Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Rumah Masa Kecil

Beberapa hari yang lalu, saya pindahan dari apartemen ke rumah peninggalan orang tua. Keduanya telah wafat dan setelah melalui sejumlah perundingan, diputuskan bahwa istri dan saya meninggali rumah tersebut setidaknya hingga setahun ke depan. Setelah hampir lima tahun berpindah-pindah kostan dan apartemen, akhirnya kami tinggal di sebuah rumah, lengkap dengan pekarangan dan tetangga-tetangga. Tinggal di apartemen tentu ada tetangga, tapi tidak bisa dikatakan bahwa mereka itu benar-benar tetangga. Mereka hanya tinggal bersebelahan, itu saja. Sementara di rumah ini, ada banyak tetangga yang sudah mengenal keluarga kami sejak lama. Mau tidak mau, kami harus (belajar kembali untuk) menyapa, bersikap ramah, dan ngobrol ini itu tentang kehidupan sehari-hari. 

Sempat berbulan-bulan tidak ditinggali, saya kira rumah tersebut menjadi asing. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir memang saya hanya sesekali saja berkunjung. Ternyata tidak. Rumah tersebut langsung terasa akrab. Memori tinggal belasan tahun adalah kehangatan yang tak dapat dipungkiri. Bahkan setiap sudut rumah itu membangkitkan kenangan. Saya seperti melihat papap mondar mandir, menyirami tanaman di pekarangan, mengulik karya di garasi, dan duduk di meja makan. Saya seperti melihat mamah bersiap-siap pergi mengajar, menyiapkan makanan untuk papap, ikut sibuk mengurus acara di garasi, dan dimana-mana. Termasuk di mata para tetangga, hansip, dan pedagang yang lalu lalang. Mereka semua ingat mamah dan papap. Mengenangnya dengan cara yang baik. 

Rumah mungkin hanya sebongkah bangunan. Tembok-tembok pembatas dan atap. Namun di dalamnya ada orang yang pernah tinggal, beraktivitas, berelasi, menumpahkan emosi: marah dan cinta, serta membangun harapan. Saat orang yang pernah tinggal itu pergi, hal-hal semacam itu masih bertahan, terhubung dengan cara yang aneh. Yang bagi saya, kadang membuat keueung sekaligus menenangkan. Lebih mudah membayangkan mereka "hadir", menghantui setiap pojok ruangan, sehingga menetapi rumah itu menjadi punya nilai. Punya sentimen yang membuat galau sekaligus memberi kekuatan. 

Saya tinggal di sini sejak kalau tidak salah, kelas 4 atau 5 SD hingga menikah pertama kali tahun 2012. Entah berapa lama saya tinggal, mungkin kira-kira 17 atau 18 tahun. Di lantai atas ada perpustakaan yang dibangun papap. Di sana ada ratusan buku, mungkin sekitar lima ratus, dengan topik seputar seni, filsafat, dan agama. Sekarang buku-buku itu terbengkalai, terpikir untuk dibagi-bagikan, tetapi tunggu dulu, mungkin perpustakaan ini bisa dibuat agak serius, dibuka untuk publik suatu hari nanti. Garasi rumah, yang dulu sempat dinamai Garasi10 dan sempat ramai diadakan beraneka kegiatan selama lebih dari sepuluh tahun, juga bingung bagaimana caranya agar bisa diaktifkan kembali. 

Jebakan nostalgia mungkin membuat saya merasa harus untuk membangun kembali semua itu. Ada cita-cita papap dan mamah yang mesti dikawal, tapi di sisi lain, ada juga perasaan: kehidupan memang sudah berubah, apa yang pernah indah menghiasi kenangan, mungkin sebaiknya tetap tinggal dalam kenangan. Perpustakaan mungkin tak perlu dibangun kembali menjadi sesuatu, tetapi perpustakaan itu telah bertransformasi dalam diri saya menjadi semangat membaca yang terjaga hingga kini. Garasi10 dengan berat hati tak perlu dihidupkan lagi di rumah ini, tapi mungkin di tempat tinggal saya berikutnya. Disamping itu, Kelas Isolasi yang tengah saya bangun sekarang bersama kawan-kawan, adalah semacam "Garasi10 yang tengah dihidupkan", yang tak lagi terikat tempat, tapi tetap lestari dalam bentuk lain. 

Dalam perasaan sentimentil ini, saya tak pernah lupa kata-kata Pak Awal Uzhara, bahwa orang yang wafat tidak kemana-mana, mereka hidup dalam gelak tawa dan kesedihan kita. Juga bisa ditambahkan: mereka hidup dalam pikiran-pikiran dan cita-cita kita.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...