Pasca pertandingan perempat final Inggris lawan Norwegia, striker Alexander Sørloth dihujat netizen karena tidak mengoper bola ke Erling Haaland di momen krusial. Akibat keputusannya mendribel bola sendirian sampai akhirnya dipatahkan John Stones, Norwegia gagal menggandakan keunggulan. Sekitar tujuh menit kemudian, skor pun berhasil disamakan oleh Jude Bellingham. Kita tahu ujung ceritanya: perjalanan Norwegia yang epik di Piala Dunia berakhir setelah Bellingham kembali mencetak gol di masa perpanjangan waktu. Norwegia kalah 1-2. Penampilan Haaland berakhir antiklimaks, Sørloth jadi kambing hitamnya. Saya tiba-tiba ingat Piala Dunia 1998 ketika Inggris disingkirkan Argentina di babak enam belas besar. Paul Ince dan David Batty gagal mencetak gol saat adu penalti, tetapi orang yang paling disalahkan adalah David Beckham. Alasannya, Beckham dikartu merah karena dianggap menendang Diego Simeone. Daily Mirror, salah satu media di Inggris, menulis headline besar-besar: " 10 ...
"Rasa sakit membuat kita dapat melihat kehidupan secara keseluruhan" -Sir Muhammad Iqbal
Dalam sejarah, rasa sakit selalu punya tempat. Kaum Epikurean di masa Hellenisme misalnya, menganggap bahwa kebaikan tertinggi adalah menjauhi rasa sakit. Islam sendiri memandang rasa sakit sebagai kiamat sugra atau kiamat kecil, sebuah episode partikular dari grand design bernama kiamat kubra alias kiamat besar. Lompat ke dunia medis, dari waktu ke waktu, yang dipercanggih kemudian adalah bagaimana penyakit bisa sembuh disertai minimalisasi rasa sakit. Sehingga suatu waktu saya berpikir, ketika dunia pengobatan sudah sangat canggih, mungkinkah rasa sakit kelak menjadi sejarah? Menjadi museum rasa sakit?
Namun rasa sakit juga adalah elemen penting dalam dunia keagamaan. Yesus adalah simbol rasa sakit, ia melihat rasa sakit sebagai bentuk pengorbanannya dalam menanggung dosa umat manusia. Muhammad ketika awal mula mempunyai pengikut, sering disiksa oleh kaum Quraisy. Ia pun hidup papa selama jadi pemimpin. Miskin berarti dekat dengan kesakitan, demikian common sense-nya. Siddharta Gautama pergi keluar dari istana yang hedonis, hidup berkelana tanpa wisma dan akrab dengan pergumulan yang menyiksa diri sendiri. Bahkan para pengikut mereka ada yang menjadikan rasa sakit sebagai cara untuk sampai pada tingkat spiritual tertentu (asketik), seperti yang dilakukan kaum Muslim Syi'ah pada 10 Muharram dan ordo tertentu dari Katolik yang kerap memecut diri sendiri.
Artinya, dalam peradaban manusia, rasa sakit adalah sesuatu yang dijauhi sekaligus dicintai. Bagi para nabi atau contoh-contoh manusia spiritual lainnya, rasa sakit adalah cara mereka menghayati kehidupan. Jika jiwa mereka telah menyentuh keilahian ke atas sana, maka rasa sakit mengingatkan bahwa jiwa ini masih di dalam tubuh, dan tubuh adalah milik bumi, tempat manusia berdiri. Rasa sakit adalah sebuah cara untuk mengingatkan bahwa kita ada di bawah, maka itu mendongaklah ke atas, melihat langit maha luas, tempat kita semua dinaungi. Sedangkan kebahagiaan seringkali membawa kita membubung tinggi, ke awan, dan melihat kehidupan di bawah yang kejam dan keji.
Agama dan rasa sakit berkaitan erat. Setiap agama mengajarkan kita untuk mengingat rasa sakit dengan caranya sendiri. Islam mengajarkan puasa dan shalat misalnya. Puasa jelas, ia memberi rasa lapar dan dahaga, mengakibatkan rasa sakit pada tubuh, terutama bagi mereka yang sesungguhnya sanggup makan ketika lapar dan minum ketika haus. Shalat mendisiplinkan tubuh kita, mengajak tubuh untuk melakukan sesuatu yang bukan naluriahnya. "Pemaksaan" itu juga menimbulkan rasa sakit. Buddha lebih ekstrim lagi, ia menyebutkan siklus kelahiran dan kematian kita sebagai sebuah dislokasi. Dislokasi berarti berada di tempat yang bukan seharusnya, dalam konteks tulang dan otot, itu berarti rasa sakit.
