Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Eyes Wide Shut (1999): Absurditas Seksual untuk Melawan yang Normal

Eyes Wide Shut (1999): Absurditas Seksual

Sebelum menonton film tersebut, saya beberapa kali mendengarkan komentar miring bahwa Eyes Wide Shut adalah film Stanley Kubrick yang paling biasa-biasa saja. Perbandingannya tentu saja dengan magnum opus semisal 2001: A Space Odyssey, Clockwork Orange, atau Full Metal Jacket. Namun setelah menontonnya, saya tidak sependapat. Karya terakhir Kubrick itu juga magnum opus!

Film yang diperankan oleh Tom Cruise dan Nicole Kidman itu menceritakan tentang pasangan yang segalanya serba normal dan baik-baik saja. Bill Harford dan Alice adalah suami istri beranak satu dengan kehidupan cukup mapan. Sampai suatu hari, ketika keduanya tengah mengisap ganja bersama, tiba-tiba mengalir fantasi seksual masa lampau dari Alice dengan seorang pria berseragam angkatan laut. Bill agaknya kaget dengan pengakuan ini. Ia pikir kehidupannya terlalu normal untuk dibumbui pikiran-pikiran banal seperti yang diungkap istrinya.

Cerita selanjutnya adalah perjalanan Bill ke ruang-ruang hasratnya. Meski tidak sempat melampiaskan secara seksual, namun Bill yang terdorong fantasi istrinya, kemudian berupaya menggali hasrat terdalamnya. Bahwa saya juga berhak mempunyai fantasi versi pribadi. Setelah hampir bercinta dengan WTS, Bill datang ke tempat dimana orang-orang bertelanjang dan hanya memakai topeng. Bill menyaksikan ada semacam upacara religius yang dipimpin “pendeta” sebelum orgy diantara mereka dimulai.

Film yang masuk Guinness World Record karena lama syuting yang mencapai empat ratus hari tersebut, memang secara stereotip Hollywood, kurang lazim. Temponya lambat, ending-nya menyisakan keanehan, musiknya dominan mencekam, dan tidak segan-segan menampilkan ketelanjangan plus adegan seksual secara terang-terangan (adegan orgy ditampilkan apa adanya!). Namun jika dihadapkan pada pemirsa yang sudah biasa dengan gaya Kubrick, maka tidak akan terlalu kaget. Terlebih film-filmnya memang akrab dengan scene-scene yang “mengganggu”.

Yang menarik dari Eyes Wide Shut adalah bagaimana fantasi seksual dipelihara sebagai pemberontakan atas superego normalitas yang melanda pasangan modern itu. Agaknya mesti dicurigai, ketika segala serba mapan dan terprediksi, maka keabsurdan yang tersisa barangkali tinggal soal seks. Dalam seksualitas, ada ruang-ruang yang tidak pernah tabu untuk dieksplorasi oleh imaji pribadi. Dalam individu yang tunduk seperti pembantu rumah tangga sekalipun, barangkali ia punya magma fantasi seksual yang dahsyat jika digali. Orgy dan pria berseragam agaknya merupakan dua objek seksual yang menjadi idaman hasrat terdalam Bill dan Alice.

Industri pornografi rupanya salah satu yang pandai mencium fantasi-fantasi seksual yang bertebaran di benak orang-orang. Orgy dan pria berseragam bukan barang baru. Ada juga tema percintaan guru-murid, suster-dokter, dokter-pasien, pilot-pramugari, hingga antar-tetangga. Hanya disebabkan oleh etika normalitas saja rupanya seksualitas tidak terjadi. Hasrat yang menggelora antara dua insan tertahan oleh misalnya, kode etik dokter. Namun hasrat yang demikian bukannya hilang sama sekali. Ia terpendam bagaikan gunung es. Di lapisan paling dasar, gelap, namun besar. Seketika ia bisa dipancing keluar ketika normalitas sudah terlalu memenjara.

Comments

  1. bang, saya agak bingung dengan makna 'banal' di tulisan abang. kalau menurut konteks tulisan abang, saya memaknai banal itu menjadi hal-hal di luar normal, atau abnormal, atau tidak normatif. tapi menurut kamus, arti banal itu adalah hal-hal yang boring dan ordinary.

    ReplyDelete
  2. terima kasih komentarnya. Memang ada beberapa pengertian. Dalam KBBI sendiri kedua-duanya benar: Banal sebagai tidak elok dan banal sebagai biasa sekali.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...