Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Sambil nunggu ngajar semester depan, duduk manis dulu di kelas Romo Hadrianus Tedjoworo yang membahas Protestantisme dan Ekumene.
Ekumene, dari yang saya tangkap barusan, adalah berbagai kegiatan maupun tindakan untuk mencapai kesatuan Gereja-Gereja, yang lebih ke arah emosional dan spiritual, bukan secara liturgi. Artinya, perbedaan tetap ada dan menjadi batasan satu sama lain, tapi tetap diupayakan suatu "bayangan tentang Gereja yang satu".
Tentu saja, ekumene ini, dalam sejarahnya, tidak pernah seratus persen berhasil. Selalu ada pihak yang tidak terlalu sepakat bahwa segalanya harus ada dalam kesatuan yang serius. Namun sebagai sebuah proses, ekumene mesti dilakukan sebagai sebuah ikhtiar untuk sekurang-kurangnya saling memahami spirit dan cara pandang satu Gereja dengan Gereja lainnya.
Misalnya, pendirian The World Council of Churces (WCC) tahun 1948 adalah semacam gerakan ekumene yang berpusat di Swiss dan melibatkan 349 gereja dari sekitar 150 negara. Tetap saja, tidak seluruh Gereja menyetujui perhimpunan semacam ini, termasuk umumnya Gereja Katolik. Gereja Katolik, pada versi tertentu, bahkan menganggap sebenar-benarnya ekumene adalah kembalinya Gereja-Gereja non-Katolik ke dalam Gereja Katolik (bisa dirunut ke sejarah reformasi). Tentu saja anggapan tersebut agak sukar diterima dalam perkembangan Gereja dewasa ini, yang kelihatannya semakin berkembang dan bercabang.
Opini:
Itulah sebabnya, dalam konteks Islam, Khilafah mungkin saja tidak akan pernah tegak sempurna (karena bayangannya yang selalu tentang kesatuan Islam dalam satu tatanan yang formal dan serius). Islam bisa dibayangkan satu, mungkin hanya dalam konteks emosional dan spiritual, dalam bahasa ukhuwah islamiyah saja.

Comments
Post a Comment