Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Merenungkan Hidup Versi Frank Martela


Buku Frank Martela yang berjudul Hidup Ini Indah (Gramedia Pustaka Utama, 2023) bisa dikatakan sebagai buku filsafat dengan gaya populer. Buku ini lebih tepatnya membahas tema eksistensialisme, tetapi tidak seperti umumnya teks-teks dengan tema tersebut yang cenderung murung (Kierkegaard, Camus, Dostoyevsky), nuansa tulisan Martela ini cukup terang dan malah berbau self-help. Tawaran Martela sederhana saja, bahwa makna dalam hidup tidak perlu dicari, karena hidup sudah bermakna dengan sendirinya. Di halaman 157, Martela menuliskan, "Kebermaknaan bukan sesuatu yang langka atau jarang. Itu adalah pengalaman yang ada dalam banyak momen sehari-hari kita dalam bentuk yang kuat maupun lemah." Hal ini dijustifikasi dalam tulisannya di website: 

"My key message in the book is that meaningfulness is not something grand and given to you from above. It is something happening within your life, and typically what makes your life meaningful are very mundane things like spending time with the family or having fun with your friends."

Jadi, menurut Martela, apa yang sudah kita jalani sehari-hari, itu sudah bermakna, tidak perlu mencarinya lagi. Sebagai ilustrasi, filosof eksistensialisme bergulat merumuskan bahwa makna hidup adalah A, makna hidup adalah B, tetapi melupakan bahwa makna hidup jangan-jangan ada pada hari-hari bersama sahabat dan keluarga. Apakah pandangan semacam ini bisa dikategorikan dalam atau dangkal? Kesimpulannya mungkin "dangkal" dalam artian "Yah, kesimpulan begitu aja sih kita juga tahu," tapi jalan menuju kesimpulan itulah yang menarik. 

Jalan serupa juga kelihatannya ditempuh Heidegger yang begitu rumit dalam menuliskan gagasannya tentang Dasein untuk sekadar menyatakan bahwa manusia sudah hidup-bersama-dunia: bekerja, bergaul, tanpa perlu "berpikir tentang dunia". Heidegger mengritik pandangan Descartes tentang "aku berpikir maka aku ada" dengan membalikannya: "Kita sudah ada sebelum memikirkannya". 

Namun harus diakui bahwa filsafat tidak melulu menjatuhkan simpulannya pada "yang keseharian". Dalam salah satu kuliah yang saya terima di STF Driyarkara, seorang dosen mengatakan bahwa filsafat perlu dibedakan dari kegiatan sehari-hari. Saya paham pendapat semacam itu: filsafat berbeda dengan kegiatan sehari-hari. Lebih jauh lagi, filsafat mencoba menemukan penjelasan tentang apa yang menjadi landasan hidup sehari-hari. Filsafat berupaya mencari hakikat, karena gemas dengan kehidupan sehari-hari yang serba permukaan dan tak stabil. Jika kita kembali pada Martela bahwa hidup ini sudah bermakna salah satunya dalam momen-momen kita bersama sahabat dan keluarga, aliran filsafat tertentu beranggapan: justru momen-momen itu "menipu" kita. Momen-momen itu hanyalah pengalaman inderawi yang datang dan pergi. Kita harus mencari hal apa yang lebih mendasar dari semua itu. 

Di sisi lain, Martela membela momen-momen keseharian sebagai hal yang paling hakiki. Saat pergi beli rokok ke minimarket misalnya, kita datang ke kasir, mengatakan ingin membeli rokok merk A, lalu membayarnya. Itu adalah momen keseharian. Tidak ada dalam momen itu: kapitalisme, liberalisme, individualisme, dan -isme -isme lainnya. Momen itu hanyalah momen itu. Kira-kira demikianlah maksud Martela, bahwa kita jangan mencari-cari makna di balik hal yang sudah jelas-jelas bermakna. Di sinilah kadang filsafat itu membingungkan dalam artian ingin sok asik dengan "yuk balik lagi ke hari-hari kita", tapi juga sekaligus, "sini-sini saya jelaskan gimana keseharian itu". 

Namun kelihatannya filsafat tidak melulu berakhir di kesimpulan. Kesimpulan filsafat kadang sesuatu yang sangat sederhana dan mungkin sudah dijalani sebagian besar orang dalam keseharian (tanpa harus berfilsafat). Filsafat hanya membuat kesimpulan itu menjadi lebih tebal. Jalan yang ditempuh filsafat adalah "jalan mengabstraksi" untuk melihat keseharian dari ketinggian, untuk kemudian menyadari bahwa ketinggian itu kadang terlalu menakutkan sehingga rindu-untuk-mendarat. Saya pikir tanpa Martela mengatakan "kita harus mendarat", filsafat akan mendarat dengan caranya sendiri, karena cemas akan ketinggian itu. Biarkan filsafat dengan segala ketinggiannya terbang dalam kepala kita, tetapi dari ketinggiannya itu, tubuh hari-hari semakin kangen untuk membumi.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...