Skip to main content

Mengajar Kembali

Setelah dua tahun tidak ada kegiatan mengajar akibat kena cancel , akhirnya saya dapat kesempatan mengajar lagi. Situasinya memang sudah sangat berbeda. Dulu mengajar di kampus, kelas-kelas di ruang publik, dan platform Zoom untuk umum, sekarang privat online untuk satu orang. Pada murid privat bernama Zam Zam tersebut, saya minta izin supaya partner saya, Nadya, dibolehkan untuk ikut kelas. Alasannya, pertama, supaya Nadya mendapat semangat belajar kembali dan kedua, ya supaya kelas agak lebih ramai saja. Syukurlah, Zam Zam membolehkan.  Kelas apa gerangan yang saya berikan untuk privat daring itu? Menariknya, Zam Zam, yang sebentar lagi skripsi double degree untuk bidang psikologi Islam dan pendidikan Islam, ingin semacam bimbingan penelitian. Akhirnya saya berikan materi tentang filsafat ilmu dan metodologi penelitian untuk tiga pertemuan dalam seminggu dan ini akan dilakukan entah hingga berapa bulan ke depan. Yang pasti, Zam Zam baru akan mengerjakan skripsi secara resmi seki...

Rasa Sakit

 
"Rasa sakit membuat kita dapat melihat kehidupan secara keseluruhan" -Sir Muhammad Iqbal

Dalam sejarah, rasa sakit selalu punya tempat. Kaum Epikurean di masa Hellenisme misalnya, menganggap bahwa kebaikan tertinggi adalah menjauhi rasa sakit. Islam sendiri memandang rasa sakit sebagai kiamat sugra atau kiamat kecil, sebuah episode partikular dari grand design bernama kiamat kubra alias kiamat besar. Lompat ke dunia medis, dari waktu ke waktu, yang dipercanggih kemudian adalah bagaimana penyakit bisa sembuh disertai minimalisasi rasa sakit. Sehingga suatu waktu saya berpikir, ketika dunia pengobatan sudah sangat canggih, mungkinkah rasa sakit kelak menjadi sejarah? Menjadi museum rasa sakit?

Namun rasa sakit juga adalah elemen penting dalam dunia keagamaan. Yesus adalah simbol rasa sakit, ia melihat rasa sakit sebagai bentuk pengorbanannya dalam menanggung dosa umat manusia. Muhammad ketika awal mula mempunyai pengikut, sering disiksa oleh kaum Quraisy. Ia pun hidup papa selama jadi pemimpin. Miskin berarti dekat dengan kesakitan, demikian common sense-nya. Siddharta Gautama pergi keluar dari istana yang hedonis, hidup berkelana tanpa wisma dan akrab dengan pergumulan yang menyiksa diri sendiri. Bahkan para pengikut mereka ada yang menjadikan rasa sakit sebagai cara untuk sampai pada tingkat spiritual tertentu (asketik), seperti yang dilakukan kaum Muslim Syi'ah pada 10 Muharram dan ordo tertentu dari Katolik yang kerap memecut diri sendiri.

Artinya, dalam peradaban manusia, rasa sakit adalah sesuatu yang dijauhi sekaligus dicintai. Bagi para nabi atau contoh-contoh manusia spiritual lainnya, rasa sakit adalah cara mereka menghayati kehidupan. Jika jiwa mereka telah menyentuh keilahian ke atas sana, maka rasa sakit mengingatkan bahwa jiwa ini masih di dalam tubuh, dan tubuh adalah milik bumi, tempat manusia berdiri. Rasa sakit adalah sebuah cara untuk mengingatkan bahwa kita ada di bawah, maka itu mendongaklah ke atas, melihat langit maha luas, tempat kita semua dinaungi. Sedangkan kebahagiaan seringkali membawa kita membubung tinggi, ke awan, dan melihat kehidupan di bawah yang kejam dan keji.

Agama dan rasa sakit berkaitan erat. Setiap agama mengajarkan kita untuk mengingat rasa sakit dengan caranya sendiri. Islam mengajarkan puasa dan shalat misalnya. Puasa jelas, ia memberi rasa lapar dan dahaga, mengakibatkan rasa sakit pada tubuh, terutama bagi mereka yang sesungguhnya sanggup makan ketika lapar dan minum ketika haus. Shalat mendisiplinkan tubuh kita, mengajak tubuh untuk melakukan sesuatu yang bukan naluriahnya. "Pemaksaan" itu juga menimbulkan rasa sakit. Buddha lebih ekstrim lagi, ia menyebutkan siklus kelahiran dan kematian kita sebagai sebuah dislokasi. Dislokasi berarti berada di tempat yang bukan seharusnya, dalam konteks tulang dan otot, itu berarti rasa sakit.

Barangkali memang rasa sakit tidak perlu dijauhi. Ia perlu ada dekat-dekat dengan kita, terutama di saat kebahagiaan terlalu membuncah dan membawa kita lupa diri. Kang Tikno, sahabat saya, mengatakan, bahwa sakit mengajarkan pada kita pentingnya istirahat. Bahwa tubuh dan jiwa sesungguhnya punya batas ketinggian. Rasa sakit mengajak kita kembali ke bumi dan mencintai keseharian. Jangan-jangan memang Tuhan tidak ada di atas sana, dijangkau oleh mereka-mereka yang terbang bersama kebahagiaan. Tuhan mungkin ada di dekat kita, menemani setiap manusia yang diterjang rasa sakit.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...