Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Membaca Pemikiran Anarkisme


Seperti biasa, dalam rangka mempersiapkan materi untuk Kelas Isolasi, saya mesti membaca-baca beberapa teks yang sebelumnya kurang familiar. Justru dengan adanya kelas ini, saya "terpaksa" mempelajarinya. Singkat cerita, kami memutuskan untuk membahas tema anarkisme. Tema ini bagi kami terasa cukup berani karena pertama, citra anarkisme yang lekat dengan kekerasan dan bahkan perusakan (seolah-olah "tidak layak" dibicarakan); kedua, berpotensi "diserang" karena sebagian anarkis yang lebih senang mempraktikkan ketimbang membicarakan (sehingga kami berpotensi dikatai "bacot"); ketiga, bahasan ini bukan bahasan "arus utama" dalam filsafat dan sependek pengamatan kami, pemikir dan pemikirannya jarang dibahas dalam konteks akademik. Waktu kami pertama kali mengeluarkan poster kelas, komentar-komentar bermunculan tentang mengapa kami tidak membahas pemikir ini atau pemikir itu. Jujur, memang tidak mungkin semuanya terangkum karena pemikir anarkisme ini sangat banyak. Namun untuk memfasilitasi masukan-masukan tersebut, kami akhirnya membuat kelas anarkisme sesi tambahan. Pemikir-pemikir yang dibahas dalam kelas anarkisme adalah Mikhail Bakunin, Pierre-Joseph Proudhon, Peter Kropotkin, Emma Goldman, Jacques Ellul, John Zerzan dan pada sesi tambahan, kami memasukkan Leo Tolstoy, Murray Bookchin, Max Stirner, dan Paul Feyerabend. 

Berkutat nyaris dua bulan dengan pemikiran para anarkis, saya mendapat beberapa pandangan berikut ini: Pertama, tidak semua anarkis mengajarkan kekerasan. Bahkan mungkin hanya sebagian kecil saja seperti misalnya Bakunin dan (Enrico) Malatesta. Lainnya, seperti Tolstoy, Ellul, atau Bookchin, meski melihat konsep negara itu problematik, tetap menganggap kekerasan bukan solusi dalam melawan negara. Kedua, meski semua anarkis sepakat bahwa negara itu problematik, tidak semuanya menawarkan pembubaran negara secara institusional sebagai pemecahan masalah. Beberapa di antaranya, seperti Ellul atau Tolstoy, melihat bahwa penyelesaiannya ada pada tataran pemikiran dan cara kita berkehidupan sehari-hari: negara memang ada, tapi tidak perlu dipatuhi, bahkan tidak perlu dianggap ada. Fokus saja pada lingkungan kecil, masyarakat yang bisa kita jangkau, dan bertindaklah sebisa-bisa untuk saling memenuhi kebutuhan tanpa perlu mengandaikan adanya otoritas yang lebih tinggi dan hierarki yang mengungkung. Ketiga, barangkali ini subjektif dan berapa pada tataran "perasaan", tapi sebagian besar pemikiran anarkisme yang saya selami, teks-teksnya menciptakan perasaan "teduh", "adem", dan bahkan saya berkesimpulan bahwa mereka-mereka ini sungguh "berhati lembut". Pemikiran anarkisme tertentu memang berapi-api, revolusioner, dan menimbulkan kegelisahan, tetapi tulisan-tulisan lainnya, karena mungkin mengandaikan masyarakat yang "gemah ripah loh jinawi", maka kesan "surgawi" itulah yang ditimbulkan. Misalnya saja, pada karya-karya Bookchin, yang meski agak rumit, tapi kesan sejuk itu terasa. 

Anarkisme memang memiliki banyak spektrum dan tidak hanya berkutat terhadap usaha meruntuhkan negara dalam arti institusi, tapi juga segala bentuk dogma dan otoritas yang mengatur dengan cara membatasi kebebasan manusia. Memang itu kelihatannya yang menjadi pokok: kebebasan. Tolstoy menerapkannya dalam sekolah yang ia dirikan: murid tidak banyak diatur, mereka boleh belajar apapun yang menjadi minatnya, tidak harus masuk pada jam yang ditentukan, bahkan mereka boleh bolos sesuka hati. Stirner menarik konsep kebebasan secara radikal hingga pada tingkat individu, bahkan bahasa pun bisa menjadi penjara yang mesti dilampaui. Feyerabend fokus pada sains yang otoritatif, yang dilawan dengan "anarkisme epistemologi" dengan prinsip anything goes, yang kira-kira menolak sikap sains yang sok punya kebenaran tunggal. Apapun oke (termasuk jika diandaikan Feyerabend melihat pawang hujan), selama hasilnya sesuai. Bahkan dalam buku Demanding the Impossible (1991) yang ditulis oleh Peter Marshall, disebutkan bahwa pada mulanya, istilah anarkisme dan liberalisme awalnya merupakan istilah yang dipertukarkan karena tidak ada bedanya dalam hal melihat pentingnya kebebasan. Semakin luaslah spektrumnya, jika kedua kata tersebut, yang sebelumnya mungkin kita anggap sebagai bertolak belakang, ternyata pernah digunakan untuk menunjuk gagasan yang sama. Marshall menawarkan untuk menyebut anarkisme sebagai "sungai gagasan", alih-alih mendefinisikannya lewat satu esensi.

Menggeluti anarkisme secara intens membuat pola pikir saya terjustifikasi. Mungkin bisa dikatakan, bahwa telah sejak lama saya anarkis, dalam tataran tertentu: tidak suka diatur, tidak suka didikte, kecuali oleh hal-hal yang sejalan dengan kehendak sendiri. Meski sering dianggap kurang praktis, saya tetap yakin bahwa setiap dari kita perlu belajar anarkisme dan memegang prinsip-prinsipnya: bahwa tiada siapapun, termasuk Tuhan, yang berhak membatasi kebebasan kita. Kita adalah tuan dari kebebasan itu sendiri, termasuk saat dengan sadar memilih untuk memenjarakannya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...