Barangkali memang rasa sakit tidak perlu dijauhi. Ia perlu ada dekat-dekat dengan kita, terutama di saat kebahagiaan terlalu membuncah dan membawa kita lupa diri. Kang Tikno, sahabat saya, mengatakan, bahwa sakit mengajarkan pada kita pentingnya istirahat. Bahwa tubuh dan jiwa sesungguhnya punya batas ketinggian. Rasa sakit mengajak kita kembali ke bumi dan mencintai keseharian. Jangan-jangan memang Tuhan tidak ada di atas sana, dijangkau oleh mereka-mereka yang terbang bersama kebahagiaan. Tuhan mungkin ada di dekat kita, menemani setiap manusia yang diterjang rasa sakit.
Dalam sejarah, rasa sakit selalu punya tempat. Kaum Epikurean di masa Hellenisme misalnya, menganggap bahwa kebaikan tertinggi adalah menjauhi rasa sakit. Islam sendiri memandang rasa sakit sebagai kiamat sugra atau kiamat kecil, sebuah episode partikular dari grand design bernama kiamat kubra alias kiamat besar. Lompat ke dunia medis, dari waktu ke waktu, yang dipercanggih kemudian adalah bagaimana penyakit bisa sembuh disertai minimalisasi rasa sakit. Sehingga suatu waktu saya berpikir, ketika dunia pengobatan sudah sangat canggih, mungkinkah rasa sakit kelak menjadi sejarah? Menjadi museum rasa sakit?
Namun rasa sakit juga adalah elemen penting dalam dunia keagamaan. Yesus adalah simbol rasa sakit, ia melihat rasa sakit sebagai bentuk pengorbanannya dalam menanggung dosa umat manusia. Muhammad ketika awal mula mempunyai pengikut, sering disiksa oleh kaum Quraisy. Ia pun hidup papa selama jadi pemimpin. Miskin berarti dekat dengan kesakitan, demikian common sense-nya. Siddharta Gautama pergi keluar dari istana yang hedonis, hidup berkelana tanpa wisma dan akrab dengan pergumulan yang menyiksa diri sendiri. Bahkan para pengikut mereka ada yang menjadikan rasa sakit sebagai cara untuk sampai pada tingkat spiritual tertentu (asketik), seperti yang dilakukan kaum Muslim Syi'ah pada 10 Muharram dan ordo tertentu dari Katolik yang kerap memecut diri sendiri.
Artinya, dalam peradaban manusia, rasa sakit adalah sesuatu yang dijauhi sekaligus dicintai. Bagi para nabi atau contoh-contoh manusia spiritual lainnya, rasa sakit adalah cara mereka menghayati kehidupan. Jika jiwa mereka telah menyentuh keilahian ke atas sana, maka rasa sakit mengingatkan bahwa jiwa ini masih di dalam tubuh, dan tubuh adalah milik bumi, tempat manusia berdiri. Rasa sakit adalah sebuah cara untuk mengingatkan bahwa kita ada di bawah, maka itu mendongaklah ke atas, melihat langit maha luas, tempat kita semua dinaungi. Sedangkan kebahagiaan seringkali membawa kita membubung tinggi, ke awan, dan melihat kehidupan di bawah yang kejam dan keji.
Agama dan rasa sakit berkaitan erat. Setiap agama mengajarkan kita untuk mengingat rasa sakit dengan caranya sendiri. Islam mengajarkan puasa dan shalat misalnya. Puasa jelas, ia memberi rasa lapar dan dahaga, mengakibatkan rasa sakit pada tubuh, terutama bagi mereka yang sesungguhnya sanggup makan ketika lapar dan minum ketika haus. Shalat mendisiplinkan tubuh kita, mengajak tubuh untuk melakukan sesuatu yang bukan naluriahnya. "Pemaksaan" itu juga menimbulkan rasa sakit. Buddha lebih ekstrim lagi, ia menyebutkan siklus kelahiran dan kematian kita sebagai sebuah dislokasi. Dislokasi berarti berada di tempat yang bukan seharusnya, dalam konteks tulang dan otot, itu berarti rasa sakit.
Barangkali memang rasa sakit tidak perlu dijauhi. Ia perlu ada dekat-dekat dengan kita, terutama di saat kebahagiaan terlalu membuncah dan membawa kita lupa diri. Kang Tikno, sahabat saya, mengatakan, bahwa sakit mengajarkan pada kita pentingnya istirahat. Bahwa tubuh dan jiwa sesungguhnya punya batas ketinggian. Rasa sakit mengajak kita kembali ke bumi dan mencintai keseharian. Jangan-jangan memang Tuhan tidak ada di atas sana, dijangkau oleh mereka-mereka yang terbang bersama kebahagiaan. Tuhan mungkin ada di dekat kita, menemani setiap manusia yang diterjang rasa sakit.
.png)
Comments
Post a Comment