Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Malam Takbiran dan Tuhan yang Ada Dalam Kenangan

Mendengar takbir bergema di malam Idul Adha, harus diakui, dalam diri saya timbul semacam rasa haru. Inikah yang dinamakan iman? Saya tidak mau menyimpulkan terlalu cepat. Tapi ada satu hal yang saya pikir masuk akal: rasa haru akan malam takbiran, adalah rasa haru akan masa kecil. Ketika malam takbiran, itulah momen berkumpul bersama keluarga, bersiap menggunakan baju baru di keesokan harinya, dan memperoleh uang dari saudara-saudara untuk ditabung kemudian dibelikan kaset SEGA.   Namun saya tiba-tiba teringat novel Albert Camus berjudul Orang Asing  yang ditulisnya tahun 1942. Novel ini berkisah tentang seorang bernama Meursault yang hidup dengan begitu santai seolah tidak takut dengan konsekuensi apapun: tidak menangis di pemakaman ibunya, mau menikah dengan pacarnya karena pacarnya yang memintanya demikian (ia sendiri tidak peduli dengan rasa cinta), membunuh orang Arab, diadili dan tidak membela diri, divonis hukuman mati dan bahkan menolak untuk bertaubat di saat ak...

Bahkan Pelacur Pun Enggan

   Pada suatu pertemuan di Facebook, saya berbincang dengan "Sang Maulana" Bambang Q-Anees. Saya, seperti biasa, bertanya hal-hal yang sangat mendasar. B-Q (demikian saya panggil dia), seperti biasa, menjawabnya dengan sangat rumit. Pertanyaan saya sederhana saja, "Bagaimana agar saya dapat menjadi seorang dosen yang baik?" B-Q menjawabnya dengan mengutip satu cerita dalam novel Milan Kundera yang berjudul Book of Laughter and Forgetting , tentang seorang pelacur yang akan melayani tamunya. Ketika tahu bahwa tamu itu adalah seorang intelektual, pelacur itu dipenuhi rasa enggan. Mengapa? Ia tahu, seorang intelektual adalah seorang yang amat membosankan di atas ranjang. Cerita itu ditutup B-Q sampai di sana. Saya tertegun karena merasa tidak mendapat jawaban apa-apa.  Obrolan tersebut berlangsung sekitar dua setengah tahun silam. Sekarang, setelah saya merasakan dua setengah tahun menjadi dosen, kata-kata tersebut lambat laun saya pahami. Saya sadar bahwa menjadi ...

Merawat

Sekitar tiga minggu yang lalu, saya dihibahi kucing oleh kawan di tempat kerja. Kucing tersebut, yang merupakan campuran Persia dan entah apa (saya tidak ingat namanya), oleh saya diberi nama Simone de Beauvoir dan sudah disetujui oleh istri dan anak (serta sang pemilik sebelumnya). Mon -demikian panggilannya- tampak stres ketika untuk pertama kalinya berada di mobil menuju rumah saya. Wajar, ia berpindah tuan. Segala sesuatunya menjadi hal yang kembali baru untuk Mon. Sesampainya di rumah, saya lupa. Saya kira ia kucing yang tenang dan santai. Tahu-tahu, karena stres, ia lari terbirit-birit dan kabur entah kemana. Untungnya, malamnya, ia tiba-tiba kembali dengan badan penuh air got. Ternyata Mon tahu jalan pulang, meski baru pertama kali dia berpindah kediaman.  Singkat cerita: Kami sekeluarga memelihara Mon dengan sukacita. Ia memberi warna baru bagi rumah kami. Saya tiba-tiba harus mengunjungi berkali-kali tempat yang tidak pernah saya kenal di sebelum-sebelumnya: Pet Shop. ...

