Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Hewan



Saya tidak pernah merasa diri seorang penyayang binatang, karena apa yang saya suka hanya satu jenis binatang yaitu kucing. Dari kecil, saya selalu suka kucing dan hanya karena dalam dua tahun belakangan ini saya memutuskan tinggal di apartemen, kucing-kucing tersebut akhirnya ditinggal di rumah orangtua. Saya merasa sebutan "penyayang binatang" itu terlalu berat karena artinya saya tidak hanya harus suka kucing, tapi juga anjing, burung, kecoa, cicak, semut, dan lainnya. Harus diakui, saya memang "penyayang binatang tertentu yang saya anggap lucu dan membuat saya terhibur".

Sejak tahun 2019, saya dan istri (dulu masih pacar) memelihara kucing bernama Eman yang diberikan oleh seorang teman namanya Gloria. Tidak perlu saya ceritakan bagaimana lengkapnya kami memelihara Eman tapi pada saat saya menulis tulisan ini, atau saat usia Eman hampir empat tahun, dia tengah dalam kondisi sakit serius. Sudah kami bawa ke dokter, Eman dinyatakan mengidap virus yang sukar sembuh, bahkan hampir bisa dibilang seperti Corona-nya kucing. Bisa dikatakan, harapan hidupnya tipis, yang bisa dilakukan adalah mengatasi rasa sakitnya sebisa-bisa, sambil menyiapkan mental perlahan-lahan untuk kepergiannya. Hiks. 

Saya kemudian bertanya-tanya, mengapa kehilangan hewan peliharaan selalu merupakan peristiwa yang menyedihkan? Padahal ini bukan kejadian pertama kali dan mungkin entah keberapa puluh kali. Harusnya saya sudah lebih siap dan terbiasa. Membicarakan hewan memang menarik. Diogenes mengatakan: hiduplah sesuai natur, lihatlah hewan dan anak-anak. Bagi Diogenes, rasionalitas, akal budi, yang senantiasa diagungkan sebagai fakultas yang hanya dipunyai manusia, justru menjauhkan mereka dari "fitrah"-nya (hal yang kurang lebih mirip dibunyikan juga oleh Rousseau). Itulah mengapa Diogenes memilih untuk hidup "seperti anjing": menggelandang, mengais sisa-sisa makanan, dan tidur di tong. Dengan "menjadi anjing", Diogenes merasa dirinya bebas, tidak terikat aturan apapun yang dibuat-buat oleh masyarakat - bahkan dalam cerita yang sangat terkenal, Diogenes berani menolak tawaran baik dari Aleksander Agung. 

Melompat ke narasi lain, saya selalu ingat bagaimana dalam khotbah-khotbah Idul Adha, sudah lumrah jika khotib mengatakan bahwa menyembelih hewan adalah cara untuk "menyembelih sifat-sifat hewani dalam diri kita". Pertanyaannya, mengapa sifat hewani mesti disembelih? Sifat hewani mana yang membuat manusia ingin senantiasa menumpuk kekayaan? Sifat hewani mana yang membuat manusia ingin membantai manusia lainnya atas dasar ideologi? Justru apa yang saya lihat adalah sebaliknya: jika yang dikatakan sifat hewani adalah nafsu-nafsu untuk memenuhi kebutuhan dasar, justru tidak ada yang salah dengan "sifat hewani", yang problematik adalah nalar manusia untuk menjustifikasi sifat hewani itu. Manusia ingin mengatasi lapar sehingga harus makan, itu masih oke, tapi manusia tidak hanya ingin mengatasi lapar untuk hari itu, ia juga ingin mengatasinya untuk besok, untuk minggu depan, bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun ke depan, bahkan hingga tujuh turunan! 

Hewan tidak punya nalar dalam arti intelek sebagaimana yang kita punya (anggap saja demikian). Hewan mungkin berpikir pada kadar tertentu, tapi hanya manusia (setidaknya ini yang saya pelajari dalam kuliah-kuliah filsafat tertentu) yang mampu "berpikir tentang berpikir". Secara epistemologi, saya tidak bisa merasakan sakitnya hewan jika ia disiksa oleh manusia, tapi hal yang lebih menjadi perhatian: penyiksaan terhadap hewan adalah penyiksaan terhadap makhluk tidak berdaya atas nama suatu arogansi nalar. Mereka yang menyiksa binatang, mempunyai perasaan lebih superior karena memiliki akal budi. Linkola tersengat oleh kenyataan ini, hingga menyatakan ketidaksetujuannya pada konsep HAM yang menjadikan seluruh manusia setara: "Oh tidak, manusia tidak setara, ada kok, yang lebih rendah dari hewan, yaitu mereka, yang rajin merusak alam." 

Mari kembali ke perkara hewan peliharaan: mengapa begitu sedih kehilangan hewan peliharaan? Begitulah, kadang, atau seringnya, kita bosan bertemu manusia, karena urusan-urusan transaksional yang melelahkan. Meski menjadi bagian dari umat manusia, kita juga sering muak dengan umat kita sendiri yang serba hipokrit dan serba melakukan justifikasi terhadap nafsu-nafsu dasariahnya. Pada momen-momen itu, saya lebih senang bergumul dengan kucing yang begitu jujur dengan nafsu dasariahnya: hanya ingin makan dan tidur. Kucing adalah teman saya di masa-masa keterasingan terhadap dunia. Kehilangan seekor kucing terlalu menimbulkan kesepian yang panjang, karena saya tidak mampu menghadapi manusia.


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...