Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Surat dari Surakarta (Bagian Tujuh): Jumpa Ligeti di Slamet Riyadi

11 Agustus 2018

"Waktu, itulah bedanya," ujar Peter Szilagyi ketika ditanya kesulitannya ketika awal memainkan gamelan. Dalam gamelan, cara pandang para pemain terhadap waktu sangat berbeda dan cenderung fleksibel ketimbang di musik Barat. "Pada musik Barat, kami mempunyai ukuran-ukuran yang kurang lebih pasti sehingga kami punya bayangan berapa lama lagu ini akan dimainkan," kata pimpinan kelompok gamelan Surya Kencana A tersebut. 

Surya Kencana A adalah kelompok asal Budapest, Hungaria, yang didirikan sejak tahun 2006. Kehadiran kelompok ini adalah bentuk kerinduan Szilagyi terhadap gamelan, ketika ia menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 1996 hingga 2002 sebagai penerima beasiswa Darmasiswa. Atas dasar itu, bersama kawan-kawan yang juga pernah belajar gamelan (terutama sesama jebolan Darmasiswa), ia membentuk kelompok tersebut.

Surya Kencana A. Foto oleh Bekti Sunyoto

Szilagyi sendiri "nekat" pergi ke Surakarta semata-mata ketertarikannya dengan bebunyian baru. Padahal, tahun 1996 itu, dia baru saja lulus SMA di Budapest. Namun sebenarnya, ia sebelumnya sudah punya dasar bermusik karena sudah tekun memainkan musik tradisional Hungaria. Tidak ada kesulitan serius ketika pindah memainkan gamelan kecuali yang ia sebutkan tadi itu: tentang waktu. 

Malam itu memang saya tidak memilih untuk larut dalam keriaan di Benteng Vastenburg - yang notabene panggung utama -. Saya memilih untuk menyaksikan pertunjukkan yang berlangsung di Balai Soedjatmoko (Jalan Slamet Riyadi), yang kebetulan jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari hotel tempat saya tinggal. Di gedung dengan kapasitas sekitar lima puluh orang itu, tampil dua kelompok yaitu Surya Kencana A dan Gema Swaratyagita bersama Laring Project. 

Karena terlalu penuh, saya memilih untuk menyaksikan Surya Kencana A dari luar gedung. Panitia International Gamelan Festival (IGF) 2018 seperti biasa, cukup sigap dengan memasang layar dan speaker di pelataran parkir, sehingga para pengunjung tetap dapat mendengar dan melihat, sembari nongkrong di angkringan (gratis loh!). 

Apa yang dimainkan oleh Surya Kencana A tampak seperti musik gamelan Jawa pada umumnya. Namun sebenarnya mereka melakukan transkripsi terhadap komposisi karya György Ligeti (1923 - 2006) yang berjudul Musica Ricertata. Musica Ricertata sendiri merupakan karya untuk piano yang terdiri dari sebelas bagian. Pada penampilannya kemarin, Surya Kencana A memainkan bagian dua dan tiga yang berjudul Mesto, Rigudo e Ceremoniale dan Allegro con Spirito. 

Meski berbasis di Hungaria, para penampil yang kemarin tampil tidak ada yang didatangkan khusus dari Hungaria. Semua yang tampil adalah musisi yang memang sedang atau sudah berada di Indonesia. Szilagyi sendiri menikah dengan orang Indonesia dan menetap (kembali) sejak tahun 2014. 

"A," potong Szilagyi, "Jangan lupa, Surya Kencana A, bukan Surya Kencana saja." Ini membuat saya heran dan otomatis bertanya, kenapa? Memang ada Surya Kencana B? Szilagyi, yang fasih berbahasa Indonesia ini, menjawab, "Itu adalah nama angkutan kota yang kami gunakan selama menjadi mahasiswa di Solo. Peran angkutan tersebut mungkin terasa sentimentil bagi kami, sehingga kami mengabadikannya." 

Sewaktu mereka tampil, saya sambil makan nasi kucing di angkringan. Saya mendengar dengan seksama, bagaimana mereka memainkan karya komposer favorit saya, Ligeti. Saya membayangkan, Ligeti, sang penulis musik avant garde tersebut, di hadapan saya, mencoba meredakan pedas karena membuka nasi kucing yang isinya rica.

Bersama Surya Kencana A. Foto oleh Resti Noelya.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...