Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Duduk manis di kelas Pengantar Filsafat yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto, sebagai bagian dari persiapan mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR awal tahun depan.
Waktu Pak Bambang bicara di depan tadi itu, pikiran saya melayang-layang karena masih ngantuk.
Teringat di tahun 2003, kala baru lulus SMA, saya punya cita-cita masuk Fakultas Filsafat UNPAR. Saya sangat serius waktu itu, hingga suatu malam bapak berkata, "De, bapak sudah konsultasi sama teman, namanya Pak Bambang. Katanya jangan masuk situ, karena itu sekolah untuk calon pastur."
Saya tidak banyak membantah. Karena mungkin, ada benarnya. Saya kubur saja cita-cita menjadi mahasiswa filsafat untuk masuk menjadi mahasiswa Hubungan Internasional. Tapi cinta saya pada filsafat selalu terpendam, sampai akhirnya bertemu dengan Pak Bambang di kelas Extension Course pada sekitar tahun 2006 atau 2007.
Di pertemuan pertama dengan materi Antropologi Filsafat itu, Pak Bambang sudah mampu mengguncangkan pikiran dan iman saya. Kuliah lebih dari sepuluh tahun lalu itu masih segar dalam ingatan saya: Tentang konsep manusia dalam pandangan filsafat (secara spesifik, soal konsepsi tubuh dan jiwa). Ada kata Plato yang tubuh adalah penjara jiwa, ada kata Foucault yang jiwa adalah penjara tubuh, ada Lacan yang mengatakan tentang keinginan manusia yang selalu bercermin satu sama lain, ada kata Nietzsche yang mengatakan masing-masing anggota tubuh manusia punya kecerdasannya sendiri. Sejak malam itu, hidup saya tidak lagi sama. Filsafat adalah "one way ticket".
Enam belas tahun sejak saya menerima kenyataan bahwa saya tidak akan menjadi mahasiswa filsafat, ternyata saya masih bisa mengejar cira-cita tersebut. Bersama para calon pastur angkatan 2019, saya ikut kelas secara sit-in, mendengarkan Pak Bambang bicara.
Selama enam belas tahun itu juga saya membaca filsafat tanpa melalui jalur formal dan sering coba-coba mengajar juga, walau entah benar entah tidak. Namun mendengarkan Pak Bambang bicara, meski sudah keempatpuluhkalinya, tetap terasa baru dan membuat saya malu. Pak Bambang mengajar dengan suatu kecintaan yang aneh, seolah sudah menjadi tugas dia, untuk membuat para calon pastur ini deg-degan dengan iman yang terus dihantam-hantam.
Tapi dari situlah saya belajar, jadi "filsuf profesional". Jadi filsuf yang tugas utamanya hanya satu: mengguncang apa yang telah mapan, tanpa harus secara terbuka menyebutkan posisinya ada di mana. Jika ia berhadapan dengan orang yang terlalu posmodernis, jadilah sedikit Kantian untuk mengimbangi. Jika ia berhadapan dengan orang agnostik, jadilah sedikit religius untuk mengimbangi. Itulah "profesionalisme filsafat": hal yang menjadi prinsip adalah denyut dan dinamika pemikiran itu sendiri, tanpa harus fanatik pada satu -isme.
Lalu apa yang saya dapat dari kuliah barusan? Ya, pengantar filsafat. Mata kuliah yang bikin betah, bikin saya tidak mau beranjak: inginnya belajar pengantar saja, selama-lamanya. Karena belajar filsafat, sampai suatu titik, akan kembali tentang pengantar filsafat. Coba saja sendiri!

Comments
Post a Comment