Skip to main content

Komentar atas Madilog (Bab Filsafat)

Tetapi memakai Engels buat penunjuk jalan, bisalah kita terhindar dari kekacauan dan membuang-buang waktu. Engels, sekarang terkenal sebagai co-creator, sama membangun, dengan Marx, sebetulnya dalam filsafat banyak sekali meninggalkan pusaka. Karl Marx terkenal sebagai bapak Dialektis Materialisme dan Surplus Value, yakni Nilai-Ber-Lebih, nilai yang diterbitkan oleh buruh, tetapi dimiliki oleh kapitalis. Engels, pendiam, pembelakang, selalu berdiri di belakang kawannya Marx, tetapi setia dan jujur, meneruskan mengarang "Das Kapital", yang belum habis ditinggalkan Marx, karena ia meninggal. Engels sendiri menulis beberapa buku berhubung dengan filsafat "Anti Duhring" dan "Ludwig Feurbach" sejarah dan ekonomi. Tan Malaka menempatkan Friedrich Engels sebagai sosok kunci dalam menuntun manusia keluar dari kekacauan berpikir mistik menuju pemahaman filsafat yang ilmiah dan materialis. Dengan menyebut Engels sebagai “penunjuk jalan,” ia menegaskan pentingnya p...

Musik dan Filsafat Analitik




Akar dari keterkaitan antara musik dan filsafat analitik dapat ditarik ke argumen Immanuel Kant terkait keindahan yang seharusnya tidak bertujuan dan tidak berkepentingan (disinterestedness). Eduard Hanslick (1825 – 1904) seolah meneruskan pendapat Kant tersebut dalam konteks musik lewat bukunya yang berjudul On the Musically Beautiful. Hanslick menganggap bahwa musik seharusnya berdiri sendiri sebagai sebuah bentuk tanpa memiliki relasi dengan subjektivitas pendengarnya. 

Sekilas Filsafat Analitik 

Filsafat analitik sebagai sebuah aliran tersendiri, jika dilacak, memang baru dimulai di awal abad ke-20. Berkembang umumnya di kalangan pemikir Inggris seperti Bertrand Russell dan G.E. Moore, filsafat analitik menitikberatkan kajiannya pada logika formal dan matematika sebagai landasan dalam kejernihan berfilsafat. Artinya, berbeda dengan filsafat kontinental yang berpusat pada pemaknaan dan penafsiran yang berhubungan dengan historisitas dan aspek kultural, filsafat analitik menganggap bahwa kita tidak mengatakan apapun jika persoalan bahasa tidak diselesaikan secara tuntas. Selain tentang logika formal dan matematika, filsafat analitik juga masuk pada pembahasan tentang kerja akal budi dan berbagai kajian terkait sains kognisi. 

Filsafat analitik enggan terburu-buru untuk mengaitkan filsafat dengan “konteks”, melainkan menelaah pernyataan filosofis secara ketat sebelum menautkannya dengan “kenyataan”. Misalnya, dalam pembahasan mengenai etika, filsafat analitik tidak langsung mengaitkan antara etika dalam kaitannya dengan hubungan sesama manusia yang “seharusnya”, tetapi lebih pada mempertanyakan natur dari istilah “baik” dan “buruk” itu sendiri sebagai suatu problematika bahasa. Filsafat analitik, meminjam istilah G.E. Moore, enggan jatuh pada naturalistic fallacy atau mencampuradukkan apa yang “baik” dengan yang “menyenangkan” atau “diinginkan” sehingga konsepsi “baik” itu sendiri menjadi gagal untuk didefinisikan. 

On the Musically Beautiful 

Meski ditulis sebelum kemunculan filsafat analitik sebagai sebuah aliran tersendiri, On the Musically Beautiful (1854) yang ditulis oleh Eduard Hanslick nampak mempunyai kedekatan dengan ciri-ciri filsafat analitik. Bagi Hanslick, musik harus dilihat sebagai bentuk yang berdiri sendiri dan tidak bercampuraduk dengan emosi subjektif dari pendengarnya – perhatikan betapa miripnya argumen ini dengan keberatan G.E. Moore terkait naturalistic fallacy -. Hanslick menegaskan hal tersebut dalam kalimat berikut ini, “Keindahan sebuah karya secara spesifik adalah tentang apa yang musikal, yang terkandung secara inheren di dalam hubungan antar nada tanpa mengacu pada konteks ekstramusikal.” Seorang kritikus musik, lanjut Hanslick, seharusnya mengarahkan pendengar musik untuk konsentrasi ke arah sana (hal yang musikal secara spesifik) dan bukan luarannya. 

