Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Ada Sesuatu yang Tumbuh dalam Diri ...



Memang harus diakui, meski mengerti beberapa konsep dalam filsafat sejak agak lama (mungkin sekitar sepuluh tahunan), saya tidak seberapa mendalaminya, atau bahkan menubuhinya. Misalnya, saya mengerti konsep-konsep dasar Marxisme sedari dulu, tapi ya hanya di tataran pikiran. Praktiknya, saya merasa sangat pragmatis, ikut saja ke mana kesempatan muncul. Agak berat untuk mengakui ini, tetapi akhirnya harus diakui, bahwa tahun 2017 dan 2018, saya merasa keren sekali karena menjadi bagian dari acara festival kota yang didanai oleh pemerintah. Acara tersebut sebenarnya berantakan, tapi pada masa itu saya enggan mengakuinya, sibuk membela diri, sibuk menunjukkan pentingnya acara tersebut, pentingnya diri saya ada di sana. Memalukan. Kemudian pada Pemilu 2019, saya ikut-ikutan membela politisi tertentu. Ada sekelompok orang yang menarik saya untuk bergabung, menjadi semacam bagian dari "tim penting" untuk melanggengkan beberapa orang untuk naik ke tampuk kekuasaan. Setiap hari, saya merasa orang-orang ini saling sikut, kerap bergerak pada ke mana uang berhembus. Tidak ada teman, tidak ada lawan, yang ada cuma kepentingan. Saya tahu semboyan itu sejak kuliah, tapi baru kali ini hal demikian tampak nyata di hadapan. Begitu vulgar, begitu binatang. 

Lewat Kelas Isolasi, yang dimulai sejak Maret 2020, saya tertantang untuk terus belajar, mendalami filsafat dengan lebih baik, karena merasa bertanggungjawab pada lebih banyak orang. Pada momen-momen itu (didukung juga oleh jarangnya saya bertemu orang asing yang kurang jelas), saya dipaksa untuk menggeluti teks secara lebih serius. Tidak hanya pikiran yang berubah, tapi ada sesuatu juga yang tumbuh dalam diri saya, semacam kemantapan hati (meski agak prematur untuk menyebutnya demikian). Misalnya, saat lebih dalam membaca Thomas Hobbes dan John Locke, saya menerawang kembali apa arti kodrat manusia. Keduanya ada benarnya: yang satu melihat manusia adalah makhluk yang saling memangsa satu sama lain, satu lagi merasa manusia itu kondisi naturalnya bebas dan setara, tapi problematik jika berhubungan dengan pelanggaran hak milik. Melalui pikiran-pikiran mereka, saya semakin mengenali perasaan kebinatangan dalam diri, perasaan ingin memangsa, perasaan ingin mempertahankan hak milik dengan berlebihan, dan maka itu, malah berbalik merasa jijik, meski pada titik tertentu, amatlah kodrati. 

Perubahan lebih besar terjadi saat saya membaca teks-teks anarkisme, karena juga didorong oleh pembahasan di Kelas Isolasi yang kami sepakati sendiri. Utamanya saat membaca gagasan Jacques Ellul, yang melihat negara sebagai iblis dalam dirinya sendiri. Hal tersebut memutarbalikkan pemikiran saya, yang dulu menganggap bahwa perubahan apa-apa perlu melalui negara, percuma jika hanya usaha kecil-kecil, tidak signifikan. Begitu juga saat membaca pemikiran ekologi seperti yang digagas Pentti Linkola, feminisme dalam estetika seperti yang ditulis oleh Carolyn Korsmeyer, seluruhnya mengubah pelan-pelan, membuat saya tidak melihat dunia dengan cara yang sama. Bahkan kadang terlampau pesimistik, bahwa tidak ada yang bisa diubah, semua menarik hanya dalam tataran gagasan para filsuf saja. 

Beraneka kontradiksi tentu masih banyak dalam keselarasan antara pikiran dan tindakan saya: masih rajin memproduksi limbah dan polusi, masih suka tergiur oleh tawaran pekerjaan dengan uang lumayan meski sumbernya tidak jelas (pun tujuannya), masih kadang menikmati "komodifikasi yang natural" (menikmati ngopi di tengah "hutan", mengonsumsi minuman herbal dengan iming-iming "kesehatan"), dan banyak lagi. Namun, meski kontradiksi itu tetap ramai, perut saya mulai merasa mual jika antara pikiran dan tindakan terlalu bertabrakan. Tentu, mual itu bukan artinya saya berhenti melakukannya. Kadang tetap saja (dikerjakan), meski hati nurani ini meronta. Kadang saya merasa, dunia ini tidak bisa diubah lagi, hal yang bisa dilakukan adalah menjalaninya dengan perut mual, dan bertahan sebisa-bisa, sambil mempertahankan prinsip yang dianggap benar. Meski bisa saja salah. 

Saya hanya bisa berdoa, semoga istiqomah, semoga tidak harus sampai malu, di hadapan gagasan para pemikir yang saya cintai, di hadapan musik indah yang saya dengarkan. Merekalah sebaik-baiknya contoh kejujuran, kebeningan hati. Bukan melulu orangnya, tapi gagasan-gagasannya yang mengudara, yang kita hirup agar dunia senantiasa menjadi asing, sekaligus memuakkan.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...