Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Jangan Tumbuh: Musik Sureal yang Menyakitkan

Ditulis dalam rangka acara TAWURAN (Tanya Jawab Ulas Rancangan) Jangan Tumbuh tentang peluncuran video klip Dhira Bongs di The Silk Hotel, Kamis, 26 Juli 2018.



Membicarakan musik adalah sesuatu yang mudah sekaligus sukar. Mudah karena musik amat kuat menimbulkan suatu kesan - Bambang Sugiharto menyebut musik sebagai seni yang paling “langsung” dan “dalam” -. Musik tertentu dapat membuat kita ingat pantai, berduaan bersama kekasih, galau mengenang kematian, marah terhadap otoritas, dan lain sebagainya. Sehingga membicarakan musik menjadi mudah karena hanya tinggal membicarakan impresi-impresi apa yang terbangkitkan dari rangsangan audial itu sendiri.

Membicarakan musik tapi juga sesuatu yang sukar. Alasannya, jika musik menimbulkan suatu impresi dan kemudian kita malah membicarakan impresi itu, lantas apakah kita menjadi membicarakan sesuatu di luar musik? Sebaliknya, jika kita membicarakan musik dalam konteks dirinya sendiri - dalam hal ini, misal, progresi akor, harmoni, tema - improvisasi, kadensa, dan sebagainya -, tidakkah musik malah terkesan menjadi entitas yang kaku, beku, dan malah bertentangan dengan hakikat musik itu sendiri sebagai sesuatu yang dikatakan Nietzsche sebagai “prosesi penting menuju gelegak dan kemabukan hidup”?

Musik karya Dhira Bongs yang berjudul Jangan Tumbuh bisa kita baca dari dua pendekatan di atas. Pertama, secara impresi, lagu Jangan Tumbuh, mengingatkan saya pada lagu yang ditulis tahun 1950 oleh Bernie Wayne dan Lee Morris berjudul Blue Velvet. Blue Velvet kemudian populer ketika dinyanyikan oleh Bobby Vinton pada tahun 1963 - meski sebelumnya juga pernah dibawakan oleh Tony Bennett -.


Blue Velvet kemudian menjadi soundtrack bagi film dengan judul yang sama tahun 1986 karya sutradara David Lynch (yang memang filmnya didominasi warna biru). Tapi agaknya, dari nuansa musiknya - dan pengalaman saya menyaksikan Blue Velvet-nya Lynch -, kemungkinan ada kesamaan kuat antara keduanya: nuansa neo-noir, psikologis, sureal, sekaligus “horor” yang dibalut citra sensualitas yang kuat. Kata-kata yang terakhir ini mungkin bisa mencerminkan impresi saya tentang musik Jangan Tumbuh.


Sekarang tentang musik sebagai dirinya sendiri. Musik ini, jika ingin punya nuansa sureal, tentu saja, secara umum, harus memiliki repetisi - dengan asumsi, seperti halnya house music dan pada sisi yang lain, zikir serta meditasi, mesti mengandung unsur yang repetitif agar mencapai suatu “ketinggian” tertentu -. Namun Jangan Tumbuh, yang mengagetkan, tidak memberikan repetisi. Lagu berdurasi 02:31 ini, jika dibedah berdasarkan perubahan progresi akornya, terdiri dari tiga bagian. Uniknya, tiga bagian itu tidak diulangi lagi sehingga pendengar kemungkinan agak sukar menemukan bagian “inti” yang “singalongable”. Titik ini membuat musik Dhira dan Blue Velvet-nya Wayne dan Morris menjadi sangat berbeda. Pada Blue Velvet, ada tendensi sureal yang kuat lewat tempo yang mendayu, suara Bobby Vinton yang punya unsur reverb, dan tentu saja, bagian yang diulang-ulang - kita pasti akan ingat selalu: “she wore blue velvet…” -.

Mengapa Dhira melakukan ini, saya tidak yakin motifnya apa. Mungkin ada semacam pemikiran jauh tentang bagaimana agar kesan sureal dipotong dengan tanggung dan menyakitkan, agar sesuai dengan “pesan moral” yang tertuang dalam liriknya yaitu tentang cinta yang jangan tumbuh.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...