Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Surat dari Surakarta (Bagian Lima): Soto Grabah, Wedang Uwuh, dan Gamelan Group Lambangsari

10 Agustus 2018

Kenapa musik, yang notabene ditangkap oleh indra pendengaran, masih tetap menarik jika dipertontonkan? Mungkin ini jawabannya: Karena manusia, tidak selalu puas dengan satu penginderaan saja. Ada kalanya, yang kita namai sebagai pengalaman langsung, adalah berarti menceburkan diri pada fenomena secara keseluruhan. Mengalami sesuatu secara langsung, bisa jadi artinya: membuat sebanyak mungkin penginderaan jadi terlibat. 

Ini yang saya lakukan ketika datang untuk meliput berbagai pertunjukkan di Benteng Vastenburg pada hari kedua penyelenggaraan International Gamelan Festival (IGF) 2018 di Surakarta. Setelah menghadiri pameran seni rupa kontemporer di Taman Budaya Jawa Tengah, saya tetap menyempatkan diri ke Benteng Vastenburg meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Motif saya awalnya sebenarnya sederhana, yaitu ingin menyaksikan penampilan dari Sambasunda, yang notabene dipimpin oleh kawan sekaligus guru saya, Kang Ismet Ruchimat.

Namun kemudian saya mendapat kabar dari panitia bahwa Sambasunda, yang seyogianya tampil pada pukul sembilan malam, ternyata mundur menjadi penampil puncak atau sekitar jam setengah sebelas malam. Saya beruntung. Dengan demikian, tidak hanya saya menjadi tidak kehilangan momen menyaksikan penampilan kelompok asal Bandung yang berdiri tahun 1993 tersebut, melainkan lebih daripada itu, saya bisa menonton dua penampil lain, yaitu kelompok gamelan dari Amerika Serikat dan Jepang. 

Tentang kelompok dari Amerika Serikat, namanya Sanggar Manik Galih yang berpusat di Colorado. Kelompok gamelan ini dipimpin oleh I Made Lasmawan dan Ni Ketut Marni, serta berdiri sejak tahun 2011. Personil dari kelompok tersebut beragam dari mulai orang asing (khususnya Amerika Serikat), orang Bali, dan orang Indonesia yang berdiaspora. 

Setelah Sanggar Manik Galih, kemudian naik ke atas panggung, kelompok gamelan dari Jepang yang bernama Lambangsari. Lambangsari bukan satu-satunya kelompok gamelan di Jepang. Hanya saja, kelompok yang berpusat di Tokyo ini merupakan kelompok gamelan yang paling tua (didirikan tahun 1985). Pendirinya adalah Profesor Fumi Tamura dari Tokyo National University of Fine Art and Music. Pada IGF 2018, mereka memainkan karya yang katanya sudah sangat dikenal di Jepang, yaitu musik (yang dipadukan dengan tari) Gambyong Pareanom. 

Alih-alih duduk di depan panggung untuk menikmati sajian pertunjukkan, saya memilih untuk melipir ke gerai makanan di area pinggir. Saya duduk bersama Mbak Amalia Prabowo sembari bertanya tentang makanan apa yang sebaiknya saya santap malam ini. Ia menjawab dengan jelas, “Paling enak ya soto grabah dan wedang uwuh, Mas.” Kebetulan sekali, gerai yang menjual item tersebut berada di sebelah meja kami duduk. 

Tidak sampai lima menit, keduanya dihidangkan di meja tempat saya duduk. Sekarang artinya, sedang tersaji: soto grabah, wedang uwuh, dan kelompok gamelan Lambangsari, yang seluruhnya berada di hadapan sekaligus. Ini adalah pengalaman eksistensial yang komplit, yang oleh filsuf Prancis, Jean Paul Sartre, disebut sebagai “kehadiran yang tanpa tedeng aling-aling”. 

Foto oleh Amalia Prabowo
Seni kadang direduksi menjadi sekadar esensi belaka - bahwa seni hanya semata-mata urusan kedalaman batin -. Padahal, perangkat menuju kedalaman itu memerlukan elemen-elemen yang sangat inderawi. Kita lihat betapa banyaknya musisi yang mengeluh oleh sebab sound system yang buruk; perupa kurang sreg dengan merk cat dan kuas tertentu; dan di sisi lain, apresiator kecewa karena kualitas headset yang tidak mutakhir sehingga mereka gagal mendengarkan detail dari musik John Coltrane, misalnya. 

Hal-hal seperti itu tampak tidak relevan dengan seni sebagai sesuatu yang luhur dan transenden. Tapi kita tidak bisa abaikan bagaimana kehidupan di sekitar yang kita jalani, masih memerlukan tubuh sebagai sarana menggapai seluruh pengalamannya. Maka manjakan tubuh, sebelum menggapai “pesona estetis”. 

Di setiap suapan soto grabah, saya mendengar bunyi gamelan lebih sempurna dari biasanya. Di setiap tegukan wedang uwuh, saya melihat penari, yang saya tahu, salah satunya bernama Kaori, lebih indah dari biasanya.

Bersama Kaori, penari jebolan ISI Surakarta. Foto oleh panitia IGF 2018.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...