Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kepemilikan (2)

 

 

Agak rumit juga ternyata menyatakan hal apa yang benar-benar menjadi milik kita. Locke di abad ke-17 menyatakan bahwa sesuatu dinyatakan sebagai milik pribadi dengan mengacu pada hasil kerja. Saya bekerja mendapatkan uang, uang tersebut saya belikan laptop, maka laptop itu menjadi milik saya. Selain itu, sesuatu menjadi dikatakan milik saya jika laptop tersebut dibeli atas hasil kerja orang lain, lalu diberikan pada saya secara sah (bukan hasil mencuri). 

Problemnya tidak selesai sampai di situ. Jika memang hasil kerja menjadi acuan kepemilikan, bukankah yang mengerjakan laptop tersebut juga adalah sekaligus para buruh? Jika buruh yang mengerjakannya, mengapa bukan mereka saja yang memiliki laptop tersebut? Ironisnya, buruh-buruh yang mengerjakan laptop tersebut bisa jadi malah tidak mampu membelinya. 

Meski menyisakan masalah hingga berabad-abad, sumbangsih Locke tetap penting untuk menemukan justifikasi kepemilikan pribadi. Tadinya, konsep tersebut tidak jelas karena segala kepemilikan mengacu pada tuan tanah atau para bangsawan. Rakyat jelata dipandang sebagai kaum yang "tak punya apa-apa" kecuali mengerjakan atau menggarap hal-hal yang dimiliki dan dikuasai oleh golongan yang lebih tinggi. 

Konsep kepemilikan, utamanya kepemilikan individu, memang problematik, tetapi di sisi lain, kepemilikan bersama tanpa sekat juga tak kalah bermasalahnya. Meski kita bisa membayangkan suatu lahan yang digarap bersama untuk kepentingan bersama, tetap saja lahan tersebut mesti diklaim sebagai milik suatu kelompok, supaya kelompok di luarnya tidak bisa tiba-tiba nyelonong menggarap lahan itu. 

Kolektivisme memang mungkin, tetapi membayangkan kolektivisme universal yang mencakup segala hal di dunia menjadi milik bersama adalah sesuatu yang utopis juga. Ibarat jargon dunia hari ini yang mengatakan bahwa kehidupan bermasyarakat tak lagi berkompetisi melainkan berkolaborasi, pada kenyataannya: kompetisi di antara pihak-pihak yang berkolaborasi. 

Apa poin dari semua ini? Dulu saya agak aneh dengan dogma "harta tak dibawa mati". Bagaimana mungkin sesuatu yang telah kita kumpulkan dengan susah payah kemudian tak menjadi hitungan di kehidupan berikutnya jika memang jiwa ini abadi? Bukankah usaha-usaha menumpuk harta di dunia, yang menjadi hari-hari kita (mengalahkan ibadah spiritual), kemudian menjadi sia-sia? 

Ternyata, setelah direnung-renungkan, poinnya bukan pada usahanya, melainkan pada status kepemilikan itu sendiri yang problematik. Meski tampak mudah untuk menyimpulkan bahwa ada barang atau segala sesuatu yang menjadi "milik saya", tetapi kenyataannya status kepemilikan tersebut punya banyak tafsir. 

Buku yang kita beli, ditulis oleh pikiran orang lain, dijilid oleh percetakan, dijual di toko buku oleh penjual buku, dan sampai ke tangan kita dengan cara dibeli oleh uang yang berasal dari gaji kita. Tampak sederhana, tetapi tidak juga. Buku itu menjadi "milik saya" karena suatu versi saja yang menyimpulkan demikian. Kenyataannya, kita bisa perdebatkan versi lain, yang menyatakan bahwa buku tersebut bisa saja bukan milik saya seorang, tapi milik pihak-pihak lain juga (yang terlibat di dalamnya). 

Saya berusaha untuk tidak melompat pada urusan spiritual, tetapi rupanya tak terhindarkan juga. Jika status kepemilikan kita dengan sendirinya problematik, maka memang jangan-jangan tak ada yang benar-benar kita punya. Hal yang kita anggap telah memilikinya, hasil jerih payah kita sendiri, bisa hilang dengan cara apapun, seperti diambil begitu saja, meski sudah ditahan-tahan sekuat tenaga. 

Kita bisa menyatakan anak adalah milik kita, tapi anak itu bisa diambil kapan saja. Kita bisa menyatakan bahwa uang ini adalah milik kita, tapi uang itu bisa menguap tiba-tiba, oleh suatu keperluan yang tak disangka-sangka. Kita bisa mengklaim bahwa reputasi kita adalah hasil jerih payah kita, tapi begitu diambil, ya sudah, mungkin memang awalnya juga statusnya adalah pinjaman. Jika memang kita sudah sedari awal tak punya apa-apa, lalu mendapat pinjaman, dan pinjaman itu diambil lagi oleh yang punya, lantas, masalahnya di mana?

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...