Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Tentang Branding



Ada istilah dalam bahasa Indonesia untuk branding yaitu penjenamaan. Namun, karena istilah penjenamaan belum terlalu sering digunakan (?), maka saya akan tetap menggunakan branding. Apa yang bisa dikatakan tentang branding? Sekarang, segala bentuk bisnis bicara branding. Branding awalnya bisa diartikan sebatas "merk". Namun, branding tentu lebih luas daripada merk. Branding bisa juga meluas pada "citra", serta nilai ekonomi, bahkan sosio-kultural yang melekat padanya. Saat kita menggunakan produk Nike, kita tidak sekadar menggunakan produk bermerk Nike, tapi segala gengsi yang "inheren" berada bersama Nike. Dengan adanya gengsi tersebut, tentu harga produk Nike bisa menjadi lebih mahal, meski kualitasnya mungkin tidak beda jauh dengan produk lainnya yang kurang terkenal. Hal demikian yang oleh Marx disebut sebagai "fetisisme komoditas", yang membuat suatu produk dikenai "mistifikasi nilai" yang terlepas dari relasi produksinya. Kita membeli Nike karena "fetish" terhadap katakanlah, kenyataan bahwa produk tersebut digunakan oleh Michael Jordan atau turut mensponsori klub-klub sepakbola ternama. Kita memuja dan menghargai begitu tinggi karena "ya itu Nike", tanpa perlu menjadi masuk akal proses produksi di belakangnya (perkara harga bahan baku, jam kerja dan upah buruh, misalnya). 

Itu mungkin pandangan pertama, dari sudut pandang Marxisme. Pandangan berikutnya mungkin lebih bebas, yang berangkat dari pengalaman pribadi. Di Bandung, ada restoran namanya Toko You, yang terkenal dan bisa dikatakan legendaris. Menariknya, restoran tersebut tidak mempunyai plang, tidak ada tulisan "Toko You" yang dibentangkan di depan (kalau tidak salah tulisan Toko You itu hanya ada di bagian kasir, itupun agak kecil). Saya pernah ngobrol-ngobrol dengan pemiliknya, Pak Sonny, yang mengatakan bahwa Toko You tidak memerlukan plang bertuliskan Toko You. Pernah dicoba, tapi Pak Sonny merasa kurang sreg, sehingga plang itu dicopot. Jika branding bermula dari merk, Toko You berbeda, merk itu tidak perlu dibesar-besarkan: nama tidak penting, yang lebih penting adalah tempatnya nyaman, makanannya enak. Seolah-olah, istilah "Toko You" hanyalah nama yang "harus ada" untuk memudahkan orang menunjuk restoran "itu". Singkatnya, kalaupun mesti ada yang namanya branding, Toko You membangunnya "dari dalam", dari "kualitas primer" si restoran itu sendiri. 

Tentang branding ini saya kemudian banyak belajar dari Eka Sofyan Rizal, desainer, yang dalam kuliah-kuliahnya mengatakan bahwa konsep branding seringkali disalahartikan, dengan membuatnya seolah-olah semacam "kemasan manipulatif". Ibaratnya, branding sebuah restoran dikatakan baik, jika misalnya dapat menyajikan konsep interior yang kuat (dan "instagramable") atau promosi digital dengan konten yang estetik. Misalnya, katakanlah Satpol PP ingin memperbaiki citranya yang galak dan suka menggusur warga, dengan cara menghias kantornya agar lebih terkesan ramah dan lucu (misalnya, lewat pemilihan font yang "tanpa kait"). Dengan demikian, bisa jadi Satpol PP tengah mem-branding diri agar tidak lagi ditakuti, terutama oleh rakyat yang berdagang di tempat yang "tidak seharusnya". Namun apakah terdapat perubahan dari cara Satpol PP bersikap? Hal tersebut mungkin luput untuk dibenahi, sehingga yang terjadi justru hanya "manipulasi kemasan". Padahal yang lebih penting adalah "kualitas primer"-nya, seperti Toko You dan makanannya, bukan Toko You dan plangnya. 

Dalam dunia serba visual sekarang ini, branding menjadi hal yang penting, jika tidak dapat dikatakan yang terpenting. Pekerjaan sebagai konsultan branding bermunculan untuk menjawab apa yang disebut sebagai "kebutuhan zaman". Restoran/ kafe di-branding, kantor pemerintahan di-branding, sekolah di-branding, yang entah dibenahi bersama isinya, atau cuma luarannya saja, citranya saja di mata publik. Di sisi lain, sebagaimana halnya saya mengingat Toko You, saya juga teringat dengan berbagai restoran lainnya, seringnya milik orang Tionghoa (terutama restoran yang cenderung "jadul"), yang selalu berangkat dari "kualitas primer": rasa makanan dan keramahan yang tidak dibuat-buat. Jika tujuan semua bisnis adalah laku, mereka-mereka ini umumnya tak perlu branding berlebihan untuk laku. Kadang saya menemukan restoran enak yang masuk gang-gang kecil, yang tempatnya terkesan tidak dikonsep (yang penting bisa nyaman duduk dan makan), kadang berjejalan, beberapa di antaranya bahkan tidak terlalu bersih, tapi itulah: ramai. Mungkin jika diibaratkan, umumnya orang melihat branding sebagai "make up untuk memanipulasi tampilan luar", tetapi yang lebih penting justru: inner beauty, kecantikan dari dalam.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...