Antara Performing Art, Ilmu Komunikasi, dan Pertunjukkan yang Cutting Edge (Sebuah Catatan untuk Mahasiswa)

Harus diakui, ilmu komunikasi merupakan semacam ilmu yang tidak mempunyai kejelasan akar dan buah (filsafat ilmu menyebutnya dengan ketidakjelasan epistemologi). Atas dasar itulah, ilmu komunikasi dapat dijejali oleh bidang-bidang mulai dari filsafat, politik, ekonomi, budaya, teknologi, hingga seni.  Begitupun dengan program studi ilmu komunikasi di kampus saya, ada mata kuliah yang dinamai dengan performing art . Tentu saja, awalnya saya skeptis dengan mata kuliah ini. Seni, yang bagi saya merupakan sesuatu yang adiluhung, mengapa harus tunduk pada ilmu yang menurut hemat saya, amat pragmatis? Singkat cerita, sebagai dosen yang mengampu mata kuliah tersebut, saya jalani saja sambil meraba-raba dalam kegelapan. Silabus ada, tapi masih terlalu umum. Sepertinya performing art di program studi kami lebih diarahkan pada bagaimana menjadi seorang penghibur ( entertainer ) handal, karena terdapat juga pelajaran seperti pengelolaan kesan, hubungan dengan media, dan manajemen even. M...

Victorian - The Journey: Symphonic Metal Bernuansa Religi

Tanggal 24 Maret kemarin, di sebuah kafe yang sedang mengadakan acara musik jazz, saya disodori sebuah album CD dengan deskripsi sebagai berikut: Sampulnya bergambar perempuan bermain biola, mengenakan gaun hitam, dengan latar belakang kastil. Melihat tipografi yang digunakan untuk menuliskan nama band ini, yaitu Victorian, sudah dapat diperkirakan bahwa jenis musik yang diusungnya adalah metal. Pun jika melihat judul-judul lagunya yang mengandung kata-kata seperti " sorrow ", " lie ", " enemy ", " weak ", kita bisa tahu bahwa kemungkinan besar memang metal-lah musik yang dibawakannya. Singkat cerita, saya diminta untuk me- review album berjudul The Journey ini. Makan waktu lebih dari satu bulan untuk me- review album ini. Bukan semata-mata karena saya sok sibuk, melainkan kenyataan bahwa referensi saya tentang musik metal ini biasa-biasa saja. Mungkin iya sedari kecil saya suka Metallica dan pernah menyaksikan langsung pertunjukkan li...

Pekerjaan Rumah

  Dari mulai tanggal 23 Desember 2015 hingga 2 Januari 2016 kemarin, saya ditinggal sendirian di rumah. Istri dan anak berlibur ke Jakarta. Meski demikian, tinggal sendiri ini bukan semata-mata karena keterpaksaan. Saya pribadi memilih untuk sendirian, alih-alih tidur di rumah orangtua yang jelas lebih nyaman dan tak perlu memikirkan kebersihan, kunci-kunci, lampu-lampu, makan pagi hingga malam, dan sebagainya. Mengapa saya memilih untuk sendirian? Alasannya sederhana -tapi bisa juga dikatakan rumit-: Saya ingin merasakan mengurus rumah seorang diri. Semoga dengan demikian, bisa timbul empati pada istri yang sehari-hari memang memfokuskan kegiatannya pada pekerjaan rumah tangga. Ternyata memang saya rasakan pekerjaan rumah ini sungguh tidak ada habisnya. Sebelum tidur harus menutup korden, menyalakan lampu, dan memastikan pintu terkunci. Bangun tidur, saya harus melakukan hal yang sebaliknya. Perut lapar, hidangan tidak langsung terhidang. Saya harus menanak nasi, menyiapkan wa...

Lelaki dan Kurcaci

Untuk istriku, Ibu Rumah Tangga yang hebat: LELAKI DAN KURCACI Kurcaci kurcaci Kemanakah kalian? Handukku berantakan, siapa gerangan yang mau membereskan? Kurcaci kurcaci Piring kotor beronggokan, menimbulkan bau tidak sedap Kemanakah kalian? Kok setiap hari aku tunggu tak juga dicuci Kurcaci kurcaci Aku mencari bajuku yang hilang Biasanya mudah ditemukan diantara tumpukan Aku lihat seprai yang kusut Tepiannya lepas lepas sampai tak lagi berbunyi gedebuk setiap aku lempar sisir di atasnya Kemanakah kalian? Apakah sudah enggan untuk membantuku lagi? Oh iya, kurcaci, tahukah kalian, istriku kemana?