Skip to main content

Posts

Perkara Hari Untung dan Hari Rugi

Nadya adalah seorang pesimistis yang memandang hari-hari adalah selalu sial baginya. Pandangan semacam ini lumrah saja, dan mungkin gak cuma Nadya, banyak orang juga berpandangan seperti ini. Saya mungkin gak gitu-gitu amat. Kadang ada hari baik, ada hari buruk, tapi secara umum saya adalah orang yang lumayan optimis dalam menghadapi hari-hari. Sampai suatu hari saya pikir cara berpikir Nadya ini agak berbahaya juga, dalam artian, okelah, menganggap hari-hari itu sial boleh saja sebagai mekanisme pertahanan diri, supaya psikis ini senantiasa siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang datang setiap harinya.  Tapi setelah direnungkan sungguh-sungguh, kalau kita memandang hari itu ada hari untung, ada hari rugi, seperti misal: kemarin hari-hariku beruntung, hari ini rugi, berarti mungkin besok untung lagi, hari-hari jadinya dipandang dalam kacamata kerancuan penjudi ( gambler's fallacy ): semacam keyakinan bahwa kelak kita akan mengalami keberuntungan hanya karena telah...

Masih Adakah Nuansa Personal Dalam Pusaran Digitalisasi Maaf-Maafan?

Lebaran tahun 1438 Hijriah ini, dunia digital masih dan semakin berkuasa. Nyaris setiap menit (atau bahkan detik), pesan demi pesan masuk ke Whatsapp saya, yang kadang saya baca, tapi umumnya tidak. Kenapa tidak dibaca? Tentu saja, karena pesan itu semua terlihat sama saja. Mungkin ada beberapa yang kreatif - yang menimbulkan senyum kecil, yang membuat saya ingin meneruskan pesan itu - tapi sayang sekali, tidak orisinil. Ia yang saya pikir kreatif itu, juga meniru dari yang lain.  Tapi dalam dunia kontemporer ini, mungkin orisinalitas adalah isu yang ketinggalan. Semua memproduksi, semua mengonsumsi. Di masa lebaran, kita berada dalam pusaran "digitalisasi maaf-maafan" yang sangat masif, sehingga semua bisa kreatif, semua bisa inovatif, semua bisa merajut kata-kata indah, semua bisa menyuguhkan ragam visual yang estetis, tapi sekaligus: semua menjadi tidak bermakna. Pada titik ini, kita sudah sulit berbicara " medium is the message "-nya Marshall McLuhan ya...

Menunda Asumsi, Melesapi Peristiwa: Selayang Pandang Konsep Fenomenologi dalam Pandangan Husserl dan Caputo

Pada awal abad ke-20, muncul benih-benih perlawanan terhadap paradigma positivisme dalam ilmu pengetahuan. Cara pandang yang sudah sedemikian lekat sejak era Francis Bacon di abad akhir ke-16 tersebut dianggap tidak mampu menjawab sejumlah permasalahan. Protes mulai bermunculan ketika Auguste Comte, seorang sosiolog Prancis di abad ke-19, menyerukan dengan sangat yakin, bahwa sebagaimana halnya alam yang bisa diprediksi dan dikontrol, manusia pun akan sampai pada tahap yang demikian. Majunya ilmu pengetahuan, bagi Comte, akan membawa manusia keluar dari fase teologis dan metafisik, sehingga masuk ke suatu era yang paling cerah: era positif. Pada titik ini, sederhananya, segalanya menjadi jelas dan bisa dijelaskan, baik fenomena alam maupun fenomena manusia.  Protes tersebut datang dari beberapa kubu. Wilhelm Dilthey misalnya (1833 – 1911), membedakan tegas antara ilmu-ilmu alam ( naturwissenschaften ) dan ilmu-ilmu manusia ( geisteswissenschahften ). Ilmu-ilmu alam, menu...

Manusia di Hadapan Teknologi: Tuan atau Budak?

  Kita sering menyebut abad ini sebagai abad teknologi. Nyaris tidak ada satu hal pun yang kita lakukan tanpa melibatkan bantuan teknologi. Teknologi juga telah membawa kita pada hal-hal yang sulit terbayangkan sebelumnya: Mengetahui berita lintas benua secara langsung, mempublikasikan sebuah pesan serentak ke seluruh dunia dalam waktu kurang dari sedetik, berkendara melampaui samudera, hingga menembus atmosfer dan melayang-layang di ruang hampa udara. Ketika Era Renaisans bermula pada sekitar tahun 1500-an, masyarakat Eropa mulai mempertimbangkan rasionalitas sebagai pusat dari kehidupan manusia dan mengembangkannya tanpa henti. Hingga abad-abad ke depannya, kredo “manusia mengendalikan alam” terus menjadi sandaran bagi setiap perkembangan teknologi. Umat manusia serta merta ada pada ledakan kegembiraan setiap ada penemuan baru. Mereka percaya bahwa kita semua, seperti kata Friedrich Hegel, berada pada suatu perjalanan menuju pencerahan.  Namun menjelang abad ke-21, keti...

