Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Akhir Desember 2024, saya berjumpa dengan kawan bernama RS. Setelah ngobrol cukup lama, RS menawarkan semacam program-perbaikan-gaya-hidup terutama terkait konsumsi makanan dan olahraga rutin. Sebenarnya saya cukup akrab dengan disiplin-disiplin semacam itu. Tahun 2017, saya pernah diet keto selama sekitar dua minggu dan berat badan berhasil turun secara drastis. Sejak kena cancel sekitar delapan bulan lalu, memang saya tidak pernah secara intens memperhatikan diri sendiri. Makan bebas saja yang penting makan. Olahraga sesekali saja, itupun kalau ingat.
Pertimbangan RS tidak cuma kesehatan fisik, melainkan juga mental dan ujungnya bisa jadi spiritual. Problem yang saya alami tidak mudah untuk dilewati hanya dengan perbaikan-perbaikan pada pikiran, tapi juga mulai dari disiplin tubuh. Saya setuju dan mengikuti program yang diberikan RS. Kata RS, pelan-pelan saja, baby step. Tidak usah langsung berubah secara drastis.
Program tersebut mengharuskan saya untuk tidak menyentuh makanan-makanan manis dan mengandung karbohidrat. Selain itu, dalam program yang menyertakan jurnal yang wajib diisi setiap hari itu, saya diminta untuk mengisi perihal olahraga yang dijalankan di hari itu, jumlah rokok yang dihisap, jenis minuman yang dikonsumsi, serta gambaran mood dan energi. Lumayan, dengan cara ini, saya jadi lebih disiplin. RS melakukan kontrol setiap pagi dan sejauh ini saya masih konsisten mengirimkan laporan.
Pelan-pelan tubuh mulai terbiasa. Melihat nasi rasanya sudah tidak berselera lagi. Terhadap yang manis-manis saya masih suka ingin sesekali, tetapi tidak nagih seperti dulu. Olahraga pun dari yang tadinya malas, sekarang sangat diusahakan meski cuma push up sepuluh kali. Dampaknya mulai terasa, tidak cuma tubuh lebih ringan tetapi juga: tidur lebih teratur, perasaan lebih tidak terlalu menggebu-gebut, dan stamina rasanya lebih baik.
Juga saya jadi ingat bahwa olahraga dan berkarya memang dua hal yang tak usah dipisahkan. Mungkin saya pernah berpendapat bahwa olahraga tak seberapa penting karena berkarya adalah sekaligus usaha "merusak" tubuh untuk mendapat kemurnian pikiran/ gagasan. Maka itu merokok dan minum-minum bisa lebih mendorong karya untuk termanifestasi ketimbang bergaya hidup sehat. Saya tetiba ingat Haruki Murakami yang rajin marathon sampai usia tua dan terbukti masih produktif berkarya. Papap pun demikian, sampai usia 70-an masih mampu berpameran tunggal ditopang kebiasaan pingpong-nya di hari Minggu. Jadi, mengapa tidak?
Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa usia saya menjelang kepala empat. Perkara kesehatan menjadi kian sensitif apalagi saya memang mengidap Diabetes Tipe 2. Pada akhirnya manusia memang akan sakit dan mati, tetapi mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat memberi semacam penghiburan psikologis bahwa saya kelihatannya akan hidup lebih lama.
.png)
Comments
Post a Comment