Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Sri Mulyani dan Kant


Suatu hari, Immanuel Kant, seorang filsuf Prusia Timur yang berasal dari abad ke 18, menyambangi Sri Mulyani. Dimana? Di sebuah tempat sepi yang terserah mau kau interpretasikan dimana. Sepertinya mereka bertemu begitu saja, tanpa ada siapa yang mengundang dan siapa yang diundang. Takdir, begitu mereka menyebutnya.

Sri Mulyani : Tuan Kant, adalah hal yang luar biasa bagiku untuk bertemu dengan anda.

Kant : Ah, jangan begitu Bu Sri, biasa aja kok. Aku juga senang bertemu anda. Suatu hal yang asing pada mulanya, bertemu orang di luar warga Konigsberg. Tapi aku yakin pasti menarik.

Sri Mulyani : Kuharap begitu, Tuan Kant. Setidaknya hingga Tuan mendengarkan masalahku.

Kant : Aku sudah tahu, soal bailout kan?

Sri Mulyani : Bagaimana kau tahu perihal itu, Tuan Kant?

Kant : Ah, sepanjang masih soal fenomena, pasti dapat kita ketahui. Maka ceritakan padaku kegelisahanmu itu, Bu.

Sri Mulyani : Sederhana saja, aku merasa bahwa dana yang digunakan, darimanapun itu, telah sukses mencegah krisis. Dan itulah tanggungjawabku sebagai ketua KKSK. Aku heran kenapa itu dipermasalahkan? Tidakkah yang terpenting dari semua ini, adalah hasil akhir, Tuan Kant? Aku heran kenapa orang-orang begitu ribut dengan asal muasal dana yang digunakan. Tidakkah krisis sungguh hal yang ditakuti semua orang?

Kant : Aku punya cerita sederhana, Bu Sri. Dan semua yang menggeluti pikiranku, sering sekali mendengarkan kisah semacam ini. Ada seorang penjahat kabur, dicari ia oleh polisi. Penjahat itu ingat rumah kawannya, dan kaburlah ia ke tempat itu. Suatu ketika polisi datang ke tempat itu, rumah si kawan sekaligus persembunyian sang penjahat. Kawannya maju ke muka setelah membuka pintu, berhadapan dengan polisi yang bertanya apakah ia menyembunyikan seorang penjahat? Pertanyaannya, Bu Sri, kalau kau jadi kawan itu, apa yang kau lakukan? Memberitahukan pada sang polisi bahwa kau tengah menyembunyikan penjahat, atau kau mau melindungi kawanmu dengan mengatakan bahwa tiada siapa-siapa di rumah ini?

Sri Mulyani : Itu pertanyaan sangat sulit, Tuan Kant. Dan sangat tergantung sikon. Bagaimana cara memilihnya?

Kant : Sekarang bayangkan, kedua pilihan itu, diuniversalkan.

Sri Mulyani : Maksudnya?

Kant : Pertama, bayangkan di seluruh dunia, semua orang melakukan kejujuran ketika ditanya oleh polisi apakah ia menyembunyikan penjahat atau tidak. Kedua, bayangkan di seluruh dunia, semua orang melindungi kawannya yang penjahat. Menurut Ibu, manakah diantara keduanya, yang jika diterapkan, lebih membahayakan bagi dunia?

Sri Mulyani : Tentu saja yang kedua, Tuan.

Kant : Demikianlah, sekarang kita lihat kasusmu. Pertama, bayangkan di seluruh dunia, semua orang menyuntikkan dana pada suatu perusahaan tertentu yang asal muasalnya dari uang rakyat, yang jika tidak dilakukan, akan berpeluang menjadi krisis. Kedua, bayangkan di seluruh dunia, semua orang menjaga penuh uang rakyat dan menjaga hak-haknya, tanpa perlu terlalu memusingkan soal ada satu bank yang nyaris kolaps. Manakah diantara keduanya, yang lebih menguntungkan bagi dunia jika diterapkan?

Sri Mulyani : Sebagai eks-ketua KKSK, tentu saja yang pertama, Tuan Kant.

Kant : Sekarang katakanlah padaku, Bu, sebagai seorang manusia.

Sri Mulyani (berbisik) : Kedua.

Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...