Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Kepemilikan

Mungkin tidak ada orang yang menginginkan seluruh dunia bagi dirinya sendiri. Setiap orang rasa-rasanya memikirkan juga soal keadilan dan distribusi. Namun keadilan dan distribusi tersebut harus melalui sebuah syarat: kepemilikan. Orang mesti memiliki dulu, baru memikirkan keadilan dan distribusi. Supaya apa? Entah, karena mungkin masing-masing orang punya versinya sendiri tentang apa yang adil.  Contoh ekstremnya, pemerintah. Pemerintah pada prinsipnya adalah pihak yang (merasa) berhak menyimpan kekayaan negara dan mendistribusikannya. Saat kekayaan itu hendak didistribusikan, mereka tentu tidak langsung membagikannya pada rakyat, melainkan lewat beberapa tahapan administratif. Pada setiap tahapan-tahapan tersebut, perpindahan kepemilikan terjadi dari satu institusi ke institusi yang lain. Lalu pada masing-masing institusi yang katakanlah di Indonesia, hampir pasti terjadi korupsi atau semacamnya, supaya kepemilikan menjadi lebih spesifik ke tangan tertentu. Mereka yang korupsi it...

Selisih

Pada setiap kita berada di suatu peristiwa, kita ada di suatu peristiwa tersebut. Maksudnya, kita ada di sana, menjadi bagiannya, melebur dalam ruang dan waktunya. Namun saat ruang dan waktu itu sudah berbeda, kita kemudian punya kemampuan untuk menceritakannya ulang, dalam lisan maupun tulisan. Namun apapun itu yang direpresentasikan oleh lisan ataupun tulisan, bukanlah persisnya peristiwa "itu". Ia telah memiliki "selisih" antara yang berada di ruang dan waktu sejatinya, dan ruang dan waktu yang telah diceritakan ulang.  Misalnya, terdapat periode yang kelihatannya rumit pada kehidupan Lacan antara tahun 1953 hingga 1962 terkait posisinya dalam beberapa asosiasi psikoanalisis. Sembilan tahun bukanlah periode yang bisa dikatakan singkat dalam kehidupan manusia. Namun kita membacanya bisa jadi sangat ringan, bahwa 1953 Lacan mengalami hal ini, lalu mengalami hal itu, begitu seterusnya hingga tahun 1962. Apakah aslinya demikian "ringan"-nya? Saya membayangk...

Penuh Waktu di Kelas Isolasi

Mengelola Kelas Isolasi semestinya adalah semacam hobi, hal yang dikerjakan di waktu-waktu luang alias di luar jam kerja (meski saya tidak punya pemisahan yang tegas tentang mana jam kerja dan mana non jam kerja). Namun terutama sejak kehadiran para relawan mulai sebulan lalu, mengurusi Kelas Isolasi menjadi hal yang mesti dikerjakan penuh waktu. Mengapa demikian? Bukankah keberadaan 32 relawan yang membantu Kelas Isolasi membuat kami bisa lebih santai-santai? Ternyata sebaliknya, perhatian yang lebih besar justru dibutuhkan akibat lebih banyaknya konten yang diproduksi.  Konten-konten yang diproduksi tersebut tidak semuanya bisa langsung diposting, melainkan mesti dibaca kembali, direvisi tipis-tipis, bahkan dalam beberapa kasus, harus dirombak habis-habisan. Konten yang melimpah juga membuat kami mesti mengatur jadwal supaya frekuensi kemunculannya menjadi rapi sekaligus estetik. Hal-hal demikian, mau tidak mau, memerlukan semacam sistem, supaya segalanya agak-agak otomatis dan t...

