Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
Sekarang, orang yang mempunyai banyak kemampuan, berpotensi dikenai tuduhan tidak profesional. Bapak saya adalah seorang seniman, tapi juga sekaligus atlit pingpong. Oleh kawannya, ia sempat dikomentari, “Seniman kok olahraga!” Bapak saya menanggapi hal tersebut dengan tertawa. Katanya, “Mungkin teman saya itu punya stereotip bahwa seniman adalah orang yang merokok, minum kopi, dan bajunya penuh cipratan cat setelah habis berkarya. Citra olahraga tidak pernah melekat dalam diri seorang seniman.”
Dunia modern sukses melahirkan konsep profesionalisme. Kemungkinan ia lahir dari sistem akademik yang percaya bahwa seorang individu sebaiknya hanya menjadi pakar di satu bidang. Untuk apa? Agar ia bisa fokus dan bidang yang ia tekuni dapat berkembang. Tapi kita bisa tengok Aristoteles, filsuf Yunani dari sekitar empat ratus tahun sebelum masehi. Oleh dunia kita hari ini, ia disebut sebagai seorang polymath atau seorang serba bisa. Kita tidak bisa mencap Aristoteles dengan satu sebutan saja antara filsuf, saintis, ahli retorika, seniman, atau guru. Aristoteles mencakup keseluruhan sebutan-sebutan tersebut karena memang ia mendalami semuanya.
Dunia hari ini mungkin semakin langka melahirkan orang-orang semacam itu. Label-label buruk sudah disiapkan untuk orang-orang yang serba bisa, seperti “orang tidak profesional” atau “intelektual selebriti”. Agaknya menjadi tabu jika orang mampu membicarakan atau mengerjakan sesuatu lebih dari satu bidang saja. Padahal selain Aristoteles, dunia Timur pun mengenal istilah “orang pintar” untuk orang-orang yang memang pandai secara rasional, tapi juga pandai secara “irasional” –tabib di Cina, bhiksu dalam tradisi Buddhisme, dan sebagainya-. Bahkan Nabi Muhammad pun pada dasarnya adalah seorang polymath. Selain ia ahli dalam soal ekonomi, ia juga piawai soal politik dan juga strategi perang.
Kita tidak usah terlalu menengok orang-orang besar yang sudah kuat terpatri dalam sejarah. Kita bisa membayangkan secara sederhana fenomena orang-orang di desa, di sekitar kita. Sangat mungkin mereka mempunyai jadwal sebagai berikut: Bekerja di sawah, menabuh gamelan, belajar di sekolah, hingga melukis. Keseluruhannya itu tidak dalam rangka menjadi intelektual selebriti atau haus akan sebutan polymath. Kita bisa menganggap bahwa kegiatan demi kegiatan tersebut ia lakukan demi kepenuhan dirinya sebagai manusia. Agar kehidupan ini lengkap dan juga kemanusiaan ini lengkap, seseorang semestinya tidak hanya berkutat di satu hal sepanjang hidupnya.
Musashi adalah contoh yang baik tentang apa yang kita akan sama-sama sebut sebagai “proporsionalisme”. Ia pada dasarnya adalah seorang samurai yang sudah sepantasnya menenteng pedang, bertarung, dan membela tuannya. Tapi Musashi sadar bahwa hidup tidak hanya sekadar profesionalisme kaku semacam itu. Ia juga sekaligus melukis, merangkai bunga, serta membantu pembangunan sebuah desa dari mulai mengangkut kayu hingga menanam benih pohon. Musashi melakukan semua itu karena tujuan hidupnya bukan menjadi samurai yang baik, melainkan manusia yang baik. Bapak saya, di waktu yang lain, mengatakan hal yang serupa, “Jadi seniman itu mudah, yang sulit adalah menjadi manusia.”
.png)
Comments
Post a Comment