Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Etika Paradoks


Bayangkan bayangkan. Di tengah ancaman MSG yang merusak pertumbuhan otak anak serta polusi kendaraan yang makin memprihatinkan, ada anak yang -atas dasar titah orangtuanya- membawa bekal makanan dari rumah untuk ke sekolah. Makanannya itu berisikan pure kentang dan tumis brokoli, menandakan kandungan kesehatan tingkat tinggi. Setiap bel istirahat berbunyi, yang ia ingat hanya membuka bekalnya dan makan di kelas. Kata mama, "Jangan jajan di sekolah, kotor, berbahaya, mending makan masakan mama, bersih, sehat." Dari banyak sudut pandang, gaya seperti ini jelas mengandung kebaikan. Pertama, higienis, dan yang kedua, ekonomis. Jelas jajan seringkali jatuhnya lebih mahal daripada memasak sendiri.

Hari Minggu, tanggal 15 kemarin, di sela-sela acara Crafty Days Tobucil, saya menyempatkan diri ngobrol dengan tukang teh botol yang rajin nongkrong di samping SMA saya dulu. Kebetulan, setiap ada even di Tobucil, dia selalu duluan booking tempat di sana. Berbeda dengan di masa SMA saya dulu, sekarang ini si Mang Dedi berwajah muram. Isi obrolannya cuma curhat keluhan demi keluhan, "Rip, sekarang mah ripuh dagang di Taruna Bakti teh. Barudak pada bawa bekel. Jadi gak ada yang beli ke samping." Lalu lanjut Mang Dedi, dengan tanggungan satu anak, ia berkata bahwa jika keadaan begini terus, bukan tidak mungkin ia menjadi tidak sanggup membiayai keluarganya.

Kedua kejadian di atas, bukan berlangsung sekonyong-konyong dalam situasi kausalitas, melainkan bersamaan, nyaris bersamaan. Atau bayangkan kalian sedang diwisuda, mengukuhkan diri sebagai anak bangsa yang berpendidikan dan paripurna. Menjalani wisuda artinya bertambah lagi satu orang manusia yang siap bermanfaat bagi agama dan negara. Tapi tidakkah kalian membayangkan bahwa disaat yang persis sama, acara wisuda itu sendiri menimbulkan kemacetan luar biasa, sehingga supir angkot mencela-cela? Sehingga supir angkot kehilangan kesempatan mencari nafkah dan siapa tahu ibunya sedang sakit di rumah? Atau saya ingat dalam peristiwa umrah tahun lalu, bapak saya kecopetan uang tiga ratus riyal di pelataran Masjidil Haram, sebuah wilayah yang dipercayai penuh kebaikan akan statusnya sebagai rumah Tuhan.

Dalam perjalanan sejarah filsafat Barat, banyak sekali pemikir yang merenungkan soal etika, atau hakekat kebaikan. Yang paling terkenal tentu saja Kant. Ia yang merumuskan bahwa sesungguhnya ada yang dinamakan etika universal. Ia memberi contoh, bagaimana jika kau menyembunyikan temanmu di rumah, padahal ia sedang dicari-cari polisi untuk sebuah urusan kriminal yang serius? Ketika polisi datang menanyai, apa yang kamu lakukan? Etika Kantian memberi solusi: universalkan masing-masing kejadian, dan jawab olehmu, mana yang lebih baik? Bayangkan jika semua orang di dunia menyembunyikan temannya di rumah meski ia jahat, dan bayangkan pula jika semua orang di dunia memberikan siapapun yang jahat pada polisi, mana kira-kira yang membuat dunia lebih baik?

Lupakan Kant. Karena etikanya betul-betul tidak bisa menjawab pelbagai situasi-situasi di paragraf awal. Bahwa sesungguhnya, Kant, tiada etika universal, bagi saya. Sesuatu yang baik, selalu mengandung keburukan di dalamnya, dalam waktu dan kadang tempat yang persis bersamaan. Paradoks.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...