Bagaimana dengan posisi komposer dalam tulisan-tulisan Hanslick? Hanslick mencoba memisahkan kepribadian, identitas, dan kehadiran komposer di dalam sebuah karya musik. Hanslick berulangkali menegaskan bahwa di dalam komtemplasi murni, si pendengar tidak mendengarkan apa-apa kecuali hanya musik yang sedang dimainkan. Meski komposer adalah kreator dari karya musik, tetapi ketika ia selesai mencipta sebuah karya, maka karya tersebut menjadi otonom. Hal yang tersisa, bagi Hanslick, hanyalah karakter dari si komposisi, dan bukan si komposer. 

Berangkat dari keketatan Hanslick pada aspek musikal, ia menjadi penentang keras karya musik dari komposer seperti Richard Wagner, Anton Bruckner, dan Hugo Wolf yang menurutnya mendramatisasi musik dengan mengajak pendengarnya untuk terasosiasikan dengan sesuatu yang bukan-musik. Misalnya, karya Wagner seringkali berupaya untuk menjelaskan suatu narasi dalam karyanya, semacam mengangkat sebuah cerita. Bagi Hanslick, keindahan musik bukan terletak pada apa yang di luar musik, melainkan murni pada urusan bunyi dan pergerakannya (sound and motion). Kembali pada pembahasan terkait musik dan emosi, Hanslick mengatakan bahwa emosi tidak terkandung secara objektif di dalam musik itu sendiri, tetapi kehadirannya lebih karena interpretasi pendengarnya secara subjektif. Artinya, emosi tidak menjadi bahasan dalam estetika musik. Meskipun Hanslick mengakui bahwa musik punya kemampuan untuk “membangkitkan emosi”, tetapi itu tidak berarti bahwa musik, secara inheren, merepresentasikan suatu emosi. 

Kritik terhadap Pandangan Hanslick 

Hanslick bisa dikatakan membawa kita pada suatu absolutisme musik. Masa depan musik, menurut Hanslick, adalah terletak murni pada bentuknya. Tentu Hanslick memberikan sumbangsih kuat terhadap pemikiran mengenai musik, untuk menghindari kita dari pandangan psikologisme tentang musik seolah-olah musik bisa dikaitkan dengan apapun (padahal, jangan-jangan keterkaitan tersebut adalah perasaan kita saja tentang apa yang “menyenangkan” dan yang “diinginkan”). Hanslick mengajak kita untuk secara murni mengarahkan intensi pada unsur-unsur musikal itu sendiri dan mengeliminasi segala kemungkinan yang subjektif. 

Meski masih dianggap suatu pemikiran penting di dalam dunia musik, kita bisa mengajukan kritik pada pandangan Hanslick yaitu sebagai berikut: 

  1. Hanslick berfokus pada musik dalam kategori tertentu yang sangat spesifik seperti misalnya karya “tinggi” dalam musik barok dan romantik, tetapi mengabaikan – atau bisa dikatakan, meremehkan – jenis musik lainnya yang berkembang lebih organik dan punya peran sebagai bagian dari aspek kultural (misalnya, musik untuk ritual, musik untuk hiburan). Hanslick mengabaikan kenyataan musik sebagai fenomena universal yang ada di berbagai kebudayaan dengan fungsinya masing-masing. 
  2. Hanslick pada titik tertentu mereduksi musik pada sebatas suara dan pergerakannya dan melupakan musik sebagai suatu simbol yang memediasi ekspresi komposer dengan pendengarnya. Musik, dalam dimensi tertentu, bisa dikatakan sebagai “emanasi” dari alam pikiran si komposer. Dengan demikian, yang penting bukanlah si musik itu sendiri – karena musik hanya kendaraan saja –, tetapi integrasi dari totalitas pengalaman si komposer yang melebur bersama pengalaman si pendengar. 
  3. Aspek subjektivitas pendengar diabaikan oleh Hanslick sebagai sesuatu yang bernuansa psikologis dan “bukan musik”. Padahal, di sisi lain, pemaknaan dan konstruksi pendengar bisa memberi kekayaan bagi si musik itu sendiri. Misalnya, bisakah karya Mozart menjadi agung jika bukan dibesar-besarkan oleh pendengarnya, baik yang benar-benar mengerti unsur musikal dalam musik Mozart, ataupun yang menyukai Mozart secara personal (bukan karena musiknya, tapi karena mitos tentang sosok Mozart)? Keduanya kadang tidak bisa benar-benar dipisahkan. 
  4. Dalam bahasa analisis yang digunakan oleh Hanslick, ia sendiri tidak bisa melepaskan diri dari pernyataan “sastrawi” dan tidak bisa menghindar dari menyebut komposer, misalnya, dalam tulisannya tentang simfoni Unfinished dari Schubert tahun 1865: “Saat, setelah beberapa perkenalan, klarinet dan oboe dalam unison memulai kantilena dengan lemah lembut di atas bisikan biola, setiap anak mengenali si komposer, dan terdengar suara ‘Schubert’ yang dibisikkan di antara para audiens.” Hal ini sedikit banyak menunjukkan kontradiksi dalam pendekatan analitik Hanslick.

