Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya. Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...
Setelah menjalani program harian dari RS selama lebih dari dua minggu, saya juga sekaligus mendapat pandangan darinya berkenaan dengan yoga, jurnal rasa syukur, dan hal-hal yang berhubungan dengan ketenangan batin atau well-being. Well-being memang bukan perkara perbaikan mental dan pola pikir saja, melainkan juga memerlukan latihan dan kedisiplinan tubuh tertentu. Mesti ada yang sekaligus dipraktikkan dalam rangka mencapai ketenangan batin tersebut.
Saya memang belum sampai pada latihan pernapasan, meditasi dan serangkaian penempaan tubuh lainnya. Saya baru sampai pada tahap berolahraga rutin dan bagi saya hal demikian sudah prestasi yang lumayan. Namun atas pandangan-pandangan RS, saya kemudian merenungkan apakah hal demikian, termasuk program harian yang tengah saya kerjakan ini, bertalian dengan kelas sosial tertentu, yang katakanlah, memiliki cukup punya akses terhadap pengetahuan dan memiliki waktu luang yang lumayan?
Tanpa bermaksud merendahkan kelas sosial tertentu, dalam pengamatan yang terbatas, saya tidak pernah tahu ada katakanlah, satpam atau tukang parkir yang menulis gratitude journal atau memeluk diri sendiri sebagai manifestasi self-love. Mungkin pengetahuan semacam itu tidak terdistribusi secara merata dan persis disitulah salah satu persoalannya: hanya kelas sosial yang cukup punya akses dan waktu luang yang bisa menjalankan metode tertentu dalam mencapai well-being.
Tetapi jikapun katakanlah satpam atau tukang parkir kemudian mengetahui perkara jurnal rasa syukur dan self-love, akankah metode demikian dijalankan? Saya juga tidak terlalu yakin. Mungkin tampak kurang praktis, meskipun dalam kelas sosial yang lebih atas, justru pemilihan metode-metode ini dianggap lebih praktis dalam artian: memiliki dampak yang kurang lebih bisa langsung dirasakan ketimbang sebutlah agama.
Dalam hal ini terdapat perbedaan pemaknaan tentang apa yang "praktis". Agama dinilai praktis bagi kelas bawah, karena di dalamnya sudah mencakup "segala", mulai dari gerakan-gerakan dalam ritual, perapalan rasa syukur, penempaan tubuh dalam bentuk berpuasa, sampai konsep self-love dalam arti tertentu. Sementara bagi kelas atas, agama mungkin oke, tetapi tidak cukup paten untuk memberikan dampak secara langsung.
Kelas semacam ini memerlukan suatu pendekatan yang lebih keras, tetapi bisa berpengaruh lebih cepat ketimbang agama yang mungkin dipandang terlalu abstrak dan metafisis. Mereka bersedia untuk keluar uang, menghabiskan hari-hari untuk latihan pernapasan, mengonsumsi makanan sehat yang mahal, sebagai cara untuk mencapai well-being dengan lebih ringkas. Karena apa? Hari-hari mereka dipenuhi percepatan. Pencapaian well-being lewat agama semata dianggap terlampau lamban dan bertele-tele.
.png)
Comments
Post a Comment