Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Karya dan Hidup Sehari-Hari



Waktu awal-awal mulai rajin berkarya, entah sejak berapa tahun silam, dalam bentuk apapun, bisa tulisan ataupun musik, saya berpikir bahwa dapur harus ngebul dulu, baru bisa memikirkan karya. Tiada logika (dan estetika) tanpa logistik, begitu ungkapan lucu-lucuannya. Artinya, saya bisa mengerjakan apapun, yang tidak ada hubungannya dengan gairah, impian, dan cita-cita, selama menghasilkan cukup uang, mengenyangkan perut, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan setelah itu semua terjadi, baru bisa mengerjakan apa yang menjadi gairah, impian, dan cita-cita. Jalan semacam itu sama sekali tidak keliru, bahkan sangat masuk akal, realistis, dan membuat karya menjadi "murni", tidak dikotori pikiran macam-macam: bagaimana agar laku, terjual, disukai pasar, dan seterusnya. Kelihatannya, banyak orang lebih merasa aman dan nyaman jika menganut prinsip demikian. 

Dalam obrolan bersama Mas Tanto (R.E. Hartanto), perupa, sekitar tahun 2016 atau 2017, kami membicarakan topik tersebut dan ia mengatakan ada dua jenis prinsip dalam berkesenian. Yang pertama, yang sudah saya paparkan di atas dan yang kedua, ini yang menarik, yaitu menjadikan apa yang menjadi gairah, impian, dan cita-cita kita dalam berkarya, sebagai mata pencahariaan. Artinya, metode ini lebih berdarah-darah, karena jika karya itu tidak "menghasilkan", maka seniman tidak bisa "makan", dan ini, bagi pikiran saya waktu itu, tidak masuk akal, tidak realistis, terlalu berani, dan bahkan berbahaya. 

Hingga tahun 2017, saya masih memegang prinsip yang pertama, bahwa kesejahteraan diri itu mendahului produktivitas berkarya. Berkarya harus tenang, jangan banyak memikirkan tagihan atau cicilan. Namun pasca 2017, setelah dikeluarkan dari pekerjaan sebagai dosen tetap di sebuah kampus swasta, saya pelan-pelan beralih prinsip menjadi yang kedua. Memang, awalnya berat, dan sampai sekarang pun, masih rumit. Saya pernah mengambil beberapa pekerjaan "tetap", tapi tetapnya itu tidak berarti berlaku seumur hidup atau berjangka waktu panjang, melainkan digaji tetap mungkin untuk sekitar satu atau dua tahun. Menjadi dosen pun masih saya lakoni, meski berstatus honorer, yang bisa dikatakan menempatkan saya pada ketidakpastian. Sisanya serabutan: menulis, bermusik, mengajar, yang membuat saya bisa menyambung hidup untuk satu atau dua bulan, entah ke depannya. 

Bagi saya, lama-lama, prinsip semacam itu tidak hanya ekuivalen dengan produktivitas, tapi yang dirasakan, meski mungkin ini cuma penilaian pribadi, juga berpengaruh terhadap "mutu". Saya merasa kreativitas lebih dipaksa untuk muncul dan karena mesti laku (kalau tidak laku, tidak "makan"), maka tentu saja mesti berkualitas! Kumpulan Kalimat Demotivasi adalah salah satu contohnya. Terpaksa karena keadaan, saya merasa perlu untuk menuliskan buku yang "sepertinya akan digandrungi". Jujur, yang terpikirkan pertama kali justru adalah "kalimat motivasi", sebelum akhirnya berpikir: kenapa tidak dibalikkan saja? Sejauh ini, trik ini lumayan, dan Demotivasi menjadi buku saya yang paling menjual. Kebiasaan ini berlaku hingga sekarang. Setiap kira-kira perlu uang agak lumayan, saya mulai menulis buku yang tidak hanya harus bagus, tapi juga cepat (karena berkejar-kejaran dengan kebutuhan). 

Hal yang lebih penting, karya yang dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan, bagi saya, lebih "berdarah", karena lebih bertalian dengan keharusan untuk bertahan hidup, maka di sana ada air mata, derita, dan juga doa-doa serta pengharapan yang besar. Berbeda dengan saat saya memegang prinsip sebelumnya, karya-karya tersebut cenderung steril, bersih, suci, dan nirkepentingan. Bagi saya, karya semacam itu sungguh "garing", tidak punya bobot, dan tidak menggigit. Namun sekali lagi, setiap orang bebas saja untuk memilih prinsipnya. Yang pasti, saya suka dan nyaman dengan yang kedua, meski sebenarnya tidak nyaman.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...