Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Seni dan Agama


Entah sejak era apa, kita akhirnya menemukan suatu dikotomi ketat antara seni, agama, sains, dan filsafat -biasa disebut empat pilar peradaban-. Keempatnya berpisah, ditekuni masing-masing, dan tidak jarang saling bertentangan. Saya mencurigai pemilahan ini adalah kerjaan para akademisi, tapi tak perlu kita bahas jauh-jauh pertentangan keempatnya.

Seni dan agama, makin hari makin menunjukkan tabiat bermusuhan. Seni bahkan sering didaulat sebagai agama baru. Dalam arti, ia sama-sama mengandung denyut spiritualitas. Seorang seniman mungkin pada taraf tertentu ia mengenali gejolak dalam dirinya seperti kerinduan transendental terhadap hal besar di luar sana. Hal ini tentu saja mirip dengan tema spiritualitas dalam agama-agama. Bahkan ada kecenderungan, seni melakukannya secara lebih jujur dan pribadi. Ini sekaligus semacam kritik terhadap agama yang spiritualitasnya cenderung beramai-ramai. Problem dari beramai-ramai adalah: Apakah itu sungguh spiritualitas, atau cuma histeria massal?

Namun pernah ada masa ketika seni dan agama punya hubungan amat mesra. Seni mengakomodasi keinginan agama untuk "menurunkan Tuhan ke dunia", menjadikan ia dapat dicerap indra, sehingga memenuhi hasrat manusia yang selalu rindu rupa dan rasa. Contoh semacam ini tentu saja berlimpah ada di kebudayaan Indo-Eropa. Kebudayaan Yunani Kuno misanya, mereka menciptakan citra dewa-dewi oleh sebab suatu kepercayaan bahwa "kita bisa paham sesuatu yang tidak kelihatan, lewat yang kelihatan". Kebudayaan Mesir dan Hindu pun melakukan hal yang sama. Yang berbeda barangkali adalah kebudayaan Semit yang mencium bahwa upaya "membumikan Tuhan lewat seni" adalah berbahaya karena pertama: Tuhan  jauh melampaui imajinasi manusia, kedua: upaya pembumian ini berbahaya karena manusia bisa menyembah mediumnya alih-alih objek sebenarnya. Namun tentu saja, agama Kristen lolos dari "aturan Semitis" ini karena persentuhannya dengan Yunani.

Kaitan antara seni dan agama ini saya renungkan setelah mengunjungi sejumlah kuil Buddha di propinsi Ayuttaya, Thailand. Di setiap kuilnya, citra Buddha bertebaran dimana-mana. Ada satu citra lagi yang menarik, yaitu seorang bhiksu yang diyakini sebagai orang suci karena pernah menyelamatkan satu pulau dari kelaparan -ia melakukannya dengan mengubah air laut menjadi air yang bisa diminum-. Di salah satu kuil bahkan ada citra Buddha yang berwajah banyak dan bertangan banyak -yang mengingatkan saya justru pada dewa-dewi Hindu-. Pada titik ini tentu saja terjadi semacam akulturasi antara Hindu dan Buddha. Karena sepengetahuan saya, Buddha sebagai sebuah ajaran, ia tidak mempunyai Tuhan secara personifikatif, apalagi jika harus divisualisasikan. 

Atas kesewengang-wenangan akulturasi ini, yang melibatkan imajinasi manusia begitu semena-mena, responnya beragam. Orang skeptik akan menganggap: karena agama itu tidak lebih daripada ciptaan manusia, maka citra Tuhannya pun tidak stabil. Ia disesuaikan dengan kepentingan dan lebih parahnya lagi, keinginan-keinginan estetik yang permukaan. Namun tengok sisi lain yang mungkin saja berseberangan: bukankah dengan demikian, agama memberikan inspirasi besar bagi seni? Jika tidak atas dorongan kerohanian, mungkin entah seperti apa wajah dunia ini tanpa musik Bach, lukisan Michaelangelo di Sistine Chapel, Piramida di Giza, atau bangunan megah Masjidil Haram di Makkah. Suka tidak suka, agama -yang disokong kekuasaan tentunya- punya kontribusi dalam menciptakan imej-imej yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dalam sejarah kebudayaan Thailand -atau dulu disebut dengan Siam-, citra Buddha ini selain digunakan untuk ritual, juga "terlibat" dalam perang antara Siam dan Burma. Ada satu kejadian yang diceritakan dalam sebuah tulisan di kuil, bahwa pernah terjadi satu perjanjian perdamaian antara Raja Siam dan Raja Burma, dengan Buddha sebagai saksinya. Artinya, pencitraan Tuhan di bumi ini begitu sentral dalam bagaimana membuat manusia betul-betul menyadari "ada Tuhan". Untuk menimbulkan kesadaran ini, tentu saja seni itu sendiri harus adiluhung -dalam arti, misalnya secara ukuran ia besar, terbuat dari bahan-bahan yang "mulia" seperti emas, atau setidaknya dikerjakan secara tekun sehingga seolah-olah tak mungkin manusia biasa bisa membuatnya-. Pada masa itu, barangkali belum ada isu seni seperti halnya seni modern yang begitu sibuk mendikotomi bahwa seni tinggi haruslah sebentuk karya yang tidak bisa direproduksi. Namun seni yang diproduksi atas motivasi agama, ia tidak memusingkan identitas individu semacam ini. Sang seniman sudah lebur bersama kepentingan-kepentingan ilahiah sehingga tak ada satupun yang kita ketahui siapa gerangan para pembuat patung Buddha spektakuler itu. Satu hal yang kita ketahui adalah: sudah barang tentu patung-patung tersebut adalah ekspresi keagamaan yang kental.

