Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Memahami Dunia Melalui Tubuh


(Dimuat dalam katalog pameran tunggal Setiawan Sabana yang berjudul Lakon Tubuh)  
 

Hampir setiap tradisi pemikiran, punya pendapatnya sendiri mengenai tubuh. Dalam Buddhisme misalnya, tubuh dan jiwa adalah satu dan tidak bisa dipisahkan –sama dengan apa yang dipikirkan oleh filsuf Prancis, Maurice Marleau-Ponty yang mengatakan bahwa, “Manusia adalah tubuh yang mer-ruh, dan ruh yang menubuh”-. Pemikir Yunani, Plato, mengatakan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Artinya, yang inti dari manusia, sebenarnya, adalah jiwanya –senada dengan tradisi Islam yang menyebutkan bahwa jiwa kita pernah melakukan perjanjian primordial dengan Tuhan di surga sana, sebelum menjadi lupa karena pengaruh tubuh dan ketertarikannya pada dunia-. Michel Foucault, seorang pemikir posmodern asal Prancis, malah berkata sebaliknya. Katanya, justru jiwa adalah penjara bagi tubuh. Mengapa? Karena tubuh kadang tidak leluasa bergerak oleh sebab jiwa yang terus gelisah menginginkan sesuatu. 

Namun mari fokus membicarakan tubuh dan posisinya dalam agama-agama Abrahamistik. Kristianitas, misalnya, menganggap tubuh itu sebagai suci, tapi juga bergelimang dosa. Tubuh adalah bait Allah, katanya, sehingga dilarang merusaknya oleh hal-hal seperti rajah, rokok, bahkan makanan-makanan yang tidak sehat. Namun dalam tradisi Kristen yang lain, justru tubuh itu menimbulkan “nafsu kedagingan” yang mengganggu kemurnian jiwa. Itu sebabnya, terdapat upacara tertentu yang mencoba mendisiplinkan tubuh itu sendiri dengan cara-cara yang asketik. 

Soal tubuh dalam Kristianitas itu sendiri, pernah digambarkan secara kontroversial dalam film The Last Temptaton of Christ oleh sutradara Martin Scorsese. Dalam film tersebut, disebutkan bahwa Yesus, oleh sebab tubuh manusianya, menjadi punya banyak sifat-sifat manusiawi yang justru bertentangan dengan keilahiannya, seperti rasa takut, sedih, marah, cemas, hingga gairah dan hasrat. Misalnya, ketika Yesus menghidupkan kembali Lazarus yang sudah meninggal, ditampakkan wajahnya yang penuh keheranan, ketakutan, dan jauh dari kesan-kesan yang menunjukkan bahwa dia punya “kesaktian” Ilahiah. 

Dari film tersebut kita bisa mengatakan bahwa tubuh, pada dasarnya, adalah identitas kemanusiaan yang paling hakiki. Ia juga medium terpenting bagi jiwa dalam rangka memahami dunia dengan segala kebahagiaan serta praharanya. Dalam tradisi Islam, kita lihat bahwa Muhammad, dengan cahaya Ilahi yang kuat di dalam dirinya –ditambah lagi jaminan bahwa ia akan masuk surga dan segala tindak tanduknya telah diberkati (di-ma’shum)-, masih merasakan kegelisahan yang besar ketika wahyu pertama turun padanya lewat malaikat Jibril. Ia banyak menyepi di Gua Hira dan tidak menunjukkan kegembiraan sama sekali dengan statusnya yang suci tersebut. 

Artinya, dalam diri orang tersuci sekalipun, tubuh membuat mereka menyadari dunia seutuhnya. Memahami bahwa dunia, tak mungkin dipahami dengan jiwa-jiwa yang murni dan terang senantiasa. Dunia harus dipahami segala realitas, kemajemukan, serta kenisbiannya, dengan segala totalitas yang hanya dipunyai oleh tubuh dengan segenap perangkatnya. 

Tubuh dan Via Positiva 

Dengan pendapat yang begitu berseliweran tentang tubuh, mulai dari yang membahas kesuciannya hingga kehinaannya, bagaimana seharusnya kita menyikapi keberadaan tubuh? Agak sulit untuk menjawab pertanyaan yang agak berbau retoris semacam itu. Mungkin jika kita mengaitkan posisi tubuh dalam tujuannya untuk mencapai pemahaman tentang sesuatu yang luhur, transenden, dan ilahiah, kita bisa mengambil dua sikap. Pertama, adalah via negativa, yaitu melalui tubuh, menolak dunia dan seisinya, dan menjalani kehidupan yang asketik dan menjauhi “kedagingan”. Kita bisa melihat sosok semacam ini pada diri orang-orang seperti bhiksu, pertapa, bahkan pastur. Orang-orang yang melakukan via negativa percaya bahwa tubuh harus didisplinkan, dikelola, dan bahkan kalau perlu, disiksa, agar yang murni hanyalah tinggal jiwa. 

Namun kemudian tidak semua orang menganggap via negativa adalah hal yang paling benar dalam mencapai kemurnian. Ada juga mereka yang via positiva, yaitu orang-orang yang merengkuh dunia sepenuhnya. Tentu ini ada kaitan erat dengan tubuh. Tubuh adalah medium terpenting bagi seseorang untuk mencerap segala yang disenangi oleh penginderaan. Tidak ada masalah bagi penganut pemikiran via positiva ini, untuk bersikap estetik, hedonistik, dan memanjakan tubuhnya seperti kaum Epikurean di zaman Hellenistik. Mereka percaya bahwa kenikmatan-kenikmatan badaniah adalah jalur spiritual terbaik dalam mencapai keilahian. 

Kita tahu bahwa dalam setiap sikap via positiva, selalu menanti rasa sakit sebagai konsekuensi dari setiap kenikmatan badaniah (misalnya, seseorang yang sangat dimanjakan oleh memakan eskrim, tentu akan merasa sakit ketika eskrim yang ia inginkan tidak dapat dibelinya). Rasa sakit itu juga yang sepertinya dihindari oleh para biksu dan pertapa, dengan menolak segala pemanjaan raga. Namun atas segala rasa sakit yang dibawa akibat kenikmatan badaniah tersebut, justru manusia dapat menemukan kemurniannya. Ia dapat merasakan hidup sebagaimana adanya. Bahkan seorang Siddharta Gautama, yang awalnya adalah seorang via negativa sejati dengan segala kehidupan yang asketik dan menjauhi “kedagingan”, pada akhirnya merasa bahwa dunia ini harus diselami dengan segala pahit dan getirnya. Demikian tubuh harus menjadi cara kita dalam –tidak hanya memahami, tapi juga- mencintai dunia dan seisinya. 

Amor Fati, Fatum Brutum

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...