Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Kota dan Alienasi

Mari kita langsung pada pokok persoalan: Apa itu alienasi? Mengapa penduduk kota banyak yang mengalami alienasi? Alienasi, sebagaimana sering disinggung Marx, adalah keadaan dimana seseorang terasing baik dengan lingkungannya maupun dengan dirinya sendiri. Kata Marx, ini merupakan keadaan yang sering diterima para buruh. Tekanan kapitalisme menyebabkan mereka hanya menjadi objek. Bekerja dan bekerja sebagaimana mesin-mesin pabrik yang tak tahu bagaimana memberi makna. Singkatnya, manusia yang teralienasi mengalami kegagalan dalam berafeksi, mengisi diri, dan menghayati “yang sublim”-spiritual. Shalat bisa saja dilakukan secara rutin, namun belum tentu yang demikian membawa kita pada kedalaman batin. Shalat, jika tidak direnungkan, dapat menjadikan seseorang teralienasi juga.

Namun shalat agaknya diarahkan pada mulanya justru untuk menghindari alienasi. Ketika seseorang tenggelam dalam padatnya rutinitas, agama menyediakan sarana untuk mengambil jarak dan beristirahat. Meski pamor agama turun naik, namun manusia kerapkali mencari cara untuk memenuhi dirinya di tengah kesibukan. Misalnya dengan jalan-jalan ke mal, pergi ke gedung konser, membaca, menulis, atau apapun yang sekiranya bersentuhan dengan perasaan. Cara-cara yang demikian adalah bentuk menghindari alienasi, bisa dengan agama juga dengan non-agama.

Kenapa alienasi menjadi penyakit kebanyakan orang kota? Saya pribadi tidak banyak main ke desa-desa untuk membandingkan, tapi agaknya lewat pengalaman hidup di perkotaan, memang mudah untuk diamati orang-orang yang teralienasi ini. Ada beberapa ciri yang bisa diurai, yang semuanya murni berdasarkan observasi:

1. Menjalani kegiatan secara berulang-ulang. Hal tersebut bisa dibilang sebuah konsistensi jika dijalankan dengan afeksi. Sayangnya, kegiatan pengulangan tersebut dijalani dengan wajah masam. Artinya, ada kepahitan. Namun apa daya, oleh sebab mitos bahagia yang sudah dirumuskan secara konstruktif (sukses, kaya, rumah, mobil), maka kegiatan berulang itu toh tetap juga dijalani.

2. Menganggap kehidupan sosial sebagai objek instrumental semata. Berteman jika perlu, jika bisa menjadi sarana untuk tujuan tertentu. Namun bukan berarti pergaulan massal menjadi terabaikan. Ada pergaulan massal namun terbatas pada jejaring sosial. Karena beramah tamah di jejaring sosial tak mesti susah payah. Suka tinggal like, benci tinggal remove.

3. Oleh sebab mitos kebahagiaan yang sudah dikonstruksi oleh media, maka waktu dan uang menjadi sentral. Waktu sentral karena menjadi tempat, wadah, untuk mencari uang. Uang sentral karena dianggap sanggup memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Cukup wajar jika uang jadi sentral pemenuhan kebutuhan badani, tapi menjadi janggal ketika uang dipercaya sanggup mengisi rohani.

4. Agama menjadi citra. Ketika agama mestinya jadi penyelamat karena mengisi kekosongan, justru diubah menjadi gaya hidup seolah menunjukkan bahwa aku ini manusia lengkap. Kerja iya, shalat iya. Citra hidup seimbang menjadi favorit. Nampak seperti selamat dunia-akhirat. Masalahnya, belum tentu spiritualitas mengiringi gaya hidup seperti itu. Seperti kebanyakan pejabat korup. Mereka bekerja, mereka juga sembahyang. Naik haji malah.

Ciri tersebut tentu saja tidak semua. Masih ada beberapa, kendati pun yang di atas juga bisa diperdebatkan. Namun yang terpenting bukan saja mengurai ciri-ciri alienasi, tapi membongkar penyebab-penyebab yang mungkin:

1. Uang menjadi alat tukar universal. Memang jadinya bukan sekedar mitos, tapi menjadi semacam logos. Kenapa seseorang kerap berambisi mengejar uang? Karena uang menjadikan seseorang sanggup self-service. Mau makan, beli. Mau tidur, beli. Mau seks, beli. Mau senang, beli. Mau soleh, beli. Ketika uang cukup, maka teman tak perlu lagi. Orang lain menjadi neraka, kalau kata Sartre.

2. Teknologi. Kata Neil Postman, hubungan manusia dan teknologi adalah hubungan Faustian. Sebagaimana Faust yang menjual jiwanya pada iblis, maka manusia juga menjual jiwanya pada teknologi. Teknologi semakin memanusia, sebaliknya manusia semakin seperti mesin. Contoh paling sederhana adalah bagaimana percakapan via BBM atau whatsapp mempunyai emoticon semakin beragam untuk mewakili mimik wajah manusia yang juga beragam.

3. Lebih sempit, jejaring sosial agaknya menjadi faktor krusial penyebab alienasi kontemporer. Orang-orang menjadi merumuskan dirinya berdasarkan apa yang ingin dilihat oleh pengguna lain. Yang seperti ini bukanlah fenomena baru, sudah sedari dulu, misalnya Kaisar Augustus, ingin dirinya dipandang sebagai seimbang antara pro-moderat maupun pro-konservatif. Namun dengan jejaring ini, difasilitasinya semua orang untuk hidup di dua dunia. Terkadang kita alami seseorang di jejaring sosial demikian digdaya, tapi kala jumpa ternyata sama sekali tak sanggup bicara.

4. Mitos masa depan yang terprediksi. Ketepatan waktu, asuransi, deposito, dan segala yang menjamin masa depan, sebetulnya baik dan menenangkan. Namun di sisi lain, itulah titik dimana manusia kadang menjadi kehilangan spiritualitas. Agaknya masyarakat lampau begitu sadar akan ketidaksanggupannya memprediksi, sehingga menyerahkan nasib pada ilahi. Ketika segalanya sedemikian presisi, maka hidup menjadi tidak punya greget. Ini titik transisi manusia menjadi mesin.

Namun meski saya mencoba menguraikan ciri-ciri beserta penyebab, toh saya tetap mengakui bahwa alienasi adalah semacam ”konsekuensi logis yang tidak terhindarkan dari semangat kemajuan”. Dalam kacamata Camus, manusia modern baru sanggup tersadarkan akan sekitar, ketika mempunyai tujuan bersama. Tujuan bersama itu bukannya hal-hal sepele, melainkan bisa jadi perang ataupun bencana. Camus menganalogikannya dengan bencana sampar yang menyerang sebuah kota.

Itu sebabnya mengapa Iqbal berkata, ”Bencana adalah penting, agar manusia bisa melihat keseluruhan kehidupan.” Bencana yang dimaksud Iqbal bisa kita tarik ke skala lebih mikro. Hanya disebabkan oleh kecelakaan kecil, semisal kerusakan BB kita, maka kita tersadar bahwa BB tak lebih dari seonggok benda sebagaimana batu-batu di jalanan. Inilah yang dimaksud Heidegger: Manusia menyadari diri ketika alat-alat mengalami gangguan. Itulah katanya, momen kembalinya manusia.


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...