Skip to main content

Melewatkan Final Piala Dunia

Saya melewatkan final Piala Dunia 1994. Masih kecil. Baru masuk SD. Waktu itu saya diajak Papap tiduran depan televisi, tak ingat apa-apa kecuali ekspresi kecewa pemain berkucir berkostum biru. Iya, kami lebih banyak tertidur daripada nonton. Mungkin bagi Papap sendiri, Piala Dunia adalah peristiwa yang gak penting-penting amat. Beliau mengajak saya nonton karena ya ikut hype saja. Mungkin supaya Papap ada bahan obrolan di tengah tongkrongan teman-temannya yang hobi nonton sepakbola. Bagi Papap sepertinya masih lebih penting ngantor di pagi harinya. Waktu tidur lebih berharga daripada begadang nonton bola. Yang penting ada niat untuk setidaknya berada di depan televisi pas partai pemuncak.  Edisi Piala Dunia sesudah itu, saya tak pernah absen nonton final dari mulai 1998 sampai 2022. Saya ingat sundulan Zidane yang meruntuhkan mental tim Brasil; ingat betul Ronaldo yang dicukur seperti Gogon melesakkan dua gol ke gawang Oliver Khan; apalagi Itali pas juara dunia 2006, sampai sekar...

Kepungan Antroposentrisme


Masa Renaisans sering ditandai sebagai perubahan cara pandang dari teosentrisme menjadi antroposentrisme. Singkatnya, teosentrisme adalah aliran pemikiran yang menjadikan Tuhan sebagai pusat, sementara antroposentrisme menjadikan manusia sebagai pusat. Pertanyaannya, mungkinkah teosentrisme juga adalah sebentuk antroposentrisme? Karena bukannya Tuhan yang sebenarnya menjadi pusat, tetapi tafsir manusia itu sendiri yang mengatasnamakan Tuhan. "Teosentrisme" Abad Pertengahan, misalnya, dua di antaranya, menghasilkan perang besar atas nama agama dan praktik inkuisisi yang sukar dipercaya bahwa keduanya dilakukan murni "atas kehendak Tuhan". Periode Pasca Abad Pertengahan, dari mulai Renaisans hingga Pencerahan, pelan-pelan kian menganggap bahwa segala-galanya bisa dijelaskan lewat metode ilmu pengetahuan yang mengantarkan pada kepastian. Tuhan mungkin ada, tetapi tidak digunakan untuk menjelaskan segala fenomena. Bahkan bagi para saintis di zaman itu, Tuhan lebih seperti pembuat jam alias mencipta, setelah itu tidak mengerjakan apa-apa lagi: biarkan menjadi urusan saintis untuk menerangkan segala gejala di alam semesta beserta hukum-hukumnya (seperti pembuat jam yang tidak ikut campur lagi setelah jamnya berjalan). 

Di pertengahan abad ke-20, antroposentrisme mulai digugat. Subjek yang tadinya adalah sumber segala: aku berpikir, aku berkehendak, atas nama kebebasanku, dan seterusnya, mulai dipertanyakan relevansinya di hadapan kemajuan teknologi dan juga persoalan lingkungan. Teknologi tidak lagi ditempatkan dalam kerangka usang sebagai "perpanjangan tangan sains", melainkan mulai dipandang sebagai kesadaran yang berdiri sendiri, yang justru mengurung kehendak bebas manusia. Istilah "orang di belakang senapan" tidak lagi berlaku, karena yang terjadi justru: "senapan mengendalikan orang". Selain itu, cara pandang antroposentris juga terbukti merusak lingkungan, menganggap alam hanya sebagai objek untuk dieksploitasi demi kepentingan manusia. Muncul narasi hipokrit seperti: "Ayo selamatkan alam, demi anak cucu kita," yang justru menunjukkan bahwa usaha-usaha penyelamatan alam tidak lebih daripada upaya agar alam tetap tersedia untuk dihabisi kembali oleh manusia. 

Benarkah antroposentrisme mesti dibuang sebagaimana dirinya pernah menyingkirkan teosentrisme? Jika ya, bagaimana bisa? Pentti Linkola, pemikir asal Finlandia, membuat gagasan ekstrem sebagai penolakannya terhadap antroposentrisme: manusia boleh saja musnah, agar alam bisa bertahan lebih lama. Bagi dia, hal-hal yang membuat populasi manusia berkurang drastis adalah hal yang patut disyukuri bagi kelangsungan alam. Dia tidak bicara tentang alam mesti diselamatkan demi manusia. Bagi Linkola: alam lebih baik jika tanpa manusia. Benarkah Linkola menawarkan suatu cara pandang yang melepaskan diri dari antroposentrisme? Kita bisa tahan sejenak untuk tidak langsung menjawabnya. Mari berpindah ke urusan teknologi. Meski teknologi jelas "bukan manusia", tapi tidakkah kita masih memandangnya sebagai suatu hal yang "manusiawi"? Misalnya, membayangkan komputer yang "berpikir" (meski kemudian dianggap punya cara pikir sendiri, sehingga justru manusia tertentu yang disebut "berpikir komputasional") atau mengandaikan "laptopmu mungkin kelelahan karena digunakan terus". Atau, dalam konteks lain, jika saya sedang mendengarkan istri saya menjelaskan soal kesehatan dan fungsi-fungsi organ, saya menangkap bahwa organ-organ tersebut seperti "punya kesadarannya sendiri", seperti "pankreas lelah" atau "darah yang ingin masuk ke sel" dan seterusnya. Dengan demikian, bagaimana kita, setidaknya dari contoh-contoh keseharian tersebut, bisa keluar dari kepungan antroposentrisme? 

Kembali ke Linkola, apakah benar Linkola mencoba keluar dari antroposentrisme dengan membiarkan manusia punah demi kelangsungan alam yang memerlukan injury time? Mungkin ya, tapi bisa juga: Linkola lebih antroposentrik dari pemuja manusia manapun. Linkola juga sama antroposentrisnya, saat mengatakan bahwa "alam perlu perpanjangan waktu", "tidak apa-apa manusia habis demi alam". Linkola tidak cukup keluar dari antroposentrisme jika hanya tentang "manusia yang perlu musnah", tapi justru ia melihat alam sebagai entitas yang sama bengisnya seperti manusia. Mengandaikan alam yang "penuh ketenangan dan kedamaian", apakah benar-benar sejalan dengan "kehendak alam", atau sekadar nama lain dari kesadaran antroposentrik yang juga senantiasa "menginginkan ketenangan dan kedamaian"? Bahkan Hegel yang mengandaikan adanya roh absolut sebagai penopang seluruh gerak sejarah, tidakkah kita bisa juga sebut sebagai "kesadaran subjek yang mengabstraksi menjadi roh"? Kita, jangan-jangan, tidak punya peluang untuk lepas dari diri.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...