Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Invasi Keroncong lewat Garasi Rumah




Malam minggu itu, garasi rumah di jalan Rebana nomor sepuluh atau biasa disebut dengan Garasi 10 dibuka lebar-lebar. Publik boleh datang sesuka hati, menikmati sajian yang akan digelar. Gelaran di Garasi 10 tersebut adalah bagian dari acara rutin yang bertajuk Munggah. Sesuai namanya, memang acara itu ditujukan untuk menyambut Ramadhan. Latar "panggung" dibuat unik, dengan juntaian kertas di langit-langit dan manusia telanjang tergantung, terbuat dari kertas juga. Di kiri kanan ada pajangan gambar yang dipigura. Di belakang "panggung" dipajang rak buku. Di dalam garasi itu, bukan mobil yang hendak dipanggungkan, melainkan orkes keroncong, namanya Jempol Jenthik.

Orkes Keroncong Jempol Jenthik (Inggris disingkat menjadi: JJOK) berformasikan tujuh pemain instrumen dan tiga vokal. Instrumen itu terdiri dari kontrabas, cello, cak, cuk, flute, biola, dan gitar. Yang menarik, seluruh personil mengenakan kaos yang sama, berwarna hitam bertuliskan: "Play Keroncong Music, Save Indonesian Heritage". Sebelum JJOK ini tampil, ada pembukaan singkat, dua lagu dari ensembel gitar KlabKlassik. Sekedar menyiapkan ambience bahwa garasi ini sudah ditahbiskan menjadi ruang konser, bukan lagi tempat menyimpan kendaraan seperti lazimnya.

JJOK akhirnya "naik panggung". Pak Adi B. Wiratmo selaku pimpinan orkes menyapa audiens dengan hangat dan berulangkali menyampaikan bahwa, "Orkes ini bukan profesional, jadi maaf kalau salah-salah." Penampilan dibuka dengan lagu Manuk Dadali instrumental dengan melodi utama dari flute dan iringan khas keroncong. Apa yang ditakutkan Pak Adi tentang kesalahan yang mungkin dibuat, tidak terjadi bagi telinga penonton yang memadati Garasi 10. Alasannya, atmosfir yang dibangun kadung masuk ke hati. Seperti pasangan yang dimabuk cinta, hari itu sang wanita lupa bergincu pun tak masalah bagi prianya.

Berturut-turut JJOK memainkan belasan lagu hingga pukul setengah sepuluh malam. Hampir dua jam setengah mereka manggung. Lagu-lagu dari mulai Selendang Sutra, Sakura, Can't Take My Eyes of You, Tuhan, Ave Maria, hingga Dewi Murni dibawakan, sekaligus menunjukkan keragaman repertoar yang mungkin dibawakan oleh sebuah orkes keroncong. Kata Pak Adi, "Selama ada cak, cuk, dan cello, nuansa keroncong pasti akan mampu dibangun." Di tengah-tengah penampilan apik JJOK itu, Pak Andar Bagus Sriharno, seorang dosen dari ITB tampil menyumbang suaranya. Diam-diam, tanpa diduga, suaranya merdu dan kuat. Setiap selesai lagu per lagu, Pak Adi juga mempersilakan hadirin untuk bertanya apapun, menciptakan interaksi yang hangat.

Pak Andar Bagus Sriharno

Di sela-sela itu pula, Pak Adi tak henti-hentinya mempromosikan Musik Keroncong sebagai produk dari local genius Indonesia, "Saya heran jika ada yang mengatakan Musik Keroncong ini asalnya dari Portugis, karena di sana tidak ada musik seperti ini. Meskipun alat-alatnya dari Barat, pastilah Musik Keroncong ini kelahirannya tak lepas dari kejeniusan orang-orang Indonesia." Atas dasar itu, Pak Adi beserta kawan-kawannya di komunitas Keroncong Cyber tengah aktif mengampanyekan keroncong sebagai musik milik Indonesia. Salah satu langkah konkritnya adalah dengan melestarikannya terus menerus. Memainkannya di manapun dan menyisipkan nilai-nilai edukasi di dalamnya. Seperti lewat penerbitan buletin Tjroeng secara berkala yang disebar secara gratis. Isinya adalah info seputar kegiatan keroncong baik di tanah air maupun mancanegara.

Jika melihat banyak fenomena kebudayaan maupun sosio kultural di Indonesia ini, memang sangat masuk akal bahwa Musik Keroncong adalah hasil kreativitas orang Indonesia. Di kelas filsafat dulu pernah dibahas, bahwa orang Indonesia pastilah mesti kreatif, karena dituntut untuk beradaptasi dari godaan warga asing yang kerap menyambangi nusantara lewat jalur perdagangan. Wayang misalnya, produk kebudayaan India ini menubuh dalam diri masyarakat nusantara dulu. Tapi masyarakat lokal tak kemudian terlena dan membiarkan wayang merajalela. Dengan kreatif, mereka mencipta tokoh Punakawan, empat figur yang humoris, cuek, buruk rupa, namun krusial bagi kehidupan para ksatria. Empat tokoh punakawan ini adalah khas Indonesia, tidak disinggung sedikitpun dalam epos Mahabharata ataupun Ramayana.

Melihat contoh fenomena wayang tersebut, bisa jadi Musik Keroncong adalah penyikapan kreatif atas invasi bangsa Portugis dan Belanda lewat musik. Dengan "nakal", orang Indonesia mengadopsi instrumen yang digunakan mereka secara utuh penuh, namun irama dan teknik memainkannya dirombak total. Terbukti dari senar kontrabas dan cello yang cuma tiga dari lazimnya empat, serta cara memainkan cello yang lebih banyak "dikocok" ketimbang digesek.

Lagu Keroncong Kemayoran menjadi penutup manis malam hari itu, sekaligus menandai perubahan suasana yang siap disongsong: Dari Sya'ban ke Ramadhan, dari sikap hidup individual menjadi komunal, dari internasional menjadi lokal, dari lokal menjadi internasional. Ya, dari garasi rumah ini, yang lingkupnya RT dan RW, Musik Keroncong tengah mempersenjatai diri untuk berbalik menginvasi Barat. Menguasai dunia, menjadikan Indonesia bermartabat.





Comments

  1. Terimakasih mas Syarif liputannya, dan terimakasih atas apresiasi dan kesempatan keroncong untuk tampil di garasi 10.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...