Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Buruh Digital


Pembahasan ini sebenarnya adalah tema disertasi yang tengah saya garap, yang entah kenapa begitu sulit untuk dikerjakan secara intens, kemungkinan karena terlalu banyak distraksi pekerjaan lain (padahal memang alasannya cuma itu, plus malas). Awalnya saya mengajukan topik tentang demotivasi, tetapi terang-terangan ditolak oleh almarhum Romo Herry. Akhirnya saya memutuskan untuk mengkaji gagasan Christian Fuchs dari salah satu bukunya yang berjudul Digital Labour and Karl Marx (2014). Mengapa memilih pemikirannya Fuchs? Alasan pertama, pemikirnya masih hidup, topiknya sangat kekinian, sehingga kurang lebih dapat dikategorikan sebagai pemikir/ pemikiran kontemporer. Alasan kedua, adalah alasan yang lebih praktis, yaitu karena teks primernya berbahasa Inggris (di STF Driyarkara, jika kami membaca teks primer, harus dalam bahasa aslinya, sehingga jika teks aslinya berbahasa Jerman, maka harus menguasai bahasa Jerman juga). Alasan terakhir, yang mungkin lebih serius, adalah ketertarikan untuk mendalami Marxisme. 

Digital Labour and Karl Marx adalah karya Fuchs, sosiolog dan juga pakar ilmu komunikasi asal Austria, yang mengaitkan antara Marxisme dan perburuhan digital. Dilihat dari judulnya, sekilas mungkin kita akan menganggap bahwa buku ini membahas tentang para pekerja di bidang digital dan eksploitasi di dalamnya. Namun Fuchs bergerak lebih jauh dengan berpendapat bahwa kita semua, yang memiliki akun medsos, terlebih lagi yang terakses hampir 24 jam sehari, pada dasarnya adalah buruh tidak dibayar, yang "dipekerjakan" untuk mengakumulasikan nilai lebih bagi platform digital (misalnya, Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain). Bagaimana Fuchs bisa sampai pada simpulan semacam itu? 

Fuchs menariknya dari pendapat teks-teks klasik Marx dan Engels tentang definisi buruh, termasuk tentang kerja-kerja yang teralienasi (bukan cuma kerja secara umum). Kerja yang teralienasi ini terjadi salah satunya karena buruh tidak terhubung dengan hasil kerjanya. Sebagai contoh, ia diberi pekerjaan untuk mengelas pintu mobil, tapi mobilnya sendiri, wujud akhirnya seperti apa, bukan menjadi urusan si buruh. Lebih jauh lagi, mobil sebagai hasil akhir, tidak diklaim sebagai kerja buruh secara individual, pun buruh tidak hanya tidak sanggup membelinya, untuk mengendarainya pun belum tentu dibolehkan. Hal tersebut berbeda dengan konsep lain, yaitu kerja konkret, yakni saat apa yang dikerjakan, hasilnya bisa dituai sepenuhnya oleh si pekerja (misalnya, menanam singkong, singkongnya dimakan oleh dirinya sendiri bersama keluarga). Lebih luasnya, kerja konkret dapat diartikan sebagai kerja yang didedikasikan untuk memproduksi barang yang berguna, barang yang diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan manusia individu, keluarga, maupun komunitasnya secara langsung. 

Mengakses media sosial sendiri, bagi sebagian orang, tidak bisa dikategorikan bekerja. Malah bisa jadi merupakan kegiatan yang dilakukan di sela-sela pekerjaan, bahkan masuk kategori hiburan, penyegaran. Jadi, sekali lagi, bagaimana pemilik akun medsos bisa dikatakan buruh, sebagaimana ditulis oleh Fuchs? Kita memproduksi, lewat unggahan macam-macam konten, dari mulai status, foto, video, dan lainnya. Bukankah semua itu tidak menimbulkan kerugian bagi kita? Bahkan, untuk membuat akun medsos itu gratis, tidak keluar banyak usaha kecuali melengkapi beberapa isian. Iya, tapi ada hal yang kemungkinan luput kita simak, yaitu kenyataan bahwa kita, tanpa sadar sudah menyetujui bahwa segala konten dan data yang diunggah, boleh digunakan untuk kepentingan komersil (ditulis di bagian syarat dan ketentuan, yang saya sendiri tidak pernah membacanya). Jadi, mengunggah konten itu adalah kerja, kerja yang tidak dibayar, yang membuat platform kaya raya, salah satunya dari penjualan data dan konten kita pada pihak produsen, yang kemudian menjadikan kita sebagai "target mikro" bagi iklan produk-produknya. 

Pertanyaan berikutnya, okelah pengguna medsos menciptakan nilai lebih bagi platform penyedia, tapi kan, kita melakukannya dengan sukarela? Tidak seperti buruh yang "harus bekerja" karena memerlukan uang. Hendak menggunakan medsos atau tidak, pilihan itu dikembalikan pada kita sendiri. Fuchs punya argumentasi, bahwa memang tidak ada paksaan bagi kita untuk membuat akun dan mengunggah konten, tetapi terdapat konstruksi yang diwacanakan bahwa tidak memiliki media sosial artinya tidak terhubung dengan dunia, kita kehilangan akses dengan kehidupan sosial, dan apa yang lebih ditakutkan oleh manusia, selain merasa kesepian? Fuchs ada benarnya, orang yang tidak punya medsos, seringkali dituding "kurang gaul" atau "ketinggalan berita". 

Untuk semakin menambah kegetiran, Fuchs menawarkan istilah playbour, yang menunjukkan bahwa buruh digital adalah buruh yang tidak lagi bisa membedakan antara waktu kerja dan waktu luang. Keduanya dilakukan secara bersamaan: maka itu ada istilah "main medsos", seolah-olah suatu kegiatan menyenangkan, padahal dieksploitasi.  

Semoga semester depan topik ini sudah bisa diujikan proposalnya. Saya terus menulis dan menjadi narasumber untuk topik ini, semata-mata demi mengingatkan saya agar tidak lepas dari topik ini, sekaligus semacam pelarian dari rasa bersalah yang terus menghantui.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...