Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Seperti Hewan, Seperti Mesin


Ilustrasi dihasilkan oleh AI


Ada macam-macam pengandaian untuk manusia tertentu yang dianggap tak-lagi-seperti-manusia. Dalam sebuah pertarungan UFC (contoh ini dipilih karena saya sering menontonnya di Youtube), misalnya, seorang petarung yang begitu ganas dalam melancarkan pukulan dan bantingan bisa diibaratkan oleh komentator "seperti hewan". Mungkin karena petarung tersebut begitu "kehilangan akal", memanfaatkan hanya nalurinya untuk menerkam, memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk menghabisi mangsa. 

Ada juga perandaian lain yang non-manusia, yaitu mesin. Menyebut manusia sebagai mesin sama-sama memperlihatkan "kehilangan akal", tetapi lebih menunjuk pada suatu gerakan otomat, kadang repetitif, yang kelihatannya bisa dilakukan berulang-ulang tanpa mengenal rasa lelah. Mungkin bisa dibayangkan pada Cristiano Ronaldo muda yang larinya begitu kencang atau petinju yang bisa menghujamkan pukulan terus menerus seolah-olah dia diprogram demikian. 

Tubuh adalah poin penting yang dibicarakan di sini. Menjadi hewan artinya membiarkan tubuh dikendalikan oleh insting. Jika seseorang membiarkan nafsu makan atau seksualnya tak terkendali, misalnya, kita bisa ibaratkan juga dirinya seperti hewan. Tetapi insting ini juga bisa dikendalikan, dibentuk, dan diarahkan, melalui penempaan yang bisa jadi menyerupai mesin. Para petarung UFC, katakanlah, menjalankan latihan yang rutin dan berat, bukan untuk mengatasi instingnya, tetapi agar instingnya ditujukan untuk mencapai suatu tujuan yang lebih spesifik, dalam hal ini, memenangkan pertarungan. 

Menjadi mesin memang bukan perkara tujuan, tetapi lebih pada sarana. Mesin adalah perandaian untuk perintah yang dilaksanakan dengan sepresisi mungkin tanpa membantah atau memberontak. Perhatikan Ivo Karlovic si petenis tinggi itu kalau bermain: ia tampak patuh pada rencana, tanpa membantah, yakni permainan serve and volley. Di luar itu, Karlovic sukar untuk menerima program yang lain. Karlovic adalah mesin. Mesin yang ingin menang, tapi ke-mesin-an-nya lebih dominan. 

Menjadi seperti hewan, seperti mesin, adalah usaha manusia mengatasi ke-manusia-an-nya. Tetapi apa arti menjadi manusia, jika demikian? Berakal budi adalah jawaban paling umum. Manusia memiliki akal budi, tetapi kelihatannya tak membuatnya kemana-mana. Akal budi bisa membuat manusia merenungkan sesuatu, mengabstrasikannya, memikirkan pikirannya sendiri, mengkategorisasikan. So what? Itu adalah pemrograman serupa mesin, yang AI semakin canggih mereplikasinya. Akal budi tak membawa kita kemana-mana tanpa insting yang selalu mempunyai arah. Kita memecahkan persoalan dengan akal budi, karena insting mengatakan bahwa persoalan ini akan membahayakan jika tak diatasi. 

Menjadi manusia, dengan demikian, bukanlah tentang akal budi yang dijunjung tinggi. Akal budi adalah "mesin yang diprogram untuk berpikir". Manusia adalah tentang mengikuti instingnya, yang tinggal dipilih apakah akan ditempa secara mekanistik atau tidak, seringan atau seberat apa, dalam rangka memenuhi suatu tujuan. Sekurang-kurangnya, secara umum, memenuhi tujuan untuk bertahan hidup - takut akan mati. Maka pada akhirnya, seperti Cristiano Ronaldo muda atau petarung UFC: jadilah manusia, makhluk yang "kehilangan akal".

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...