Love is the Answer (2022) - Mengembalikan Agape dalam Masyarakat Transaksional

Sebagai orang yang mengklaim diri sebagai "demotivator", nyaris setiap malam saya menyempatkan diri untuk menonton ceramah para motivator via Youtube. Supaya apa? Supaya mengetahui apa yang mereka katakan bersama problem yang dibawanya. Intinya, saya mengumpulkan bahan untuk mengkritik para motivator. Sebagai contoh, terdapat motivator yang kerap mengatakan, "Apakah harus ada orang yang miskin? Harus, yang penting bukan kita." Bagi saya ungkapan tersebut bermasalah, karena menjustifikasi individualisme atau komunalisme sempit, sekaligus meneguhkan paradigma motivasional sebagai agen neoliberal yang mendewakan persaingan dalam konteks zero-sum game - bahwa kemenangan kita adalah sekaligus kekalahan bagi yang lain.  Di tengah keasyikan saya dalam membongkar modus para motivator ini, tiba-tiba seorang kawan mengirimkan buku motivasi dengan dilampiri surat langsung dari penulisnya. Katanya, silakan dibaca, dan mudah-mudahan bisa diulas. Tentu saja hal ini mengejutkan. ...

Toleransi

Toleransi adalah kata yang indah. Tapi iyakah? Tidak adakah masalah sama sekali dalam konsep toleransi? Toleransi mungkin secara sederhana bisa diartikan sebagai sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan supaya dapat hidup bersama dan berdampingan. Tidak ada masalah, mungkin, tetapi bisa saja dipermasalahkan: apakah toleransi bersifat eksklusif hanya pada mereka yang juga toleran? Jika toleransi hanya terbatas pada mereka yang punya sikap toleran, tidakkah artinya toleransi juga punya sisi intoleran terhadap mereka yang intoleran? Permasalahan ini pernah disinggung oleh Karl Popper dalam gagasannya tentang paradoks toleransi. Bagi Popper, mereka yang intoleran tidak perlu ditoleransi karena jika diberi panggung, si intoleran nantinya akan menyingkirkan mereka yang toleran.  Popper mungkin ada benarnya, tapi juga bisa dipermasalahkan: tidakkah boleh-boleh saja bagi seseorang atau kelompok tertentu memandang perbedaan sebagai sesuatu yang menyusahkan bagi prinsip yang dianutn...

Selera Pasar

Beberapa minggu lalu, kawan saya dirujak di Twitter akibat membandingkan nasib dirinya dengan Blackpink. Kawan saya itu bisa dikatakan sebagai orang yang serius belajar musik: multi instrumentalis, bisa aransemen dan komposisi, serta mendalami sejarah dan teori musik. Ia diserang netijen, utamanya oleh pendukung Blackpink, karena menganggap bahwa kelompok musik Korea itu masih muda-muda, kemampuan musiknya biasa aja, tetapi bisa kaya raya. Sementara ia, yang serius mendalami musik, uangnya tidak seberapa (kira-kira begitu). Rata-rata serangan yang tertuju pada dia berkaitan dengan ketidaksesuaian "adu nasib": Blackpink juga berusaha keras, mereka juga mati-matian dalam belajar musik. Mungkin luaran musiknya beda, tetapi hal tersebut tidak mengabaikan kenyataan bahwa antara teman saya dan Blackpink ya sama-sama berjuang juga. Intinya, tidak usah mengeluh lah .  Harus diakui bahwa level rujakan itu cukup keras. Saya sendiri heran mengapa bisa demikian ya para pendukung pop-pop ...

Privilese

Memang tidak bisa ditolak, sebagai konsekuensi dari kepemilikan pribadi, terjadilah hal yang namanya privilese atau hak istimewa. Privilese ini melekat, buah dari apa yang dikerjakan orang tua, kakek-nenek, dan leluhur kita, yang tidak bisa begitu saja ditanggalkan dan bahkan cenderung dinikmati. Memang ada privilese berupa kepemilikan rumah sejak lahir, kemudahan mengakses sekolah-sekolah bagus sejak TK, hingga fasilitas uang jajan yang memadai untuk membeli ini-itu, tetapi ada juga privilese berupa hal-hal yang melekat pada tubuh, yakni kenyataan bahwa seseorang lahir sebagai laki-laki, lahir sebagai suku yang umumnya bertempat di Pulau Jawa, lahir sebagai muslim, dan lahir sebagai heteroseksual. Privilese terakhir ini memang juga berhubungan dengan apa yang dikerjakan orang tua (migrasi, kawin dengan siapa), tetapi secara umum lebih tidak bisa dilepaskan ketimbang harta benda (yang statusnya lebih tidak stabil).  Konsekuensi dari privilese itu bisa pada akses-akses berikutnya ya...