Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Program Harian



Akhir Desember 2024, saya berjumpa dengan kawan bernama RS. Setelah ngobrol cukup lama, RS menawarkan semacam program-perbaikan-gaya-hidup terutama terkait konsumsi makanan dan olahraga rutin. Sebenarnya saya cukup akrab dengan disiplin-disiplin semacam itu. Tahun 2017, saya pernah diet keto selama sekitar dua minggu dan berat badan berhasil turun secara drastis. Sejak kena cancel sekitar delapan bulan lalu, memang saya tidak pernah secara intens memperhatikan diri sendiri. Makan bebas saja yang penting makan. Olahraga sesekali saja, itupun kalau ingat. 

Pertimbangan RS tidak cuma kesehatan fisik, melainkan juga mental dan ujungnya bisa jadi spiritual. Problem yang saya alami tidak mudah untuk dilewati hanya dengan perbaikan-perbaikan pada pikiran, tapi juga mulai dari disiplin tubuh. Saya setuju dan mengikuti program yang diberikan RS. Kata RS, pelan-pelan saja, baby step. Tidak usah langsung berubah secara drastis. 

Program tersebut mengharuskan saya untuk tidak menyentuh makanan-makanan manis dan mengandung karbohidrat. Selain itu, dalam program yang menyertakan jurnal yang wajib diisi setiap hari itu, saya diminta untuk mengisi perihal olahraga yang dijalankan di hari itu, jumlah rokok yang dihisap, jenis minuman yang dikonsumsi, serta gambaran mood dan energi. Lumayan, dengan cara ini, saya jadi lebih disiplin. RS melakukan kontrol setiap pagi dan sejauh ini saya masih konsisten mengirimkan laporan. 

Pelan-pelan tubuh mulai terbiasa. Melihat nasi rasanya sudah tidak berselera lagi. Terhadap yang manis-manis saya masih suka ingin sesekali, tetapi tidak nagih seperti dulu. Olahraga pun dari yang tadinya malas, sekarang sangat diusahakan meski cuma push up sepuluh kali. Dampaknya mulai terasa, tidak cuma tubuh lebih ringan tetapi juga: tidur lebih teratur, perasaan lebih tidak terlalu menggebu-gebut, dan stamina rasanya lebih baik. 

Juga saya jadi ingat bahwa olahraga dan berkarya memang dua hal yang tak usah dipisahkan. Mungkin saya pernah berpendapat bahwa olahraga tak seberapa penting karena berkarya adalah sekaligus usaha "merusak" tubuh untuk mendapat kemurnian pikiran/ gagasan. Maka itu merokok dan minum-minum bisa lebih mendorong karya untuk termanifestasi ketimbang bergaya hidup sehat. Saya tetiba ingat Haruki Murakami yang rajin marathon sampai usia tua dan terbukti masih produktif berkarya. Papap pun demikian, sampai usia 70-an masih mampu berpameran tunggal ditopang kebiasaan pingpong-nya di hari Minggu. Jadi, mengapa tidak? 

Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa usia saya menjelang kepala empat. Perkara kesehatan menjadi kian sensitif apalagi saya memang mengidap Diabetes Tipe 2. Pada akhirnya manusia memang akan sakit dan mati, tetapi mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat memberi semacam penghiburan psikologis bahwa saya kelihatannya akan hidup lebih lama.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...