Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

COVID-19 dan Antroposentrisme

 


Kira-kira sejak minggu ketiga Juni, istri dan saya dinyatakan positif terkena virus SARS-CoV-2 atau lebih dikenal dengan COVID-19. Awal-awal badan mulai terasa kurang sehat, saya tidak langsung was-was bahwa ini adalah gejala yang berhubungan dengan COVID-19. Sekitar tiga hari sejak masa-masa kurang enak badan itu, saya sadar indera perasa hilang saat minum kopi. Besoknya, saya tidak bisa mencium bau kayu putih sama sekali dan akhirnya memutuskan untuk tes PCR. Hasilnya sudah bisa kami duga, bahwa kami terkena virus yang sedang marak tersebut. Bagi saya yang memiliki komorbid, dampak virus ini cukup serius. Setiap harinya, ada saja hal yang tidak mengenakkan mulai dari pegal-pegal, demam tinggi, batuk-batuk hampir sepanjang hari, kehilangan indra pengecap dan penciuman sehingga kurang berselera untuk makan, hingga saturasi yang naik turun (meski tidak sampai terlalu rendah). 

Akhirnya masa-masa sulit itu dilewati selama kurang lebih dua minggu dan kami sekarang sudah berkegiatan normal kembali. Pandemi gelombang kedua ini memang terasa lebih serius, mengingat selain kami sendiri yang dinyatakan positif, teman-teman dan saudara dekat juga mengalami infeksi. Kepanikan orang-orang dalam mencari oksigen, toa masjid yang sehari hingga beberapa kali mengumumkan inna lillahi, hingga pengetatan kegiatan di mana-mana, kian menambah suasana mencekam. Sebelumnya, meski sadar akan bahaya pandemi, tetapi rasanya agak jauh dan ada sebersit pikiran bahwa virus ini tidak mungkin benar-benar menghinggapi kami. 

Tentu ada hal yang patut direnungkan dari seluruh kejadian pandemi yang punya pengaruh sangat besar ini. Banyak orang mengeluh dan menyalahkan virus ini sebagai biang keladi lumpuhnya beraneka kegiatan dan wafatnya sejumlah orang dekat. Sikap semacam itu tentu wajar-wajar saja, tetapi tidak mengubah keadaan dan malah membuat runyam inti persoalannya. Menyalahkan virus justru menunjukkan bahwa manusia sama sekali tidak memandang seluruh persoalan dalam kerangka yang lebih luas. Virus ini bukanlah penyebab, tetapi bisa dilihat sebagai akibat. Akibat dari apa? Antroposentrisme yang kebablasan, yang merusak alam, sehingga virus ini bisa kita bayangkan hadir sebagai usaha alam dalam bertahan lebih lama dari eksploitasi manusia. 

Hal tersebut ibarat orang-orang menyalahkan Adolf Hitler atas terjadinya Perang Dunia II. Padahal jika dilihat lebih luas, pokok persoalannya bukan pada sosok si Hitler itu. Hitler bukanlah sebab, melainkan akibat dari kebencian rasial yang panjang. Kalaupun bukan Hitler, mungkin ada sosok lain yang menggantikannya, yang mungkin saja, lebih brutal. Dalam arti kata lain, jika bukan melalui COVID-19, mungkin alam akan melakukan cara lain dalam merespons sikap manusia yang serakah. 

Demikian, saya bukannya tidak berempati atas siapapun yang wafat di antara kita. Namun dalam kacamata keabadian, segalanya terjadi atas hukum alam yang tidak dapat ditolak. Saat segalanya berlangsung terlalu berat sebelah, akan ada usaha-usaha dari alam untuk menyeimbangkan dirinya, dengan cara apapun. Albert Camus mengatakan, "Apa itu wabah? Wabah adalah hidup, itu saja," ia seratus persen benar soal itu. Virus ini bukanlah suatu benda asing dari luar sana, melainkan bagian dari diri kita, yang berasal dari kita, dan kembali ke kita. Segala umpatan terhadap situasi pandemi, pada dasarnya adalah umpatan terhadap diri sendiri. 

Sekarang mungkin istri dan saya sudah pulih, tetapi dosa-dosa industrial tetap melekat pada kami, yang dengan sembuhnya ini, mungkin akan kembali menjadikan alam sebagai objek untuk dieksploitasi.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...