Menahan Diri dari Berbelanja, Bisakah?

Bulan Ramadhan telah datang, dan umat Muslim di Indonesia pada umumnya berpuasa – atau setidaknya, begitulah kelihatannya-. Seperti kita ketahui secara umum, puasa berarti menahan diri dari segala kenikmatan badani seperti makan, minum, dan seks. Tidak hanya itu, puasa juga menekan nafsu-nafsu negatif lainnya seperti membicarakan kejelekan orang lain, menghina, melihat hal-hal tidak senonoh, atau mungkin juga, menyebarkan hoax (untuk yang terakhir ini, belum kelihatan buktinya).  Namun ada hal yang tidak pernah dibahas sebagai bagian dari nafsu “negatif” yang faktanya terjadi saat bulan puasa hingga nanti lebaran, yaitu nafsu berbelanja. Menjadi konsumtif adalah salah satu tren yang umum terjadi di Indonesia pada periode ini. Misalnya, yang biasanya makan di rumah, karena sekarang makan menjadi momen istimewa, maka lebih indah jika makan itu beli jadi, atau sekalian di restoran, sambil reuni. Menjelang lebaran nanti, apalagi. Baju baru menjadi tujuan hidup yang utama, karena ...

Kelas Logika: Berpikir Induktif

  Berpikir induktif berarti berpikir dari kejadian khusus ke kesimpulan yang bersifat umum. Pada dasarnya, cara berpikir kita memang demikian adanya, termasuk pada saat berpikir deduktif sekalipun. Misalnya, pada silogisme yang paling umum seperti:  Semua manusia akan mati  Sokrates adalah manusia  Sokrates akan mati Premis “semua manusia akan mati” sebenarnya hanya abstraksi dari pengalaman-pengalaman kita akan matinya beberapa manusia. Pada dasarnya, secara epistemologi, kita tidak bisa mengetahui apakah semua manusia itu mati atau tidak.  1. Argumen Kausal Mill  Pada abad ke-19, seorang pemikir Inggris, John Stuart Mill merumuskan lima argumen kausal. Argumen kausal dengan berpikir induktif adalah saling bertalian. Hal tersebut sesuai dengan definisi Aristoteles tentang sains, yaitu, “Penjelasan atas segala sesuatu dengan menelusuri sebab-sebabnya.” Penelusuran sebab-sebab tersebut oleh Mill dibagi ke dalam lima bagian.  1.1...

(Komunitas Kebangsaan) Membahanakan Ide dari Ruang Kecil (5 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015 Komunitas kebangsaan yang menjadi fenomena belakangan ini seperti Asian African Reading Club (AARC) dan Api Bandung, sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru. Jauh sebelumnya, puluhan tahun silam, para Bapak Bangsa sudah mendirikan komunitas kebangsaan. Sejarah Republik kita mengenal Budi Utomo, suatu organisasi pemuda yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa-mahasiswa kedokteran di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Batavia. Pendirian Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 itu sampai sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Meski dianggap sebagai tonggak kebangkitan –salah satunya melahirkan Indische Partij , organisasi politik yang cukup vokal menuntut kemerdekaan Indonesia-, keberadaan Budi Utomo tidak lepas dari tudingan-tudingan miring.  Misalnya, Pramoedya Ananta Toer berkata bahwa Budi Utomo sebenarnya tidak lebih daripada organisa...

(Komunitas Kebangsaan) Jalan Sunyi Para Penjual Buku (4 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015 Jika ada beberapa dari kita mempunyai ketertarikan untuk mengetahui lebih jauh hal-ikhwal pemikiran dari para Bapak Bangsa maupun pergerakan nasional Indonesia, tentu di zaman sekarang ini, internet menyediakan semuanya. Ketersediaan yang cukup lengkap di internet tersebut bisa jadi menyurutkan semangat sebagian orang untuk mencari sumber dari buku. Alasannya, tentu saja, selain lebih membutuhkan tempat untuk menyimpannya, buku-buku juga harus dibeli (bandingkan dengan informasi dari internet yang bisa didapat secara gratis).  Maka itu, jika melihat ada sebagian kecil lapak yang masih mau berjualan buku-buku tua bertema kebangsaan, tentu kita bisa menyebut bahwa jalan yang mereka tempuh, adalah jalan yang sunyi. Salah satu penempuh jalan sunyi itu adalah Lawangbuku yang bertempat di Balubur Town Square. Lapak berukuran sekitar dua kali tiga meter milik Deni Rachman tersebut...