Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kusir Kuda


Ketika Siddharta Gautama pergi berjalan-jalan ke luar istana dengan kereta, ia melihat empat hal yang membuatnya memutuskan untuk hidup tanpa wisma dan menjauhi dunia. Sebelum Siddharta melihat hal yang terakhir yakni seorang biksu asketik, terlebih dahulu ia menemukan kenyataan tentang mereka yang tua, mereka yang sakit, dan mereka yang mati. Atas segala hal yang baru dilihat oleh Siddharta untuk pertama kali tersebut, sang kusir kuda hanya menjawab enteng, "Kita semua juga akan seperti itu."

Baik soal tua, sakit, dan mati, saya sendiri tidak pernah betul-betul merenungkannya. Mungkin renungan semacam itu memang terasa prematur bagi mereka yang relatif berusia muda (taruhlah saya yang sekarang dua puluh delapan ini tergolong muda :p). Berbagai ambisi, cita-cita, dan rencana ke depan yang berlimpah membuat saya dan Andrei Yefimich Ragin -tokoh dalam Ruang Inap no. 6-nya Chekhov- punya keyakinan yang sama: Bahwa iya, saya tidak akan mati.

Namun hidup selalu memberi kita tegangan. Artinya, di satu sisi memang keyakinan itu nyata, kerap ada suara-suara dari hati yang mengatakan bahwa saya tidak akan mati seiring dengan rencana-rencana yang seolah berlaku untuk ribuan tahun ke depan. Namun di sisi lain, hidup memberikan fakta-fakta yang tidak kalah meyakinkan: Penampilan fisik, daya tahan tubuh; sakit, tua, dan matinya orang-orang di sekitar kita; serta jaman yang terus mengalami perubahan. Semuanya menciptakan suatu dilema dalam perasaan tentang apakah saya akan tua, atau tidak. Akan sakit, atau tidak. Akan mati, atau tidak.

Fakta-fakta itu makin hari makin menampakkan diri. Misalnya, di suatu hari ketika mengajar di kelas, saya bercerita tentang pertandingan antara Brasil versus Italia di final Piala Dunia 1994 kepada para mahasiswa angkatan 2012. Bagi mereka yang lahir di kisaran tahun 1990-an (mungkin juga rata-rata dari mereka lahir di tahun yang sama dengan Piala Dunia), tentu saja momen tersebut belum terpatri kuat dalam memori. Itu sebabnya ketika saya bercerita dengan seru, mereka tampak adem ayem dan bahkan menganggap saya sudah terlalu tua. Mendadak saya menyadari bahwa oh, Piala Dunia 1994 ternyata bukan sepuluh tahun silam, melainkan dua puluh tahun silam.

Dulu saya begitu sensitif jika dipanggil "bapak". Saya selalu ingin dipanggil dengan nama, atau paling buruk "kakak". Tapi sekarang dimana-mana orang memanggil "bapak" dan akhirnya saya mulai terbiasa dan menerima. Dulu saya senang sekali begadang untuk menanti sepakbola dan tetap bangun pagi dengan perasaan segar bugar. Sekarang saya harus tidur dulu sebelum menyaksikan sepakbola yang ditayangkan dini hari. Itu pun masih dengan risiko kondisi badan yang tidak fit untuk berkegiatan di hari berikutnya. Dulu saya senang berjalan kaki sejauh-jauhnya. Sekarang untuk membeli kupat tahu yang terletak di mulut kompleks pun sudah terengah-engah. Saya melihat teman-teman saya sekarang sudah berubah. Kesegaran di wajah mereka sudah jauh berkurang. Mereka yang dahulu punya cita-cita macam-macam dengan pandangan mata yang terang, sekarang redup seketika seiring kehidupan dunia yang katanya harus realistis. Tapi itu bukan tentang saya yang melihat mereka saja, ternyata mereka melihat saya pun seperti itu.

Kita semua adalah Siddharta yang berjalan berkeliling bersama sang kusir kuda. Dimana-mana kita melihat fenomena yang terus berubah ke arah tua, sakit, dan mati. Kita bisa saja melihat hal-hal tersebut sebagai suatu kejadian yang berada di luar diri kita dan menganggapnya sebagai pertunjukkan belaka. Tapi selalu ada si kusir kuda dalam diri kita yang mengingatkan, "Kita semua juga akan seperti itu."

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...