Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Hegel


"Nalar adalah cara alam untuk melakukan kritik diri." 

-Sir Muhammad Iqbal

Kalimat di atas sungguh membingungkan saya hingga bertahun-tahun lamanya. Namun pelan-pelan misteri ini terkuak setelah mengetahui pengaruh filsuf Jerman era romantik, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, yang cukup kental terhadap pemikiran-pemikiran Iqbal. Atas dasar kepenasaranan yang menahun tersebut, saya akhirnya memaksakan diri mempelajari pemikiran-pemikiran Hegel. Kenapa harus mengatakan terpaksa? Harus diakui, pemikiran Hegel dipaparkan dengan cara yang begitu rumit. Tulisannya termasuk yang paling susah dipahami. Saya pun pada akhirnya (merasa) memahami Hegel lebih banyak melalui kejadian-kejadian sekitar.

Sebelum masuk ke tagline Iqbal di atas, mari renungkan terlebih dahulu: Dari mana asal kesadaran kita? Maksudnya, dari mana kita berpikir bahwa dunia hari ini sudah sedemikian kacau sehingga membutuhkan perubahan? Ketika seorang tiran membungkam mulut rakyat sehingga tidak ada lagi celah, apakah betul-betul kesadaran itu juga ikut terbungkam? Atau, contoh lebih konkrit, ketika saya ngobrol santai dengan Mbak Utet di Jalan Progo, ia berujar, "Aneh ya, sekarang orang-orang lebih seneng dengan nama yang ke-Arab-Arab-an ketimbang nama yang Indonesia." Apakah sesederhana bahwa kasus demikian bisa dijawab dengan gerak media? Sebelum media membabibuta seperti sekarang ini, bukankah sudah sejak dahulu orang mengalami dinamika kesadaran akan sesuatu di luar dirinya: tentang keluarga, masyarakat, negara, bangsa, hingga semesta?

Hegel punya tesis menarik. Ia mengatakan bahwa semesta lah yang menggerakan kita. Semesta sedang berevolusi, berkembang terus menerus, mencapai kesadaran lebih tinggi, lewat pergerakan manusia. Jadi doktrin tentang kehendak bebas manusia ditolak Hegel dengan mengatakan bahwa perubahan manusia sudah sedemikian niscaya sebagai konsekuensi dari berkembangnya kesadaran semesta. Marx menentang tesisnya ini dengan mengatakan bahwa harusnya manusia justru yang menjadi agen perubahan semesta -ia betul-betul membalikannya dengan istilah "materialisme dialektik"-.

Mari mengambil contoh lebih konkrit. Bagaimana kita melihat posisi Renaisans dalam sejarah kebudayaan Barat? Tentu saja, ia merupakan suatu respon terhadap gereja yang otoriter di Abad Pertengahan. Renaisans merespon hal tersebut dengan label "merayakan manusia" -sering disebut perubahan dari teosentris ke antroposentris-. Kemudian Renaisans mendapat respon kembali dari Periode Barok yang mencoba pelan-pelan mengembalikan wibawa agama. Kesadaran kembali bergolak lewat Periode Klasik atau sering juga disebut dengan pencerahan (aufklarung) yang memutar roda kesadaran kembali ke perayaan humanistik. Begitu seterusnya saling memukul, menentang, menginjak, dan entah hingga kapan mencapai finalitas.

Pertanyaan berikutnya, apakah pantas kita menuding Abad Pertengahan sebagai suatu "aib" bagi masyarakat Eropa? Bahkan istilah "Abad Pertengahan" itu sendiri konon merupakan sindiran, karena berada di tengah antara dua masa gemilang Eropa yaitu Klasik (Antiquty) dan Modern. Dalam khazanah filsafat, Abad Pertengahan juga sering dituduh sebagai "ladang pemikiran dimana orang menggaruk tidak pada tempatnya". Lantas, jika kita termasuk orang yang mengagungkan Renaisans, pikirkan kembali: Akankah ada Renaisans, tanpa ada Abad Pertengahan? Akankah ada peradaban Modern, tanpa Abad Pertengahan? Tidakkah ini adalah suatu evolusi mahabesar, yang menempatkan manusia bagaikan buih di tengah lautan. Kita bisa saja menyebutnya sebagai evolusi yang disebabkan oleh teknologi, ideologi, kekuasaan, atau apapun. Tapi Hegel "menyerah" pada hal-hal yang tampak dan material semacam itu. Ia memilih untuk bersandar pada "yang absolut", pada "yang mutlak". Maka itu ia menyebutnya semacam Evolusi Semesta: Suatu perkembangan kesadaran "yang mutlak" yang diperoleh dari dialektika peradaban manusia.

Tentu saja pemikiran Hegel ini tidak lepas dari kritik. Misalnya: Hegel menganggap sejarah adalah terlalu linear. Seolah-olah Renaisans adalah semata-mata antitesis dari Abad Pertengahan. Padahal Renaisans juga dipicu dari penemuan-penemuan teknologi seperti kompas, mesin cetak, dan mesiu. Kritik kedua: Jika semesta berevolusi melalui kesadaran manusia, apakah manusia masih berkehendak bebas? Karena ternyata, bagi Hegel, manusia ini sekadar "wayang-wayang" bagi semesta untuk berkembang. Kritik ketiga: Hegel optimis bahwa Evolusi Semesta mempunyai tujuan. Tujuannya, dengan arogan ia gamblang mengungkapkan, ujungnya ada di Prussia. Evolusi Semesta yang bertujuan ini menciptakan satu optimisme tersendiri. Namun ia juga punya kelemahan, seolah-olah manusia semakin kemari semakin beradab dan rasional. Padahal tidak selalu demikian halnya.

Terakhir, mari kita kembali pada tagline Iqbal dan obrolan saya dengan Mbak Utet. Iqbal mengatakan bahwa nalar adalah cara alam untuk kritik diri. Tentu saja ini sejalan dengan konsep Hegelian bahwa memang, alam selalu lebih atas, ia justru membawahi manusia. Apa yang kita anggap sebagai pemikiran sendiri, sesungguhnya berasal dari alam semesta yang ingin memperbaharui dirinya. Lantas Mbak Utet mengatakan tentang nama anak-anak hari ini yang ke-Arab-Arab-an. Jika mempercayai konsep Hegel, maka percayalah bahwa kelak hegemoni ke-Arab-Arab-an ini akan runtuh jua ketika orang-orang mulai bosan. 

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...