Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Anti-Barat


Alkisah ada seorang fundamentalis Islam berorasi: Hancurkan Barat! Hancurkan Amerika! Kapitalitas merusak akhlak! McDonald terkutuk! KFC busuk! Yahudi mati!

Lalu berjalanlah ia pulang dari demonstrasi di, bisa di gedung pemerintahan, ataupun kedutaan AS itu. Pulang dengan menggunakan mobil yang di era lampau diciptakan oleh Karl Benz. Ia juga tak luput menyebarkan pamflet kebencian pada AS, yang tanpa ide Johann Gutenberg soal mesin cetak, ia akan kecapean menuliskan pamflet per pamflet yang jumlahnya seribu. Ia pulang, kelaparan, makan di warung nasi goreng. Katanya, "Ini bukan produk Amerika, asal kita jangan makan di McD, boikot McD!" Setelah makan dengan menggunakan sendok yang konon diciptakan di Eropa Utara, ia membayar. Membayar tanpa bertanya darimana nasi goreng tersebut harganya menjadi sekian dan mengapa bukan sekian. Seolah-olah dia percaya, bahwa harga dikendalikan oleh invisible hand-nya Adam Smith.

Sebelum sampai rumah, ia mampir ke warnet, mengakses Facebook. Membuka akunnya yang sedang membuat grup anti-Amerika. Tahukah ia soal Mark Zuckerberg? Yahudi perintis Facebook itu? Mungkin tahu, mungkin juga tidak. Tak luput juga ia membuka blog pribadinya, yang berisi caci makian terhadap Barat, salah satunya soal Valentine sebagai bentuk syirik. Agar terlihat pandai, dipaparkanlah sejarah Valentine, yang mana ia ambil dari Wikipedia (ingat, diciptakan oleh Jimmy Wales dan Larry Sanger). Ia menyalin sejarah yang, oh sialan, dimetodakan dengan baik oleh Herodotus. Belum lagi, ia jelas-jelas memuja Alexander Graham Bell yang tanpanya, ia tak bisa menelepon teman-temannya sesama akhwan-ikhwat. Sambil terkadang menonton acara Manajemen Qalbu di televisi ciptaan John Logie Baird, ia menunggui anaknya pulang sekolah. Sekolah yang tak akan ada tanpa sistem akademia Platonis. Lalu di akhir hari, ia tidur, mematikan lampu temuan Thomas Alva Edison. Esoknya, ditelpon ia oleh kedutaan AS. Sang fundamentalis diundang makan di hotel Hilton. Silakan katanya, mengemukakan aspirasinya, sambil makan malam. Diterima ia bak raja, dihidanginya pelbagai makanan istimewa dari penjuru dunia. Sang tuan rumah mempersilahkan dengan ramah, "Silakan, ini halal." Di perbincangan, ia melunak, "Allah tidak suka orang yang menolak rizki. Asal halal."

Lalu ia pamit shalat di tengah makan. Ia bingung dimanakah kiblat? Untung ia membawa kompas. Kompas yang dahulu digunakan dengan bangga oleh Columbus dan Magelhan untuk mengolonialisasi. Sehingga wajah dunia menjadi seperti sekarang ini.

Akhir cerita, karena ia berada di Indonesia, maka bersujudlah ia, ke arah Barat.

Comments

  1. suka bgt ma Invisible hand Adam Smith (bpk gw tuh...,hihihi..:)..Timur melengkapai Barat dan barat melengkapi timur,org barat suka dg alam timur dan org timur suka music barat...,perpaduan yg melengkapi,terkadang saling membutuhkan tp terkadang tak sadar akan itu..

    ReplyDelete
  2. @hapsari: merci.. :)
    @Mba Liely: Iya mbak, tapi lebih tepatnya, barat sekarang lagi banyak lagi belajar soal timur. Sedangkan timur, yang sejak dulu sedang canggih, malah menurut saya mundur dengan belajar soal barat. Nanti akan saya bahas di tulisan. Ini menarik. :)

    ReplyDelete
  3. waduh om ini bagus..salut
    yg kaya gini nih, munafik..kah? :p

    ReplyDelete
  4. Bener pa, keren! Barat timur kaya laki-laki sama perempuan, logika sama hati.
    Rian Septiandi 112500274 hahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...