Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Yang Klise


Bagaimana jika dunia ini bergerak dalam rangka menjauhi "yang klise"? "Yang klise" adalah segala sesuatu yang kita anggap usang, ketinggalan, basi, lebih karena ia diulang-ulang dan terus dibunyikan. Apakah sesuatu menjadi "yang klise" karena ia keliru atau tidak lagi dapat diandalkan? Tidak selalu seperti itu. "Yang klise" belum tentu salah, ia ditinggalkan karena orang menginginkan yang lebih segar, lebih baru, lebih terdengar berbeda dan belum ada sebelumnya. Kalaupun "yang klise" itu tetap ada, ia dikemas ulang, disuarakan dengan cara yang berbeda. 

Kalau saya mengatakan, "Ini sudah abad ke-21 dan kau masih membicarakan Plato?" Itu bukan berarti Plato keliru dan tak lagi relevan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa Plato telah menjadi "yang klise" karena banyak orang telah mengenal dan membicarakannya. Saya bosan dengan Plato. Lalu saya memikirkan hal lain, yang berbeda dengan Plato. Mungkin bedanya tidak banyak, sedikit saja, hanya supaya Plato tidak lagi dibicarakan terlalu sering dan orang-orang mulai membicarakan apa yang saya pikirkan sebagai sesuatu yang bukan baru, hanya lebih "segar". 

Saya mendengar Martin Suryajaya sendiri mengatakan tentang alasan mengapa ia memilih filsafat analitik. Selain mungkin karena minat, ia juga mengemukakan alasan yang menarik: "Aku udah sumpek sama Derrida dan Deleuze," katanya. "Sumpek" bukanlah alasan logis, juga filosofis, "sumpek" adalah respons terhadap "yang klise". Martin mungkin tidak menganggap Derrida atau Deleuze keliru, bisa jadi ia hanya menganggap bahwa kedua pemikir tersebut sudah terlalu ramai dibicarakan, sehingga ia perlu berbicara tentang sesuatu yang jarang, supaya orang lebih tersegarkan, supaya ia sendiri menjadi tidak "sumpek". 

Lantas, bagaimana dengan orang yang kelihatannya senang dengan "yang klise" dan bahkan kerap mengandalkannya? Misalnya, orang yang senang menjiplak atau mengulang-ulang konsep yang sudah pernah. Ada dua kemungkinan. Pertama, ia tidak benar-benar terpaku pada "yang klise" dan mungkin sedikit-sedikit membuat perbedaan. Setidaknya, lewat ucapan atau tangannya, ia menjadikan "yang klise" itu tidak pernah benar-benar sama dengan yang sebelumnya. Kedua, mungkin ia "membohongi diri"-nya sendiri, semacam jatuh pada penipuan terhadap dirinya sendiri. Ia tahu ia bosan dan muak dengan "yang klise", tetapi ia mengabaikannya, atau lebih tepatnya: ia terpaksa menerima "yang klise", meski penerimaan terhadap "yang klise" ini adalah sebentuk pergulatan batin. 

Tapi bukankah "yang klise" terus dipegang oleh suatu kelompok masyarakat tertentu yang katakanlah, memegang teguh tradisi dan adat istiadat? Mungkin mereka mengagungkan "yang klise", menganggapnya sebagai sesuatu yang suci dan layak disembah. "Yang klise" di sini justru diperlakukan sedemikian rupa sehingga menerimanya justru menjadi sesuatu yang menenangkan, sejalan dengan batin. Sebaliknya, meninggalkan "yang klise" menjadi sesuatu yang menggelisahkan, membuat siapapun itu merasa telah membohongi dirinya. 

Jadi, bagaimana sebenarnya gerak dunia yang "hakiki"? Apakah diam mensucikan "yang klise" atau punya tendensi menjauhinya? Saya cenderung memilih yang kedua. Kita akan selalu bergerak menjauhi "yang klise", dengan cara yang berbeda-beda: ada yang cepat dan revolusioner, ada yang sangat lambat hingga memerlukan ratusan bahkan ribuan tahun, atau ada yang berusaha tetap bersamanya dengan memuja serta mensucikannya, tetapi lama kelamaan akan luntur juga diterpa entah apa, mungkin apa yang orang-orang sebut sebagai "zaman".

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...