Logic . Mengapa saya memilih mendalami wilayah logikanya? Entah, mungkin terasa lebih menantang saja. Tentunya, tulisan ini hanya penyederhanaan, atau tafsir dangkal tentang filsafat Hegel, yang akan saya beri sedikit ilustrasi. Tentu saja, ilustrasi mempunyai masalah: memang sedikit banyak membantu, tapi menjadi terkesan melakukan simplifikasi.  Sebagai permulaan, agak kurang tepat menyematkan istilah "logika" pada pandangan Hegel terkait "metafisika tentang alur ber...

How to Become a Tyrant (2021): Diktator Bersalin Rupa

Sebenarnya film dokumenter ini sudah agak lama saya tonton, mungkin sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Namun entah kenapa, saya baru terpikir untuk menuliskannya sekarang, dengan ingatan yang agak samar-samar. How to Become a Tyrant (2021) adalah docu-series produksi Netflix yang menceritakan kiprah para diktator yaitu Adolf Hitler, Saddam Hussein, Idi Amin, Joseph Stalin, Muammar Gaddafi, dan dinasti Kim. Dengan masing-masing penayangan antara 25 sampai 30 menit, dokumenter ini sangat informatif dengan narasi yang dibuat agak satir, seolah-olah para diktator tersebut punya semacam buku pedoman sebagai acuan tertulis dalam melanggengkan kekuasaan absolutnya. Bagi saya pribadi, How to Become a Tyrant , yang dinaratori oleh Peter Dinklage, memberikan banyak informasi dan juga renungan. Renungan paling mula-mula tentu bayangan akan kengerian totalitarianisme, yang membuat saya memikirkan segala cara agar para pemimpin fasis tidak pernah naik ke tampuk kepemimpinan lagi, di manapun...

Mengajar Filsafat Pendidikan

Beberapa kali memberi materi tentang filsafat pendidikan, membuat saya semakin bingung tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu dilakukan (tipikal belajar filsafat, semakin dipelajari semakin bingung). Awalnya, saya mudah untuk mengatakan bahwa pendidikan yang bersifat perenialistik dan esensialistik itu "berbahaya". Perenialisme, secara sederhana, diartikan sebagai pendidikan yang mengacu pada "teks-teks babon", belajar dari yang lampau, klasik, dan terbukti "abadi" (seperti arti kata "perenial" itu sendiri). Dalam satu kalimat, kita bisa mengartikan perenialisme seperti apa yang dikatakan oleh Isaac Newton: " Standing on the shoulders of giant ". Esensialisme kurang lebih mirip, tetapi dalam konteks pengetahuan atau skill tertentu yang dianggap lebih "mendasar", seperti yang dipraktikkan dalam artes liberales di Abad Pertengahan atau mungkin jika diilustrasikan di masa sekarang lebih seperti "MKU". Bedanya, ese...

Tentang Sedekah dan Zakat

Ilmu agama saya, terus terang, tidak terlalu bagus. Lebih tepatnya, apa yang saya dapatkan selama ini tentang Islam, berasal dari dogma-dogma dan ajaran yang ditanamkan sejak kecil. Saya tidak pernah belajar agama secara formal atau mendalaminya dengan ilmu yang memadai. Modal saya ya hanya filsafat inilah, yang membuat saya berani mengorek-ngorek secara kritis perihal agama, terutama agama yang saya anut. Selama ini, saya menganggap sedekah adalah sesuatu yang mulia dan memang benar, mulia. Ibu mengajarkan untuk bersedekah sambil berpesan: jangan takut harta berkurang, karena sebaliknya, justru akan bertambah . Jika kita berhenti sampai di sana, tentu segalanya aman dan sentosa, tetapi, sialnya, nalar filsafati ini ingin saja mengejar dan mempertanyakan: apakah benar sesederhana itu?  Kunci sedekah adalah "seikhlasnya". Setahu saya, tidak ada keharusan untuk memberikan sedekah sebanyak sekian persen dari harta yang dimiliki atau penghasilan rutin. Seikhlasnya berarti ada pra...

Karya dan Hidup Sehari-Hari

Waktu awal-awal mulai rajin berkarya, entah sejak berapa tahun silam, dalam bentuk apapun, bisa tulisan ataupun musik, saya berpikir bahwa dapur harus ngebul dulu, baru bisa memikirkan karya. Tiada logika (dan estetika) tanpa logistik, begitu ungkapan lucu-lucuannya. Artinya, saya bisa mengerjakan apapun, yang tidak ada hubungannya dengan gairah, impian, dan cita-cita, selama menghasilkan cukup uang, mengenyangkan perut, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan setelah itu semua terjadi, baru bisa mengerjakan apa yang menjadi gairah, impian, dan cita-cita. Jalan semacam itu sama sekali tidak keliru, bahkan sangat masuk akal, realistis, dan membuat karya menjadi "murni", tidak dikotori pikiran macam-macam: bagaimana agar laku, terjual, disukai pasar, dan seterusnya. Kelihatannya, banyak orang lebih merasa aman dan nyaman jika menganut prinsip demikian.  Dalam obrolan bersama Mas Tanto (R.E. Hartanto), perupa, sekitar tahun 2016 atau 2017, kami membicarakan topik tersebut dan ia me...

Tentang Gagasan dan Hubungan Pribadi

Dalam sebuah versi, gagasan memang perlu dipisahkan dari orang yang menggagasnya. Itu hal yang juga sudah sejak lama saya yakini. Orang, yang terikat dengan tubuh, bisa saja mengalami berbagai derita, atau kekeliruan akibat kedagingannya, tapi sebuah gagasan, gagasan adalah ide murni, yang mestinya lepas dari keduniawian. Nietzsche misalnya, bisa saja hidup dalam kondisi tidak punya banyak teman, tidak punya warganegara, dan mengalami kegilaan di akhir hayat, tapi hal demikian tidak membuat kita urung mempelajari gagasan-gagasannya. Atau Louis Althusser, yang masa tuanya dihabiskan di rumah sakit jiwa, atau Michel Foucault, yang pernah dikabarkan "memerkosa anak kecil" pada akhir tahun 1960-an. Hal-hal tersebut tampak sebagai sesuatu yang "tidak lazim", yang jika mereka berada di tengah-tengah kita sekarang, mungkin diasingkan. Meski demikian, ide-idenya tetap dipelajari, kedagingannya terkadang bisa diabaikan, walau kadang-kadang tetap tidak bisa lepas dari sasaran...

Tentang Pahlawan Super

Saya bukan penggemar sosok pahlawan super, setidaknya yang digambarkan dalam komik, film, ataupun budaya populer lainnya. Saya hanya terpapar tipis-tipis dari kakak, yang kebetulan sangat menggilai komik (menggambar dan mengoleksi) dan action figure . Namun atas dorongan untuk mengisi sebuah forum, saya "terpaksa" membaca-baca soal pahlawan super dan hubungannya dengan filsafat. Akhirnya saya menemukan buku berjudul Superheroes and Philosophy: Truth, Justice, and the Socratic Way (Open Court, 2005) yang disunting oleh Tom Morris dan Matt Morris. Dalam buku tersebut, terdapat hal-hal menarik yang membuat saya merenung - meski sebagian renungan yang dituangkan dalam tulisan ini, sebenarnya sudah saya pernah pikirkan sebelum membaca Superheroes and Philosophy . Pertama, soal istilah pahlawan super itu sendiri, yang dalam salah satu bab dalam buku tersebut, tepatnya berjudul Heroes and Superheroes yang ditulis oleh Jeph Loeb dan Tom Morris, disebutkan sebagai berkontradiksi. Ma...