Daftar Referensi 

Beaney, M. (Ed.). (2013, 6). The Oxford Handbook of The History of Analytic Philosophy. Oxford: Oxford University Press.

Grimes, N., Donovan, S., & Marx, W. (Eds.). (2013). Rethinking Hanslick: Music, Formalism, and Expression. Rochester: University of Rochester Press. Retrieved from www.urpress.com. 


Comments

Popular posts from this blog

Makanya, Mikir! (2025): Cara Populer Menghidupkan Neoliberalisme Intelektual dan "Filsafat Babi"

Makanya, Mikir! karya Cania Citta dan Abigail Limuria telah menjadi salah satu buku nonfiksi yang paling disukai oleh pembaca muda dalam beberapa bulan terakhir. Semangat logika, rasionalitas, dan berpikir kritis adalah pilar dalam buku ini. Sebuah seruan yang menyejukkan di tengah wacana publik yang penuh dengan perselisihan politik dan emosi. Namun, di balik ajakan yang baik itu, ada masalah: buku yang menyerukan ajakan “berpikir kritis” ini justru hampir tak pernah menjadi objek pikiran kritis itu sendiri.  Penerimaannya di tempat umum menunjukkan paradoks yang menarik. Buku ini segera disambut sebagai bacaan yang cerdas tanpa perlu diuji berkat branding intelektual para penulisnya, dua figur yang terkenal di media sosial karena sikap rasional dan ilmiah mereka. Ulasan di toko buku online dan media sosial nyaris semuanya memuji. Di sinilah ironi itu muncul: sebuah buku yang mengajak untuk tidak mudah percaya , justru diterima karena kepercayaan penuh terhadap otoritas...

Komentar atas Madilog (Bab Pendahuluan)

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362. Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu. Bagian pendahuluan Madilog menunjukkan bagaimana Tan Malaka menulis dengan kesadaran simbolik tentang keadaan bangsa yang belum merdeka. Ia menuliskan tanggal menurut tiga sistem yaitu Jepang, Eropa (Gregorian), dan Hijriah untuk menunjukkan bahwa Indonesia belum memiliki “waktu” dan identitasnya sendiri. Artinya, bangsa ini belum berdiri sebagai subjek sejarah yang otonom; masih bergantung pada sistem dan penanggalan asing. Dengan cara ini, Tan Malaka menyindir kondisi kolonial dan menggugah kesadaran tent...

Apa yang Sedang Dikerjakan Martin Suryajaya dalam Principia Logica?

Buku Principia Logica (2022) terbitan Gang Kabel adalah perluasan disertasi Martin Suryajaya yang berhasil dipertahankan akhir tahun 2021 demi mendapatkan gelar doktor filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku tersebut tampak “angker” kemungkinan atas dua alasan: tebalnya yang mencapai delapan ratus-an halaman (dua kali lipat disertasi Martin) dan juga judulnya. Judul tersebut mengandung kata “logica”, yang bisa terbayang isinya adalah tentang logika, tetapi lebih dari itu, logika yang dibahas adalah hal-hal prinsipilnya (“ principia ”). Mengapa menakutkan? Logika sendiri sudah dipandang sebagai hal prinsipil dalam berpikir, sementara yang akan dibahas Martin adalah hal prinsipil yang melandasi logika, sehingga tergambar bahwa isinya adalah: hal prinsipil tentang hal prinsipil .  Atas dasar itu, saya merasa perlu untuk membacanya sampai tuntas dan menuliskan kembali dalam suasana yang “tidak terlalu angker”, supaya setidaknya para pembaca yang kurang familiar dengan t...