Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan. Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...
11 Agustus 2018
"Waktu, itulah bedanya," ujar Peter Szilagyi ketika ditanya kesulitannya ketika awal memainkan gamelan. Dalam gamelan, cara pandang para pemain terhadap waktu sangat berbeda dan cenderung fleksibel ketimbang di musik Barat. "Pada musik Barat, kami mempunyai ukuran-ukuran yang kurang lebih pasti sehingga kami punya bayangan berapa lama lagu ini akan dimainkan," kata pimpinan kelompok gamelan Surya Kencana A tersebut.
Surya Kencana A adalah kelompok asal Budapest, Hungaria, yang didirikan sejak tahun 2006. Kehadiran kelompok ini adalah bentuk kerinduan Szilagyi terhadap gamelan, ketika ia menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 1996 hingga 2002 sebagai penerima beasiswa Darmasiswa. Atas dasar itu, bersama kawan-kawan yang juga pernah belajar gamelan (terutama sesama jebolan Darmasiswa), ia membentuk kelompok tersebut.
![]() |
| Surya Kencana A. Foto oleh Bekti Sunyoto |
Szilagyi sendiri "nekat" pergi ke Surakarta semata-mata ketertarikannya dengan bebunyian baru. Padahal, tahun 1996 itu, dia baru saja lulus SMA di Budapest. Namun sebenarnya, ia sebelumnya sudah punya dasar bermusik karena sudah tekun memainkan musik tradisional Hungaria. Tidak ada kesulitan serius ketika pindah memainkan gamelan kecuali yang ia sebutkan tadi itu: tentang waktu.
Malam itu memang saya tidak memilih untuk larut dalam keriaan di Benteng Vastenburg - yang notabene panggung utama -. Saya memilih untuk menyaksikan pertunjukkan yang berlangsung di Balai Soedjatmoko (Jalan Slamet Riyadi), yang kebetulan jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari hotel tempat saya tinggal. Di gedung dengan kapasitas sekitar lima puluh orang itu, tampil dua kelompok yaitu Surya Kencana A dan Gema Swaratyagita bersama Laring Project.
Karena terlalu penuh, saya memilih untuk menyaksikan Surya Kencana A dari luar gedung. Panitia International Gamelan Festival (IGF) 2018 seperti biasa, cukup sigap dengan memasang layar dan speaker di pelataran parkir, sehingga para pengunjung tetap dapat mendengar dan melihat, sembari nongkrong di angkringan (gratis loh!).
Apa yang dimainkan oleh Surya Kencana A tampak seperti musik gamelan Jawa pada umumnya. Namun sebenarnya mereka melakukan transkripsi terhadap komposisi karya György Ligeti (1923 - 2006) yang berjudul Musica Ricertata.
Musica Ricertata sendiri merupakan karya untuk piano yang terdiri dari sebelas bagian. Pada penampilannya kemarin, Surya Kencana A memainkan bagian dua dan tiga yang berjudul Mesto, Rigudo e Ceremoniale dan Allegro con Spirito.
Meski berbasis di Hungaria, para penampil yang kemarin tampil tidak ada yang didatangkan khusus dari Hungaria. Semua yang tampil adalah musisi yang memang sedang atau sudah berada di Indonesia. Szilagyi sendiri menikah dengan orang Indonesia dan menetap (kembali) sejak tahun 2014.
"A," potong Szilagyi, "Jangan lupa, Surya Kencana A, bukan Surya Kencana saja." Ini membuat saya heran dan otomatis bertanya, kenapa? Memang ada Surya Kencana B? Szilagyi, yang fasih berbahasa Indonesia ini, menjawab, "Itu adalah nama angkutan kota yang kami gunakan selama menjadi mahasiswa di Solo. Peran angkutan tersebut mungkin terasa sentimentil bagi kami, sehingga kami mengabadikannya."
Sewaktu mereka tampil, saya sambil makan nasi kucing di angkringan. Saya mendengar dengan seksama, bagaimana mereka memainkan karya komposer favorit saya, Ligeti. Saya membayangkan, Ligeti, sang penulis musik avant garde tersebut, di hadapan saya, mencoba meredakan pedas karena membuka nasi kucing yang isinya rica.
![]() |
| Bersama Surya Kencana A. Foto oleh Resti Noelya. |


Comments
Post a Comment