Satu hal lagi tentang ekspresi Tuhan yang turun ke bumi adalah wajah manusia. Dengan ia berwajah, ia bisa melihat, mendengar dan mengecap -bahkan jikapun matanya terpejam seperti Sang Buddha-. Wajah selalu menjadi isu yang didengungkan Emmanuel Levinas sebagai kontak antara diri dengan dunia luar. Novel berjudul The Face of Another karya Kobo Abe menunjukkan bahwa seorang profesor yang paling dihormati sekalipun, menjadi diperlakukan berbeda oleh sekitarnya ketika wajahnya hilang. Si istri sendiri bahkan menolak berhubungan seks dengannya. Ini isu menarik karena bukan lagi sekadar bahasa yang menjadi jembatan manusia dengan lingkungan, melainkan lebih tajam lagi: wajah. Artinya, Tuhan yang turun ke dunia, alangkah ia lebih berperan, sepertinya, jika mempunyai wajah.

Tuhan yang "ada", yang eksis dalam pencitraan visual, memang kerapkali mendapatkan kritik. Keberadaannya yang tak lebih dari sekadar "benda mati yang dibentuk", membuat orang semakin tak yakin bahwa Tuhan ada dalam dirinya sendiri -ia mungkin ada dalam benak manusia dan dieksternalisasikan dalam karya seni-. Namun ada suatu kecenderungan yang dapat diamati dalam diri manusia, bahwa perasaan fascinatum et tremendum kerap hadir ketika Tuhan "ada", mengeksternalisasikan dirinya lewat seni-seni yang adiluhung. Ketika perasaan agung itu tumbuh dalam dirinya, Tuhan yang "ada" itu tidak lagi dianggap sekadar semata-mata ciptaan manusia. Sosok patung itu hilang -eksistensinya tidak penting lagi-, dan manusia menyentuh suatu keilahian hakiki dalam dirinya. Itu sebabnya Pidi Baiq berkata, "Kita berdoa bukan menyembah Ka'bah, melainkan menghadap Ka'bah." Simbol tetap diperlukan sebagai suatu arah yang secara hakiki dibutuhkan manusia agar dirinya seimbang dan seleras. Setelah tahap permukaan ini selesai, sisanya tinggal transendensi. Pada titik itu, seni dan agama tak punya beda.

Comments

  1. Edannnn... Mantaps..
    Kata Tuhan itu sendiri adalah Hantu yang menjebak..
    :-)

    ReplyDelete
  2. Asyik...nemu Baru nih, makasih bang,
    menarik...

    ReplyDelete
  3. permisi sebelumnya, ingin sedikit bertanya nih ke yang lebih berpengalaman :)
    Tapi sebelumnya saya ingin bercerita. Dimulai saat saya sedang presentasi dimata kuliah antropologi di kampus saya. Kebetulan saat itu pokok bahasan saya seni. Saya diajui pertanyaan "seni itu indah, agama juga indah, adakah kaitan diantara keduanya ?" Pertanyaan itu membuat saya bingung setengah mati dan membuat saya penasaran. Sedikit terlintas dibenak saya bahwa : seni dan agama adalah yang sangat berbeda dan tak berkaitan sama sekali. Hal itu saya dasari pada definisi seni dan agama itu sendiri yang 100% berbeda. Dan juga bahwa seni itu tidak lahir dari agama, dan agama tidak lahir dari seni. Jadi menurut saya, keduanya adalah objek yang berdiri sendiri dan tak memiliki ikatan apapun.

    yang ingin saya tanyakan, apakah pernyataan saya tersebut benar ?
    atau adakah sumber lain yang membuktikan bahwa agama dan seni memiliki kaitan karena berasal dari "satu akar" ?
    mohon bantuannya kang syarif ..
    buat dasar presentasi lagi minggu dpn sekalian lanjutin jawab pertanyaannya :)
    kalo salah jangan dipedesin ya kang hehee

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...